Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Dahnil soal Jamaah Haji Asal Lampung, Jual Rumah dan Hidup Menumpang demi Berhaji

Kompas.com, 16 Januari 2026, 09:45 WIB
Pythag Kurniati,
Khairina

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com- Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia Dahnil Anhar Simanjuntak bercerita mengenai perjuangan jamaah haji Indonesia demi bisa menuju ke Baitullah.

Salah satunya adalah seorang haji asal Lampung yang rela menjual rumahnya dan hidup menumpang demi memenuhi panggilan Allah ke Tanah Suci.

"Saya ingat Haji 2025 lalu. Saya berdialog sama jamaah. Seorang jamaah aaal Lampung. Saya tanya, beliau sudah antre (berhaji) selama 25 tahun," kata Dahnil Anzar saat memimpin apel malam bersama calon petugas haji 2026, Kamis (15/1/2026) malam.

Baca juga: Wamenhaj Dahnil Yakin Presiden Prabowo Gembira jika Lihat Semangat Petugas Haji 2026

Haji Indonesia tersebut bercerita bahwa dirinya menjual rumah beserta sawahnya demi bisa membayar setoran awal.

"Hasil itu dibagikan ke anak-anaknya sisanya dia beli rumah kecil dan Rp 25 jutanya digunakan untuk setoran awal haji. Akhirnya 2025 (beliau) berangkat," papar Wamenhaj.

Namun saat tiba masa bapak tersebut dipanggil antreannya, kembali muncul masalah. Dia tidak memiliki uang untuk melunasi biaya haji.

Bapak tersebut akhirnya kembali menjual satu-satunya rumah yang dia miliki demi bisa menunaikan panggilan Allah.

"Saat saya tanya, Bapak tinggal di mana setelah naik haji? Beliau bilang, menumpang di rumah anak-anaknya. Bang Dahnil, kata bapak itu, saya sudah sepuh dosa saya sudah terlalu banyak. Jamaah seperti itulah yang akan Bapak Ibu layani," katanya pada ribuan calon petugas haji 2026 yang mengikuti apel.

Baca juga: Dahnil: Penegak Hukum Jangan Ragu Tangkap ASN Kemenhaj yang Korupsi

Dahnil pun meminta agar petugas Haji 2026 menjalankan tugas dengan ikhlas, tulus, dan maksimal.

"Perjuangan seperti bapak tersebut ada di tangan para petugas haji oleh sebab itu amanah sebagau petugas haji harus ditunaikan sebaik-baiknya," katanya.

Sekitar 1.600 calon petugas haji Indonesia menjalani pendidikan dan pelatihan (Diklat) berkonsep semi-militer selama 20 hari sejak 10 Januari 2026 hingga 30 Januari 2026. Diklat dilaksanakan di Asrama Pondok Gede, Jakarta.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com