BANYUWANGI, KOMPAS.com - Kehidupan dunia yang sering menjadi tujuan utama manusia sejatinya hanyalah sementara.
Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Ankabut ayat 64.
Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Ahsanul Falihin, mengatakan bahwa surah tersebut mengingatkan bahwa kehidupan dunia tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan, sedangkan kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang sebenarnya.
Allah SWT berfirman:
وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ ٦٤
"Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya seandainya mereka mengetahui." (QS. Al-Ankabut: 64)
Baca juga: Khutbah Jumat 5 Juni 2026: Amal Saleh, Investasi Terbaik di Akhirat
Surah itu juga disebutnya memberikan gambaran yang sangat jelas tentang perbandingan antara kehidupan dunia dan akhirat.
"Kata al-hayawan dalam ayat ini bermakna kehidupan yang sejati, kehidupan yang kekal abadi, yang tidak diikuti kematian dan kenikmatannya tidak akan pernah hilang. Ini berbeda dengan kehidupan dunia yang sifatnya sementara dan akan berakhir," ujarnya.
Menurutnya, manusia sering kali terlalu sibuk mengejar kesenangan dunia yang sesaat hingga melupakan kehidupan akhirat yang jauh lebih kekal.
"Allah menyebut kehidupan dunia sebagai lahwun wa la'ib, yakni senda gurau dan permainan. Bukan berarti dunia tidak penting, tetapi menunjukkan bahwa seluruh kesenangan dan gemerlap dunia pada akhirnya akan sirna. Karena itu seorang muslim hendaknya menjadikan dunia sebagai sarana untuk meraih kebahagiaan akhirat," katanya.
Ia juga menyoroti penutup ayat yang berbunyi law kanu ya'lamun atau "seandainya mereka mengetahui".
Menurutnya, kalimat tersebut merupakan ajakan agar manusia menggunakan akal dan ilmunya untuk merenungkan hakikat kehidupan.
"Seandainya manusia benar-benar memahami dengan ilmu yang benar tentang hakikat dunia dan akhirat, tentu mereka tidak akan lebih memilih kenikmatan dunia yang fana dibandingkan pahala dan kebaikan akhirat yang kekal abadi," ungkapnya.
Baca juga: Doa Saat Membasuh Kaki Ketika Wudhu agar Selamat di Shirath Akhirat
Melalui ayat ini, umat Islam diajak untuk menata kembali prioritas hidup.
Kesuksesan, harta, jabatan, maupun berbagai kenikmatan dunia tetap dapat diusahakan, namun tidak boleh membuat seseorang lalai dari tujuan utama, yaitu mencari rida Allah dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan yang sesungguhnya bukanlah kehidupan yang dijalani saat ini, melainkan kehidupan di akhirat yang kekal dan tidak akan berakhir.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang