Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Haji Tidak Selalu Mabrur, Ini Tanda dan Cara Agar Ibadah Diterima

Kompas.com, 21 April 2026, 11:24 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Ibadah haji sering dipahami sebagai puncak perjalanan spiritual seorang muslim.

Ia bukan hanya tentang hadir di Tanah Suci, melainkan juga tentang perubahan diri setelah kembali ke tanah air. Namun, satu pertanyaan penting kerap muncul, apakah semua haji pasti mabrur?

Jawabannya tidak selalu. Dalam khazanah keilmuan Islam, dikenal istilah haji mabrur (diterima) dan haji mardud (ditolak).

Perbedaan keduanya tidak hanya terletak pada sah atau tidaknya ritual, tetapi juga pada kualitas niat, kehalalan bekal, serta dampak moral setelah ibadah selesai.

Haji Tidak Otomatis Mabrur

Secara fikih, seseorang bisa saja menunaikan seluruh rukun haji dengan sah. Namun dalam perspektif spiritual, belum tentu ia mencapai derajat mabrur.

Dalam buku Dakwah Bil Qolam karya Mohammad Mufid dijelaskan bahwa haji dapat menjadi tidak mabrur apabila pelaksanaannya tercampur dengan perbuatan yang diharamkan, baik sebelum maupun selama ibadah berlangsung.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Imam Al-Ghazali dalam kitab Asrar al-Hajj. Ia menekankan bahwa hakikat haji bukan sekadar gerakan fisik, tetapi perjalanan batin yang menuntut keikhlasan dan kesucian sumber penghidupan.

Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah menggambarkan kondisi orang yang berhaji dengan cara yang tidak benar.

Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa orang yang berangkat dengan harta haram akan mendapatkan penolakan, meskipun secara lahiriah ia telah melafalkan talbiyah dan menunaikan manasik.

Pesan ini menegaskan bahwa haji bukan sekadar ritual, melainkan ibadah yang sangat terkait dengan integritas hidup seseorang.

Baca juga: Apa Saja Rukun Haji? Ini 6 Rukun Penentu Sah Ibadah Haji

Penyebab Haji Tidak Mabrur

Tidak sedikit jemaah yang tanpa sadar melakukan kesalahan yang dapat mengurangi bahkan menggugurkan nilai hajinya.

Dalam Ensiklopedia Haji & Umrah karya KH Ahmad Chodri Romli dijelaskan beberapa faktor utama yang menyebabkan haji tidak mencapai derajat mabrur.

Niat yang Tidak Ikhlas

Haji yang dilakukan demi gengsi, status sosial, atau pencitraan akan kehilangan nilai spiritualnya.

Dalam Islam, niat menjadi fondasi utama setiap amal. Ketika niat bergeser dari ibadah menjadi kepentingan duniawi, maka substansi haji pun ikut berubah.

Tidak Memahami Manasik dengan Benar

Kurangnya pengetahuan tentang tata cara haji sering membuat jemaah melakukan kesalahan. Dalam Fiqih Haji karya Sayyid Sabiq, dijelaskan bahwa pemahaman terhadap rukun dan wajib haji merupakan syarat penting untuk menjaga kesempurnaan ibadah.

Tetap Melakukan Maksiat

Perilaku buruk seperti berkata kasar, berbohong atau menyakiti orang lain menjadi penghalang utama diterimanya haji. Padahal, salah satu tujuan utama haji adalah penyucian diri dari dosa.

Ciri-Ciri Haji Belum Mabrur

Menilai apakah haji seseorang mabrur memang bukan perkara mudah. Namun, para ulama memberikan indikator yang bisa menjadi bahan refleksi.

Dalam hadis riwayat Imam Ahmad, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa haji mabrur ditandai dengan perilaku sosial yang baik, seperti memberi makan dan menebarkan kedamaian.

Berdasarkan berbagai riwayat dan penjelasan ulama, berikut beberapa tanda haji yang belum mabrur:

Tidak Menjaga Lisan

Perkataan yang kasar, suka mencela, atau menyakiti orang lain menunjukkan bahwa nilai haji belum meresap dalam diri. Padahal, perubahan akhlak adalah indikator utama keberhasilan ibadah.

Masih Menebar Konflik

Alih-alih membawa ketenangan, seseorang justru masih mudah tersulut emosi dan memicu pertengkaran. Ini bertentangan dengan semangat haji yang mengajarkan persaudaraan dan kesabaran.

Minim Kepedulian Sosial

Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menekankan bahwa ibadah yang benar akan melahirkan empati. Jika seseorang tetap abai terhadap sesama, maka ada yang perlu dievaluasi dari ibadahnya.

Baca juga: Kumpulan Doa Berangkat Haji Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya

Cara Meraih Haji Mabrur

Jika haji tidak otomatis mabrur, lalu bagaimana cara meraihnya?

Para ulama sepakat bahwa haji mabrur adalah hasil dari kombinasi antara pelaksanaan yang benar dan perubahan diri yang nyata.

Meluruskan Niat Sejak Awal

Segala sesuatu dimulai dari niat. Dalam Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi menegaskan pentingnya keikhlasan sebagai kunci diterimanya amal.

Menggunakan Harta yang Halal

Bekal haji harus berasal dari sumber yang bersih. Harta yang haram tidak hanya merusak ibadah, tetapi juga menghalangi keberkahan.

Memahami Ilmu Manasik

Belajar sebelum berangkat menjadi keharusan. Dengan memahami setiap rukun dan wajib haji, jemaah dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan benar.

Menjaga Akhlak Selama dan Setelah Haji

Haji mabrur tidak berhenti di Makkah. Ia justru terlihat setelah seseorang kembali ke kehidupan sehari-hari. Perubahan sikap menjadi lebih sabar, jujur, dan peduli adalah tanda utama keberhasilannya.

Memperbanyak Amal Sosial

Memberi makan, membantu sesama, dan menyebarkan kedamaian merupakan ciri khas haji mabrur sebagaimana disebutkan dalam hadis.

Baca juga: Meninggalkan Wajib Haji: Sah atau Tidak Hajinya? Ini Penjelasan Lengkap, Termasuk Denda dan Keringanannya

Haji sebagai Titik Balik Kehidupan

Pada akhirnya, haji bukan sekadar perjalanan ritual tahunan, melainkan momentum transformasi diri. Ia mengajarkan kesederhanaan, kesabaran, dan ketundukan total kepada Allah.

Seorang muslim mungkin telah menyelesaikan seluruh rangkaian haji secara lahiriah. Namun pertanyaan yang lebih dalam adalah apakah hatinya ikut berubah?

Di situlah letak perbedaan antara haji yang sekadar selesai dan haji yang benar-benar mabrur.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Wamenhaj Minta Layanan Kesehatan Haji di Madinah Siaga Hadapi Jemaah Gelombang Kedua
Wamenhaj Minta Layanan Kesehatan Haji di Madinah Siaga Hadapi Jemaah Gelombang Kedua
Aktual
Jamaah Banyuwangi Wafat di Pemondokan Usai Jalani Ibadah di Armuzna
Jamaah Banyuwangi Wafat di Pemondokan Usai Jalani Ibadah di Armuzna
Aktual
Potensi Ziswaf Indonesia Tembus Rp343 Triliun, Sedekah Jadi Terbesar
Potensi Ziswaf Indonesia Tembus Rp343 Triliun, Sedekah Jadi Terbesar
Aktual
Reaksi Gus Irfan Lihat Jemaah Sulsel Berbaju Bling-bling di Bandara Jeddah: Ini Ciri Khas
Reaksi Gus Irfan Lihat Jemaah Sulsel Berbaju Bling-bling di Bandara Jeddah: Ini Ciri Khas
Aktual
5 Dzikir Pendek Berpahala Besar, Ringan di Lisan Berat di Timbangan
5 Dzikir Pendek Berpahala Besar, Ringan di Lisan Berat di Timbangan
Aktual
Mengapa Daging Dam Jemaah Haji Indonesia Tidak Dikirim ke Tanah Air? Ini Penjelasannya
Mengapa Daging Dam Jemaah Haji Indonesia Tidak Dikirim ke Tanah Air? Ini Penjelasannya
Aktual
Kenapa Makkah Disebut Tanah Haram? Ini Sejarah, Makna, dan Alasannya
Kenapa Makkah Disebut Tanah Haram? Ini Sejarah, Makna, dan Alasannya
Aktual
8 Dzikir dan Doa Ibu Hamil agar Anak Menjadi Saleh dan Berkah
8 Dzikir dan Doa Ibu Hamil agar Anak Menjadi Saleh dan Berkah
Aktual
3 Doa Menyambut Jamaah Haji Pulang dari Tanah Suci, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
3 Doa Menyambut Jamaah Haji Pulang dari Tanah Suci, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Aktual
Arab Saudi Hapus Paket D untuk Haji 2027, Ini Dampaknya bagi Jemaah
Arab Saudi Hapus Paket D untuk Haji 2027, Ini Dampaknya bagi Jemaah
Aktual
Kemenag Catat Sejarah Baru, 15 Perempuan Dilantik Jadi Kepala KUA
Kemenag Catat Sejarah Baru, 15 Perempuan Dilantik Jadi Kepala KUA
Aktual
Pedoman Pemulasaraan Jenazah dalam Islam, dari Memandikan hingga Pemakaman
Pedoman Pemulasaraan Jenazah dalam Islam, dari Memandikan hingga Pemakaman
Aktual
Menag Dorong Pesantren Tampil Menjawab Tantangan Masa Depan
Menag Dorong Pesantren Tampil Menjawab Tantangan Masa Depan
Aktual
3 Tingkatan Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani, Mengharap Ridha Allah Jadi yang Utama
3 Tingkatan Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani, Mengharap Ridha Allah Jadi yang Utama
Aktual
Marak Konvoi Penjemputan Haji, Kemenhaj Sumenep Minta Warga Tidak Berlebihan
Marak Konvoi Penjemputan Haji, Kemenhaj Sumenep Minta Warga Tidak Berlebihan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com