Editor
KOMPAS.com - Ungkapan Masya Allah atau Masyaallah merupakan salah satu zikir yang paling sering diucapkan umat Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Ucapan ini biasanya dilafalkan saat melihat sesuatu yang indah, menakjubkan, atau menggembirakan sebagai bentuk pengakuan bahwa semua nikmat terjadi atas kehendak Allah SWT.
Meski sangat akrab di telinga, tidak sedikit orang yang belum memahami makna sebenarnya dari ungkapan Masya Allah beserta dasar ajarannya dalam Al-Qur'an.
Baca juga: Beda Arti Masya Allah dan Subhanallah Serta Waktu yang Tepat Mengucapkannya
Lantas, apa arti Masya Allah dan bagaimana penjelasan ulama mengenai makna kalimat tersebut?
Kata Masya Allah berarti sesuatu yang terjadi atau terwujud karena dikehendaki oleh Allah SWT.
Baca juga: Masya Allah Arti, Hikmah, dan Ketika Sebaiknya Diucapkan
Ungkapan ini diucapkan ketika seseorang melihat sesuatu yang menakjubkan sebagai bentuk pengakuan bahwa seluruh keindahan, nikmat, dan karunia berasal dari kehendak Allah semata.
Misalnya, ketika seseorang memasuki kebunnya dan melihat tumbuh-tumbuhan yang menghijau serta aneka buah yang segar, maka dianjurkan mengucapkan Masya Allah sebagai bentuk syukur dan pengakuan atas kebesaran Allah.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Kahfi ayat 39:
وَلَوْلَآ اِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاۤءَ اللّٰهُ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ
Artinya: "Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan 'Masyaallah, la quwwata illa billah' (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud), tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah." (QS Al-Kahfi: 39)
Ayat tersebut menunjukkan anjuran mengucapkan Masya Allah ketika menyaksikan nikmat dan keindahan sebagai bentuk pengakuan bahwa semua itu terjadi atas kehendak Allah SWT.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin dalam kitab Tafsir Al Quranul Karim Surat Al Kahfi menjelaskan bahwa kalimat "Masya Allah" (ما شاء الله) memiliki dua makna.
Penjelasan pertama, kata "maa" (ما) diposisikan sebagai isim maushul (kata sambung) yang berstatus sebagai khabar (predikat), sedangkan mubtada' (subjek)-nya disembunyikan, yaitu "hadzaa" (هذا).
Dengan demikian, bentuk lengkap kalimat tersebut menjadi:
هذا ما شاء الله
Latin: hadzaa maa syaa Allah
Artinya: "Inilah yang dikehendaki oleh Allah."
Penjelasan kedua, kata "maa" (ما) dipahami sebagai maa syarthiyyah (kata yang mengindikasikan sebab), sedangkan frasa "syaa Allah" (شاء الله) berstatus sebagai fi'il syarath.
Adapun jawab syarath-nya disembunyikan, yaitu "kaana" (كان).
Dengan demikian, bentuk lengkap kalimat tersebut adalah:
ما شاء الله كان
Latin: maa syaa Allahu kaana
Artinya: "Apa yang dikehendaki oleh Allah, maka itulah yang akan terjadi."
Berdasarkan penjelasan tersebut, kalimat Masya Allah memiliki dua makna yang saling melengkapi.
Pertama, "Inilah yang dikehendaki oleh Allah."
Kedua, "Apa yang dikehendaki oleh Allah, maka itulah yang akan terjadi."
Kedua makna tersebut menegaskan bahwa segala nikmat, keindahan, dan peristiwa yang terjadi di alam semesta berlangsung atas kehendak Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang