Editor
KOMPAS.com-Muhasabah atau introspeksi diri menjadi salah satu amalan penting yang ditekankan dalam Islam, terutama sebagai bekal menghadapi hisab di akhirat.
Melalui khutbah Jumat ini, khatib mengajak jamaah untuk menilai kembali perjalanan hidup, menahan hawa nafsu, serta mempersiapkan diri dengan ilmu, iman, dan takwa agar selamat dunia dan akhirat.
Berikut isi khutbah, dilansir dari laman MUI:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيْدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيْرُ، دَبَّرَ فَأَحْكَمَ التَّدْبِيْرَ، وَقَدَّرَ وَشَاءَ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً أَسْأَلُ رَبِّي لِي وَلَكُمْ بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ يُجِيْرََنَا مِنْ نَارِ السَّعِيْرِ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْهَادِي الْبَشِيْرُ، وَالْقَمَرُ الْمُنِيْرُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ،
عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، اِتَّقُوا اللهَ فَإِنَّ تَقْوَاهُ أَفْضَلُ مُكْتَسَبٍ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada seluruh jamaah agar senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala, Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta segala sesuatu, Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Maha Mengetahui apa pun yang tampak maupun tersembunyi.
Allah Ta’ala mengetahui seluruh keadaan hamba-Nya tanpa terkecuali.
Hamba yang beruntung adalah mereka yang senantiasa mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berpegang teguh pada petunjuk dan ajaran beliau.
Baca juga: Khutbah Jumat 2 Januari 2026: Waktu Semakin Cepat, Persiapkan Bekal untuk Akhirat
Allah Ta’ala berfirman:
ﵟوَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ
Artinya:
“Adapun orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsu, maka sesungguhnya surga adalah tempat tinggalnya.” (QS An-Nazi’at: 40–41)
Takut kepada hisab mendorong seorang hamba untuk menjauhi yang haram dan menunaikan kewajiban.
Menahan hawa nafsu berarti menolak dorongan yang mengajak pada keburukan dan bertentangan dengan syariat Allah.
Salah satu kunci agar seseorang mampu menahan hawa nafsu adalah dengan muhasabah diri secara jujur.
Muhasabah sejati terkadang terasa pahit karena menuntut keberanian untuk mengakui kesalahan dan memperbaikinya.
Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berpesan:
حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”
Baca juga: Khutbah Jumat 26 Desember 2025 Keutamaan Bulan Rajab
Barang siapa yang membiasakan muhasabah di dunia, maka hisabnya di akhirat akan terasa lebih ringan.
Jihad terbesar manusia bukan hanya melawan musuh di luar, tetapi melawan hawa nafsu, setan, dan godaan dunia.
Pertempuran ini berlangsung sepanjang hidup hingga ajal menjemput.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah bahkan menyadari bahwa godaan setan tidak berhenti hingga detik terakhir kehidupan.
Hal ini menjadi pengingat bahwa istiqamah harus dijaga sampai akhir hayat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
“Orang yang cerdas adalah yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR At-Tirmidzi)
Baca juga: Khutbah Jumat 19 Desember 2025: Kembali kepada Allah SWT sebagai Jalan Keselamatan
Muhasabah membutuhkan ilmu.
Tanpa ilmu, seseorang tidak akan mampu membedakan mana yang halal dan mana yang haram.
Dengan ilmu, iman, dan ketakwaan, seorang mukmin akan dimampukan Allah untuk menaklukkan hawa nafsu dan godaan setan.
Allah Ta’ala berfirman:
ﵟإِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ
Artinya:
“Jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS Muhammad: 7)
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ.
Baca juga: 5 Rukun Khutbah Jumat yang Wajib Diketahui dan Dipenuhi
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan memohon ampunan kepada Allah untuk seluruh kaum Muslimin.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
Ya Allah, ampunilah dosa kaum Muslimin dan Muslimat, mukminin dan mukminat, yang masih hidup maupun yang telah wafat.
Ya Allah, jauhkanlah negeri kami dan negeri kaum Muslimin dari bencana, wabah, fitnah, dan kezaliman, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
عِبَادَ اللهِ،
ﵟإِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ...
Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan, kebaikan, dan melarang perbuatan keji serta kemungkaran.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ
Ingatlah Allah, niscaya Allah mengingat kalian.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang