KOMPAS.com - Peristiwa Isra’ Mi’raj tidak hanya menandai perjalanan fisik dan spiritual Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi momen ketika Allah SWT memperlihatkan sebagian tanda kebesaran-Nya kepada Rasul-Nya.
Perjalanan agung ini terjadi pada masa yang amat berat bagi Nabi, setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib, dua sosok yang selama ini menjadi penopang dakwah dan kehidupan beliau.
Al-Qur’an menegaskan tujuan perjalanan ini sebagai sarana penyingkapan tanda-tanda kekuasaan Allah, sebagaimana firman-Nya dalam Surah al-Isra’ ayat 1.
Di antara tanda kebesaran itu adalah diperlihatkannya Baitul Ma’mur, sebuah tempat suci yang menjadi pusat ibadah para malaikat dan disebut secara khusus dalam Al-Qur’an.
Baitul Ma’mur disebut dalam Surah ath-Thur sebagai bagian dari sumpah Allah SWT, sebuah penegasan yang menunjukkan kedudukannya yang agung.
“Demi Baitul Ma’mur, dan demi atap (langit) yang ditinggikan.”
(QS. ath-Thur [52]: 4–5)
Dalam hadis sahih yang diriwayatkan Imam al-Bukhari, Rasulullah SAW menceritakan bahwa saat Mi’raj, beliau diperlihatkan Baitul Ma’mur.
Setiap hari, sebanyak 70.000 malaikat masuk untuk melaksanakan shalat di dalamnya dan mereka tidak pernah kembali lagi hingga hari kiamat.
Gambaran ini menunjukkan betapa luasnya jumlah malaikat dan betapa terus-menerusnya ibadah yang berlangsung di sana.
Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjelaskan bahwa para malaikat melakukan thawaf di Baitul Ma’mur sebagaimana manusia melakukan thawaf di Ka’bah. Dengan demikian, Baitul Ma’mur kerap disebut sebagai “Ka’bah penduduk langit”.
Baca juga: Kisah Isra Mi’raj 2026: 27 Rajab 1447 H Jatuh 16 Januari, Ini Makna dan Hikmahnya
Mayoritas ulama berpendapat bahwa Baitul Ma’mur berada di langit ketujuh, tepat di bawah ‘Arasy, dan sejajar dengan Ka’bah di bumi.
Ibnu Katsir menegaskan bahwa jika seandainya Baitul Ma’mur jatuh, maka ia akan jatuh tepat di atas Ka’bah.
Penjelasan ini menegaskan hubungan simbolik antara ibadah penduduk langit dan penduduk bumi.
Dalam sebuah riwayat yang dinukil Ibnu Jarir ath-Thabari, Ali bin Abi Thalib RA menjelaskan bahwa Baitul Ma’mur adalah rumah ibadah para malaikat yang kesuciannya di langit setara dengan kesucian Baitullah di bumi.
Setiap hari, malaikat yang masuk ke dalamnya tidak pernah kembali lagi, menandakan luasnya ciptaan Allah yang tak terjangkau hitungan manusia.
Meski pendapat tentang Baitul Ma’mur di langit ketujuh menjadi pandangan dominan, para ulama tafsir mencatat adanya perbedaan pandangan.
Al-Mawardi dalam Tafsir al-Mawardi menyebutkan beberapa pendapat, mulai dari Baitul Ma’mur sebagai Ka’bah malaikat, bangunan ibadah di bawah langit ketujuh, hingga pandangan minoritas yang mengaitkannya dengan Baitullah di bumi.
Perbedaan ini menunjukkan keluasan khazanah keilmuan Islam dan kehati-hatian ulama dalam memahami perkara gaib.
Namun, seluruh pendapat tersebut sepakat bahwa Baitul Ma’mur memiliki kedudukan istimewa sebagai simbol kemakmuran ibadah dan ketaatan total kepada Allah SWT.
Baca juga: Isra Mi’raj hingga Ash-Shiddiq: Kisah Iman Tanpa Keraguan Abu Bakar
Dalam perjalanan Mi’raj, Rasulullah SAW juga menjumpai Nabi Ibrahim AS di dekat Baitul Ma’mur.
Ibnu Katsir menggambarkan Nabi Ibrahim sedang menyandarkan punggungnya di salah satu dindingnya.
Pertemuan ini sarat makna, mengingat Nabi Ibrahim adalah sosok yang membangun Ka’bah di bumi. Keterkaitan ini mempertegas relasi spiritual antara Ka’bah di bumi dan Baitul Ma’mur di langit.
Menurut Prof. Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar dalam buku Rahasia Alam Malaikat, Jin, dan Setan, Baitul Ma’mur berfungsi sebagai pusat ibadah malaikat sebagaimana Ka’bah menjadi pusat ibadah umat manusia.
Keselarasan ini menunjukkan bahwa seluruh makhluk, baik di bumi maupun di langit, berada dalam satu sistem ketundukan kepada Allah.
Baca juga: Latar Belakang Isra Miraj: Rihlah Bagi Jiwa yang Dilanda Duka
Baitul Ma’mur tidak sekadar kisah kosmologis dalam Isra’ Mi’raj, tetapi mengandung pesan spiritual yang mendalam.
Ia menggambarkan bahwa ibadah adalah poros kehidupan seluruh makhluk. Jika para malaikat tanpa henti memakmurkan rumah ibadah mereka, maka manusia pun dituntut untuk memakmurkan masjid dan menjaga kualitas ibadahnya.
Dalam konteks Isra’ Mi’raj, diperlihatkannya Baitul Ma’mur menjadi penguat hati Rasulullah SAW bahwa di balik penderitaan dunia, ada tatanan ilahi yang penuh keteraturan, ketaatan, dan keindahan.
Pesan ini relevan bagi umat Islam saat ini, bahwa kesedihan dan ujian hidup bukan tanda ditinggalkan Allah, melainkan bagian dari perjalanan menuju penguatan iman.
Peristiwa ini mengajak umat Islam untuk memandang ibadah bukan sebagai beban, tetapi sebagai jalan penghubung antara bumi dan langit, sebagaimana shalat yang diwajibkan dalam Isra’ Mi’raj menjadi “mi’raj” harian bagi orang-orang beriman.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang