Editor
KOMPAS.com - Ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan mencaplok Greenland menjadi isu yang sedang ramai saat ini.
Ramainya isu itu kemudian membuat sebagian orang penasaran dengan kawasan daratan es tersebut. Bahkan isu ini memantik rasa ingin tahu sebagian orang, terutama muslim, tentang apakah Greenland disebut dalam Al Quran?
Pulau es raksasa di Kutub Utara itu kerap dikaitkan dengan ayat-ayat tentang fenomena alam ekstrem, perjalanan tokoh besar, hingga tanda-tanda kekuasaan Allah di bumi.
Baca juga: Ramadhan Datang Senyap, Pergi Terlalu Cepat: Mengapa Bulan Suci Selalu Terasa Singkat?
Namun, benarkah ada rujukan langsung tentang Greenland dalam kitab suci umat Islam?
Secara teks dan kajian tafsir, Al Quran tidak pernah menyebut Greenland secara langsung, baik dari sisi nama, lokasi, maupun ciri geografis spesifik yang dapat dipastikan merujuk pada wilayah tersebut.
Para ulama tafsir klasik seperti Ibnu Katsir, Al-Tabari, Al-Qurthubi, hingga mufasir kontemporer sepakat bahwa Al Quran bukan kitab geografi, melainkan kitab petunjuk yang menggunakan alam sebagai sarana perenungan (tadabbur).
Artinya, setiap upaya mengaitkan Greenland dengan ayat tertentu harus ditempatkan sebagai refleksi ilmiah, bukan tafsir definitif.
Meski tidak disebut secara eksplisit, ada beberapa tema Al Quran yang membuat sebagian orang mengaitkannya dengan wilayah ekstrem seperti Greenland.
Greenland dikenal mengalami siang yang sangat panjang di musim panas dan malam yang sangat lama di musim dingin.
Fenomena ini sering dikaitkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an tentang pergantian siang dan malam, seperti:
“Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam…” (QS. Ali Imran: 27)
Ayat ini dipahami para ulama sebagai tanda kekuasaan Allah yang berlaku universal, termasuk di wilayah kutub, meski tidak menunjuk lokasi tertentu.
Dalam QS. An-Nur ayat 43, Al-Qur’an menyebut hujan es yang turun dari “gunung-gunung di langit”, yang oleh ilmuwan modern dipahami sebagai awan besar pembentuk es.
Sebagian penulis populer kemudian mengaitkannya dengan:
Namun, kembali ditegaskan, ini adalah pendekatan sains modern, bukan penafsiran klasik yang mengarah ke satu wilayah tertentu.
Kisah perjalanan Dzulqarnain dalam QS. Al-Kahfi ayat 83–98 juga sering menjadi bahan spekulasi. Ia disebut melakukan perjalanan ke barat dan timur yang jauh.
Sebagian teori modern mencoba menghubungkannya dengan wilayah utara atau daerah bersalju.
Akan tetapi, tidak ada satu pun tafsir otoritatif yang menyebut Greenland sebagai lokasi perjalanan tersebut.
Penting membedakan dua hal:
Tafsir: penjelasan ayat berdasarkan dalil, bahasa, dan riwayat
Tadabbur: perenungan makna ayat dalam konteks kehidupan dan alam semesta
Mengaitkan Greenland dengan ayat Al-Qur’an lebih tepat ditempatkan sebagai tadabbur, bukan tafsir. Artinya, sah sebagai renungan keimanan, tetapi tidak boleh dijadikan klaim teologis atau “bukti” tekstual.
Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia memperhatikan alam:
Semua itu dimaksudkan agar manusia mengenal kebesaran Allah, bukan untuk menetapkan koordinat geografis tertentu.
Greenland, dengan es abadinya, siang tanpa malam, dan malam tanpa siang, justru menjadi contoh nyata bagaimana ayat-ayat kauniyah (tanda alam) terus berbicara lintas zaman.
Baca juga: Sekolah di Abu Dhabi Larang Siswa Bawa Bekal Sosis hingga Mi Instan
- Greenland tidak disebut secara eksplisit dalam Al-Qur’an
-Tidak ada tafsir sahih yang menunjuk Greenland secara langsung
- Keterkaitan yang beredar bersifat reflektif dan ilmiah
- Al-Qur’an mengajarkan membaca alam sebagai tanda kekuasaan Allah
Alih-alih mencari nama tempat, Al-Qur’an mengajak manusia memahami makna di balik penciptaan—termasuk di wilayah paling ekstrem di bumi.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang