Editor
KOMPAS.com - Ketika suatu wilayah mengalami kemarau panjang dan kekeringan, Islam mengajarkan umatnya untuk memohon pertolongan kepada Allah SWT melalui berbagai ikhtiar, salah satunya dengan melaksanakan shalat istisqa.
Shalat istisqa merupakan shalat sunnah yang dilakukan secara berjamaah dengan tujuan memohon agar Allah SWT menurunkan hujan.
Ibadah ini telah menjadi tuntunan dalam syariat Islam ketika masyarakat menghadapi kesulitan akibat minimnya curah hujan yang berdampak pada kehidupan manusia maupun makhluk hidup lainnya.
Baca juga: Kekeringan dan Karhutla Meluas, Warga Aceh Barat Gelar Shalat Istisqa
Lalu, bagaimana tata cara pelaksanaan shalat istisqa yang dianjurkan dalam Islam?
Shalat istisqa adalah shalat sunnah yang dilaksanakan untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT saat terjadi kekeringan atau kemarau panjang.
Pelaksanaan shalat ini dilakukan secara berjamaah dan diikuti dengan khutbah yang berisi ajakan untuk memperbanyak istighfar, bertaubat, serta memohon ampunan kepada Allah SWT.
Baca juga: Kabut Asap Riau Makin Parah, Ribuan Warga Rokan Hulu Minta Hujan lewat Shalat Istisqa
Sebelum pelaksanaan shalat istisqa, warga dianjurkan untuk berpuasa selama tiga hari.
Puasa tersebut menjadi bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT serta memperbanyak doa dan permohonan agar hujan segera diturunkan.
Setelah tiga hari berpuasa, seluruh masyarakat berkumpul pada hari keempat untuk melaksanakan shalat istisqa secara berjamaah.
Shalat istisqa dilaksanakan di lapangan pada waktu pagi, sebagaimana pelaksanaan shalat Idul Fitri dan Idul Adha.
Sebelum memulai shalat, jamaah membaca niat shalat istisqa sebagai berikut:
أُصَلِّي سُنَّةَ الإِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا/مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى
Pelaksanaan shalat istisqa dilakukan sebanyak dua rakaat dengan tata cara yang sama seperti shalat Id.
Setelah takbiratul ihram, imam membaca takbir tujuh kali pada rakaat pertama.
Kemudian pada rakaat kedua membaca takbir lima kali sebelum melanjutkan bacaan dan gerakan shalat hingga salam.
Setelah shalat selesai dilaksanakan, khatib menyampaikan khutbah yang didengarkan oleh seluruh jamaah.
Khutbah shalat istisqa terdiri atas dua khutbah yang dipisahkan dengan duduk sejenak di antara keduanya.
Rukun khutbah dan tata caranya sama seperti khutbah shalat Idul Fitri maupun Idul Adha.
Pada khutbah pertama, khatib membaca takbir sebanyak sembilan kali.
Sementara pada khutbah kedua, khatib membaca takbir sebanyak tujuh kali.
Pada akhir khutbah pertama maupun khutbah kedua, khatib disunnahkan membaca doa khusus.
Doa tersebut dilakukan dengan cara membalikkan badan dan membelakangi jamaah untuk menghadap kiblat.
Khatib juga disunnahkan menukar posisi selendang atau sorban yang dikenakan di pundak sambil mengangkat kedua tangan.
Doa dipanjatkan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar menurunkan hujan dan mengakhiri kekeringan yang sedang terjadi.
Dalam khutbahnya, khatib dianjurkan mengajak umat Islam untuk memperbanyak taubat dan istighfar.
Jamaah juga diingatkan agar memohon ampun atas segala dosa serta memperbanyak doa kepada Allah SWT.
Hal tersebut dilakukan dengan harapan Allah SWT mengabulkan permohonan umat Islam dan memberikan hujan yang membawa manfaat bagi manusia, hewan, tumbuhan, dan seluruh makhluk hidup.
Shalat istisqa merupakan salah satu bentuk ikhtiar spiritual yang diajarkan dalam Islam saat menghadapi kemarau panjang dan kekeringan.
Melalui shalat, doa, istighfar, serta taubat yang dilakukan secara bersama-sama, umat Islam memohon rahmat Allah SWT agar menurunkan hujan dan menghadirkan keberkahan bagi seluruh makhluk di bumi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang