Editor
KOMPAS.com-Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Zainal Abidin menilai pertengkaran yang mengatasnamakan agama mencerminkan kedangkalan ilmu dan dominasi ego pribadi.
Ia menegaskan perdebatan yang dipicu perbedaan pandangan keagamaan justru berpotensi merusak harmoni sosial dan memecah persatuan masyarakat.
“Bertengkar masalah perbedaan agama justru memicu perpecahan masyarakat, perbedaan tidak perlu diperdebatkan dan dipertentangkan,” ujar Zainal di Palu, Rabu (14/1/2026) dilansir dari Antara.
Baca juga: Kasus Pandji Pragiwaksono, PBNU Bantah AMNU Wakili NU
Zainal menjelaskan, substansi ajaran agama tidak pernah menjadi sumber konflik, melainkan ketidakmampuan sebagian orang memahami ilmu agama secara utuh.
Fenomena saling hujat akibat perbedaan pandangan keagamaan, menurut dia, bukanlah cerminan kedalaman iman, melainkan luapan ego yang ingin pendapatnya diterima sebagai kebenaran tunggal.
“Orang yang bertengkar dalam hal agama sebenarnya bukan karena ilmu agama atau ilmuwan agama, tetapi orang yang tidak menguasai ilmu agama dan mengumbar pendapat seenaknya sendiri,” kata dia.
Guru Besar UIN Datokarama Palu itu mengajak masyarakat meneladani tradisi intelektual Islam yang menghargai perbedaan pandangan.
Ia mencontohkan perbedaan pemikiran antara Imam Malik dan Imam Syafi’i terkait konsep rezeki.
Imam Malik berpandangan rezeki akan datang melalui ketakwaan dan tawakal yang sungguh-sungguh kepada Allah.
Sementara itu, Imam Syafi’i meyakini rezeki perlu diupayakan melalui ikhtiar dan kerja nyata.
Meski memiliki pandangan yang berbeda, tidak terdapat catatan sejarah yang menunjukkan kedua ulama besar tersebut saling menjatuhkan atau bertengkar.
“Mereka menguasai ilmu secara mendalam, sehingga memahami bahwa perbedaan pemahaman adalah rahmat, bukan alasan untuk bertengkar apalagi sampai memutus silaturahmi,” tutur Zainal.
Baca juga: Ma’ruf Amin Apresiasi Kesepakatan Muktamar NU Digelar Bersama
Ia menilai kecenderungan mudah tersulut emosi dalam persoalan agama saat ini muncul dari keinginan sebagian orang agar pandangannya diakui sebagai satu-satunya kebenaran.
Kondisi tersebut, menurut dia, berkaitan erat dengan minimnya penguasaan ilmu yang membuat seseorang merasa terancam oleh perbedaan.
Akibatnya, pendapat kerap disampaikan secara subjektif dan dilandasi ego, bukan pertimbangan keilmuan.
“Agama tidak mengajarkan pertengkaran, jika ada yang bertengkar maka yang dikedepankan adalah egonya, bukan ilmunya,” ujar Zainal.
Baca juga: Bupati Situbondo Harap Napak Tilas NU Jadi Ajang Rekonsiliasi
Ia menegaskan ilmuwan agama sejatinya menghadirkan keteduhan dan kesejukan di tengah masyarakat, bukan kegaduhan.
Pesan tersebut dinilai penting di tengah era keterbukaan informasi yang membuat arus pendapat keagamaan mudah tersebar tanpa saringan.
Zainal mengingatkan masyarakat agar tetap mengedepankan akal sehat dalam menyikapi perbedaan pandangan keagamaan.
Ia menambahkan semakin luas ilmu seseorang, seharusnya semakin besar pula kelapangan dada dalam menerima keberagaman sudut pandang.
“Menjaga hubungan sosial jauh lebih indah daripada bertengkar dan saling menghujat mengatasnamakan agama,” kata dia.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang