Editor
KOMPAS.com — Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa ekspektasi masyarakat terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama sangatlah tinggi. Bahkan, publik kerap berharap para pegawai Kemenag memiliki sikap nyaris tanpa cela.
“Masyarakat menghendaki kita seperti malaikat. Tidak gampang menjadi pegawai Kemenag, harus tahan uji,” ujar Menag Nasaruddin Umar saat memberikan arahan kepada ASN di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Senggarang, Kota Tanjungpinang, Kamis (15/1/2026).
Dalam suasana yang penuh perenungan, Menag menekankan pentingnya penguatan mental dan spiritual sebagai fondasi utama dalam menjalankan tugas pelayanan publik, khususnya di Kementerian Agama yang bersentuhan langsung dengan persoalan keimanan, ibadah, dan kehidupan beragama masyarakat.
Baca juga: Jelang Ramadhan, Kemenag Pastikan Layanan Ibadah Warga Aceh Pulih
Menurut Nasaruddin, bekerja di Kemenag bukan sekadar menjalankan administrasi negara, tetapi juga memikul tanggung jawab moral dan spiritual.
Karena itu, ia mengajak seluruh jajaran ASN Kemenag Kepri untuk mendalami makna ikhlas, syukur, dan sabar secara lebih mendalam.
Menag kemudian membedah filosofi slogan Kementerian Agama, Ikhlas Beramal. Ia menegaskan bahwa ASN tidak cukup hanya menjadi mukhlis (orang yang ikhlas), tetapi perlu naik kelas menjadi mukhlas.
“Kalau mukhlis itu masih bisa tergoda iblis. Tapi kalau mukhlas, iblis sendiri bersumpah tidak akan mampu menggoda hamba-hamba yang sudah sampai pada derajat itu,” ungkap Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut.
Tak hanya soal keikhlasan, Menag juga mengulas makna syukur. Ia membedakan antara syukur dan syakur.
Menurutnya, syakur adalah tingkatan spiritual yang lebih tinggi, yakni kemampuan mensyukuri segala keadaan, termasuk situasi sulit dan musibah.
“Jadilah as-syakur. Tuhan itu Maha Baik, maka tidak mungkin ada sesuatu yang buruk dari-Nya. Zona sulit justru sering kali menjadi jalan terdekat untuk kembali kepada Tuhan,” kata Nasaruddin Umar.
Dalam konteks kesabaran, Menag mendorong ASN Kemenag untuk memiliki kualitas as-shobur, yakni kesabaran tingkat tinggi. Ia mengibaratkan sikap ini seperti membalas perlakuan buruk dengan kebaikan.
“Meski difitnah atau dimaki, tetaplah bilang terima kasih, tetap berdakwah, dan tetap membantu. Itulah as-shobur,” ujarnya.
Di akhir arahannya, Menag memberikan pesan tegas terkait integritas dan kebersihan jiwa. Ia mengingatkan ASN Kemenag untuk menjauhi konsumsi barang haram, karena hal tersebut berdampak langsung pada kebersihan hati dan pikiran.
Baca juga: Mengapa Awal Ramadhan 2026 Berpotensi Berbeda? Ini Penjelasan Kemenag dan BRIN
“Tidak mungkin bersih pikiran, jiwa, dan hati seseorang jika yang dikonsumsi adalah barang haram. Semua daging yang tumbuh dari yang haram, akan dicuci oleh api neraka,” tegas Menag.
Pesan-pesan spiritual tersebut diharapkan menjadi penguat moral ASN Kemenag dalam menjalankan tugas pelayanan publik, sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat yang semakin tinggi terhadap institusi keagamaan negara.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang