KOMPAS.com - Arab Saudi memperkenalkan kerangka kerja terbaru bagi relawan pertolongan pertama yang akan bertugas di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Program ini digagas oleh Otoritas Umum untuk Pengurusan Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi bersama Otoritas Bulan Sabit Merah Saudi, sebagai bagian dari langkah memperkuat layanan kesehatan serta menjamin keselamatan jamaah.
Mengutip laporan Saudi Press Agency (SPA), inisiatif tersebut bertujuan mendorong budaya kesukarelawanan sekaligus meningkatkan efektivitas respons darurat di dua masjid suci tersebut.
Langkah ini sejalan dengan target Visi Arab Saudi 2030 yang menempatkan peningkatan kualitas pelayanan jamaah haji dan umrah sebagai prioritas utama.
Baca juga: Tak Berhenti di Hajar Aswad, Kemenhaj Saudi Ingatkan Adab Tawaf
Kerangka kerja baru ini dirancang untuk mengatur peran relawan pertolongan pertama dalam sistem yang terintegrasi, sehingga prosedur penanganan darurat dapat berjalan seragam dan koordinasi antarorganisasi lebih efektif.
Melalui sistem tersebut, otoritas berharap dapat mencapai standar tertinggi dalam hal kualitas pelayanan dan keselamatan.
Relawan pertolongan pertama diposisikan sebagai bagian penting dari rantai respons darurat, khususnya dalam menghadapi situasi medis yang membutuhkan penanganan cepat di area dengan kepadatan jamaah yang tinggi.
Dikutip dari Arab News, Rabu (7/1/2026), otoritas menjelaskan bahwa asosiasi atau organisasi yang ingin terlibat harus memenuhi sejumlah persyaratan umum.
Baca juga: Kemenhaj Buka Layanan Haji di Hari Libur, Percepat Perekaman Biometrik Jamaah
Di antaranya, memiliki akreditasi resmi dan terdaftar pada otoritas yang berwenang. Asosiasi relawan tanggap darurat juga bertanggung jawab menyediakan tenaga medis, peralatan, serta perlengkapan darurat yang dibutuhkan selama bertugas.
Seluruh aktivitas relawan akan dilakukan dalam koordinasi langsung dengan Otoritas Bulan Sabit Merah Saudi.
Koordinasi ini bertujuan memastikan kesiapan penuh tim di lapangan, sekaligus menjamin kemampuan mereka dalam merespons berbagai kondisi darurat secara cepat dan tepat.
Otoritas juga menetapkan bahwa tim relawan harus mencakup praktisi kesehatan berlisensi atau spesialis bersertifikat, termasuk personel yang memiliki pelatihan bantuan hidup dasar (basic life support).
Selain itu, seluruh relawan diwajibkan mematuhi instruksi dan protokol operasional yang ditetapkan oleh kedua otoritas terkait.
Baca juga: Menhaj: Haji Bukan Sekadar Urusan Teknis, tetapi Amanah Moral dan Spiritual
Untuk memperluas partisipasi, Otoritas Umum untuk Pengurusan Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi membuka kesempatan bagi asosiasi nasional yang berminat untuk mengajukan permohonan resmi.
Pengajuan aplikasi harus memuat rincian tim, spesialisasi, bidang tugas, serta daftar nama anggota, dan dapat dikirimkan melalui surat elektronik ke alamat volunteer@gph.gov.sa.
Pihak otoritas menegaskan bahwa peluncuran kerangka kerja ini mencerminkan komitmen Arab Saudi dalam meningkatkan mutu layanan di dua masjid suci tersebut.
Selain memperkuat kemitraan dengan berbagai entitas nasional, program ini diharapkan dapat meningkatkan pengalaman jamaah haji dan umrah, dengan tetap menjunjung tinggi standar keselamatan dan perawatan kesehatan yang optimal.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang