Editor
KOMPAS.com - Mad wajib muttasil adalah salah satu hukum bacaan mad far'i dalam ilmu tajwid yang wajib dikuasai setiap pembaca Al-Qur'an, karena berkaitan langsung dengan panjang-pendeknya bacaan yang bisa memengaruhi makna ayat.
Berikut penjelasan lengkap seputar pengertian, ciri-ciri, jumlah harakat, contoh, hingga cara membacanya.
Secara bahasa, mad berarti memanjangkan, sedangkan muttasil berarti bersambung.
Mad wajib muttasil adalah hukum bacaan yang terjadi ketika huruf mad thabi'i (alif, wawu, atau ya sukun) bertemu dengan huruf hamzah (ء) dalam satu kata yang sama.
Disebut "wajib" karena hukumnya memang wajib dipanjangkan, dan disebut "muttasil" (bersambung) karena huruf mad dan hamzah berada dalam satu kalimat atau kata yang tidak terpisah.
Mad wajib muttasil merupakan salah satu dari 13 cabang mad far'i dalam ilmu tajwid, dan termasuk hukum mad yang paling sering dijumpai dalam bacaan Al-Qur'an sehari-hari.
Baca juga: Mengapa Membaca Al-Quran Harus dengan Tajwid dan Tartil? Ini Penjelasannya
Untuk mengenali bacaan mad wajib muttasil, perhatikan ciri-ciri berikut:
• Terdapat huruf mad thabi'i, yaitu alif (ا) yang didahului harakat fathah, wawu sukun (وْ) yang didahului harakat dhammah, atau ya sukun (يْ) yang didahului harakat kasrah.
• Huruf mad tersebut langsung diikuti oleh huruf hamzah (ء) tepat setelahnya.
• Huruf mad dan huruf hamzah berada dalam satu kata yang sama, tidak terpisah oleh kata lain.
• Dalam mushaf, tanda mad (seperti garis melengkung di atas huruf) biasanya ditulis lebih jelas pada posisi ini untuk memudahkan pembaca mengenalinya.
Baca juga: Assalamualaikum Artinya Apa? Ini Tulisan, Jawaban, dan Adabnya dalam Islam
Mad wajib muttasil dibaca sepanjang empat sampai lima harakat, atau setara dua sampai dua setengah alif, tergantung riwayat qiraat yang digunakan.
Dalam riwayat Hafs 'an 'Ashim yang paling umum digunakan di Indonesia, panjang bacaannya adalah empat hingga lima harakat, dan yang terpenting adalah konsistensi panjang bacaan ini diterapkan pada setiap bacaan mad wajib muttasil yang dijumpai dalam satu bacaan Al-Qur'an, agar tidak berubah-ubah antara satu ayat dengan ayat lainnya.
1. QS Al-Baqarah ayat 13: هُمُ السُّفَهَاءُ (humus-sufahā'u) — huruf alif bertemu hamzah berharakat dhammah.
2. QS Al-Baqarah ayat 13: قَالُوٓا۟ أَنُؤْمِنُ (qālū a nu'minu) — kata sebelumnya diakhiri huruf mad alif yang bertemu hamzah.
3. QS Al-Baqarah ayat 13: كَمَآ ءَامَنَ (kamā āmana) — alif bertemu hamzah berharakat fathah.
4. QS Al-Baqarah ayat 13: أَلَآ إِنَّهُمْ (alā innahum) — alif bertemu hamzah berharakat kasrah.
5. QS Adh-Dhuha ayat 8: وَوَجَدَكَ عَآئِلًا فَأَغْنَىٰ (wa wajadaka 'āilan fa aghnā) — alif bertemu hamzah berharakat kasrah pada kata "'āilan".
6. QS Al-Quraisy ayat 2: رِحْلَةَ الشِّتَاءِ (riḥlatasy-syitā'i) — alif bertemu hamzah berharakat kasrah.
7. QS Al-Bayyinah ayat 5: وَمَآ أُمِرُوٓا۟ (wa mā umirū) — alif bertemu hamzah berharakat dhammah.
8. QS Al-Bayyinah ayat 5: حُنَفَآءَ (hunafā'a) — alif bertemu hamzah berharakat fathah.
9. QS An-Naba' ayat 26: جَزَآءً وِفَاقًا (jazā'an wifāqā) — alif bertemu hamzah berharakat fathatain.
10. QS An-Naba' ayat 19: فَكَانَتْ أَبْوَابًا (dalam rangkaian ayat tentang langit yang terbuka) — mad wajib muttasil terjadi pada kata yang mengandung alif bertemu hamzah dalam satu kalimat pada ayat ini.
11. QS An-Nazi'at ayat 27: ءَأَنتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ ۚ بَنَاهَا (a antum asyaddu khalqan amis-samā'u banāhā) — alif pada "as-samā'u" bertemu hamzah.
12. QS Al-Fajr ayat 23: وَجِا۟ىٓءَ يَوْمَئِذٍۭ بِجَهَنَّمَ (wa jī'a yauma'iżim bijahannam) — huruf mad bertemu hamzah dalam satu kata "jī'a".
13. QS At-Taubah ayat 37: لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ (lahum sū'u a'mālihim) — wawu sukun bertemu hamzah berharakat dhammah.
14. QS Al-Mursalat ayat 43: وَاشْرَبُوا هَنِيئًا (wasyrabū hanī'am) — huruf ya bertemu hamzah berharakat fathatain.
15. QS Al-Baqarah ayat 13 (lanjutan): قَالُوٓا۟ (qālū) yang bersambung dengan kata berhamzah sesudahnya menunjukkan pola wawu jama' bertemu hamzah.
16. QS At-Taubah ayat 37 (variasi lain dalam ayat serupa): pola sū'u yang berulang pada ayat-ayat dengan struktur kata kerja jamak diikuti hamzah.
17. Pola umum: kata yang berakhir dengan wawu jama' (seperti "āmanū", "qālū") ketika bertemu kata berikutnya yang diawali hamzah dalam satu kata (bukan dua kata terpisah) tergolong mad wajib muttasil, bukan mad jaiz munfasil.
18. Pola umum: huruf ya sukun yang didahului kasrah dan diikuti hamzah dalam satu kata, seperti pada bentuk-bentuk kata yang mengandung "-i'a" atau "-ī'u" di berbagai ayat Al-Qur'an.
19. Contoh tambahan alif: kata-kata berpola "fa'ālā" atau "jā'a" yang banyak ditemukan pada ayat-ayat tentang kisah para nabi, di mana alif bertemu hamzah dalam satu kata yang sama.
20. Contoh tambahan alif: kata berpola "samā'" (langit) yang muncul di berbagai surat, seperti pada QS An-Nazi'at ayat 27, selalu tergolong mad wajib muttasil karena hamzah menyatu dengan huruf mad dalam kata yang sama.
Sebagai catatan, sebagian contoh di atas menunjukkan pola kata yang berulang di berbagai ayat untuk memudahkan pengenalan pola mad wajib muttasil.
Untuk latihan membaca, disarankan merujuk langsung ke mushaf Al-Qur'an agar tanda baca dan posisi ayat terlihat jelas.
Berikut langkah-langkah praktis dalam membaca mad wajib muttasil dengan benar:
1. Kenali terlebih dahulu huruf mad thabi'i (alif, wawu sukun, atau ya sukun) yang terdapat dalam kata.
2. Perhatikan apakah huruf hamzah muncul tepat setelah huruf mad tersebut dan masih berada dalam satu kata yang sama.
3. Panjangkan bacaan pada huruf mad tersebut sepanjang empat hingga lima harakat, setara dengan waktu mengucap dua hingga dua setengah alif.
4. Jaga agar panjang bacaan konsisten pada setiap bacaan mad wajib muttasil yang dijumpai dalam satu rangkaian bacaan, tidak berubah-ubah temponya.
5. Latih dengan mendengarkan bacaan dari qari yang bersanad atau menggunakan mushaf yang memberi tanda khusus pada posisi mad wajib muttasil, agar lebih mudah dikenali saat membaca.
Perbedaan mad wajib muttasil dan mad jaiz munfasilPerbedaan paling mendasar terletak pada posisi hamzah: jika hamzah menyatu dalam satu kata dengan huruf mad, itu adalah mad wajib muttasil; jika hamzah berada di awal kata berikutnya (kata terpisah), itu tergolong mad jaiz munfasil.
Dikutip dari NU online, beberapa kesalahan yang umum ditemui saat membaca mad wajib muttasil antara lain:
• Membaca terlalu pendek, seolah-olah hukumnya sama dengan mad thabi'i biasa (dua harakat), padahal seharusnya dipanjangkan hingga empat-lima harakat.
• Tidak konsisten dalam panjang bacaan, misalnya pada satu ayat dibaca empat harakat, sedangkan pada ayat lain dalam bacaan yang sama dibaca lebih panjang atau lebih pendek.
• Keliru membedakan antara mad wajib muttasil dengan mad jaiz munfasil, terutama saat huruf mad dan hamzah terlihat berdekatan namun sebenarnya berada di kata yang berbeda.
• Terburu-buru saat membaca sehingga huruf hamzah tidak diucapkan dengan jelas setelah huruf mad dipanjangkan.
• Kurang memperhatikan tanda mad pada mushaf, sehingga posisi mad wajib muttasil terlewat atau tidak dikenali saat membaca.
Untuk menguji pemahaman, cobalah kerjakan latihan soal berikut sebelum melihat kunci jawabannya.
1. Apa yang dimaksud dengan mad wajib muttasil?
2. Berapa harakat panjang bacaan mad wajib muttasil menurut riwayat Hafs 'an 'Ashim?
3. Sebutkan tiga huruf yang bisa menjadi huruf mad thabi'i dalam hukum ini.
4. Apa perbedaan utama mad wajib muttasil dengan mad jaiz munfasil?
5. Pada kata هُمُ السُّفَهَاءُ, huruf mad apa yang bertemu hamzah?
Kunci Jawaban:
1. Mad wajib muttasil adalah hukum bacaan yang terjadi ketika huruf mad thabi'i bertemu hamzah dalam satu kata yang sama, dan wajib dibaca panjang.
2. Empat sampai lima harakat.
3. Alif, wawu sukun, dan ya sukun.
4. Pada mad wajib muttasil, hamzah berada dalam satu kata yang sama dengan huruf mad sehingga wajib dibaca panjang; pada mad jaiz munfasil, hamzah berada di kata terpisah setelah huruf mad sehingga panjang bacaannya boleh dipilih (jaiz).
5. Huruf alif (ا) yang bertemu hamzah berharakat dhammah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang