Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menag Tegaskan Harus Efisiensi Anggaran untuk Hadapi Krisis Global

Kompas.com, 12 Januari 2026, 21:01 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengingatkan jajaran Kementerian Agama (Kemenag) untuk terus mencermati perkembangan dinamika global, mengingat situasi internasional yang tidak bisa dipandang terpisah dari arah kebijakan nasional, termasuk dalam perencanaan dan pengelolaan anggaran kementerian.

Dalam Rapat Koordinasi Kebijakan Strategis yang digelar di Jakarta, Senin (12/1/2026), Menag menyinggung berbagai konflik dan ketidakstabilan politik di beberapa negara seperti Venezuela, Iran, Sudan, Suriah, Yaman, dan Lebanon.

Menurutnya, kondisi tersebut meskipun terjadi di luar negeri, berpotensi memberi dampak serius terhadap ekonomi dunia dan Indonesia — termasuk efek pada harga energi, yang pada akhirnya memengaruhi stabilitas anggaran negara.

Baca juga: MUI Tegaskan Oktober 2026 Batas Akhir Wajib Halal: Jangan Lagi Tunda Hak Konsumen

“Kita semua harus mengamati perkembangan isu global yang lambat laun juga akan berpengaruh pada negara kita,” ujar Menag Nasaruddin Umar dalam dialog bersama para pejabat Kemenag.

Kemenag Diminta Responsif dan Was-Aware

Menag menekankan bahwa Kementerian Agama harus lebih adaptif, waspada, dan responsif terhadap perubahan global.

Ia menyampaikan bahwa dalam perencanaan program serta alokasi anggaran, semua unit kerja di Kemenag perlu memperhitungkan dampak ketidakstabilan ekonomi dan politik internasional.

Menanggapi arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai efisiensi anggaran, Menag juga meminta pembatasan anggaran perjalanan dinas serta memaksimalkan penggunaan teknologi komunikasi daring untuk kegiatan yang tidak mendesak.

“Kita diimbau untuk melakukan efisiensi, mengurangi perjalanan dinas yang sekiranya tidak diperlukan. Kegiatan yang memungkinkan sebagian pesertanya tidak hadir dapat dilaksanakan secara daring,” ujar Nasaruddin.

Baca juga: Awal Puasa Ramadhan 2026 Berpotensi Beda, Umat Diimbau Tetap Rukun

Ia bahkan menyatakan pentingnya mengurangi kebiasaan mengundang pejabat daerah ke Jakarta jika koordinasi bisa dilakukan secara virtual, yang dinilai dapat menghemat waktu, biaya, dan anggaran kementerian.

Data Akurat Kunci Kebijakan Efektif

Selain itu, Menag menyoroti pentingnya penyusunan data yang akurat, mutakhir, dan sinkron antar-unit kerja di lingkungan Kemenag.

Ia mengingatkan bahwa data yang disampaikan ke publik maupun instansi lain harus bersifat kuantitatif, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com