Editor
KOMPAS.com - Peristiwa Isra Miraj merupakan salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam. Dalam satu malam, Nabi Muhammad SAW diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra), lalu dinaikkan menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha (Miraj).
Peristiwa ini bersifat ghaib dan menjadi ranah keimanan, namun di era modern, sebagian kalangan mencoba mendekatinya melalui sudut pandang teori fisika sebagai sarana refleksi intelektual.
Pendekatan ilmiah ini bukan untuk menguji kebenaran wahyu, melainkan membantu manusia modern memahami bahwa apa yang dahulu dianggap mustahil, kini mulai tersentuh oleh sains.
Baca juga: Makna Dialog Nabi Muhammad dan Nabi Musa dalam Isra Miraj
Salah satu teori yang sering dikaitkan dengan Isra Miraj adalah Teori Relativitas Khusus Albert Einstein.
Dalam bukunya, Relativity: The Special and the General Theory (1916), Einstein menyatakan bahwa waktu tidak bersifat mutlak.
Kecepatan tinggi dapat menyebabkan dilatasi waktu, di mana waktu bagi satu objek berjalan lebih lambat dibandingkan pengamat lain.
Dalam konteks Isra Miraj, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan kosmik yang sangat jauh, namun ketika kembali ke Makkah, waktu di Bumi seakan tidak banyak berlalu.
Fenomena ini, dalam fisika modern, bukan hal mustahil—astronot yang bergerak mendekati kecepatan cahaya memang mengalami waktu yang berbeda dibandingkan manusia di Bumi.
Al-Qur’an dalam beberapa ayat menyebut cahaya (nur) sebagai unsur fundamental ciptaan Allah.
Dalam fisika, cahaya adalah batas kecepatan tertinggi di alam semesta. Tidak ada partikel bermassa yang dapat melampaui kecepatan cahaya.
Sebagian pemikir Muslim mengaitkan kendaraan Isra, Buraq, sebagai makhluk atau sarana yang bergerak dengan karakteristik non-materi biasa—sehingga tidak terikat hukum fisika klasik.
Ini membuka ruang pemahaman bahwa perjalanan Isra Miraj berlangsung di domain hukum Allah, yang melampaui batasan fisika manusia.
Fisika modern mengenal konsep ruang-waktu empat dimensi, bahkan teori lanjutan seperti string theory yang dipopulerkan Brian Greene dalam The Elegant Universe (1999) menyebut kemungkinan adanya dimensi tambahan.
Dalam kerangka ini, perjalanan Nabi Muhammad SAW dapat dipahami sebagai perpindahan lintas dimensi, bukan sekadar perjalanan horizontal dalam ruang tiga dimensi.
Miraj, yang melampaui langit demi langit, bisa dipahami sebagai perjalanan vertikal eksistensial—menuju realitas yang berada di luar alam fisik yang kita kenal.
Teori wormhole atau lubang cacing yang dipopulerkan Kip Thorne dalam Black Holes and Time Warps (1994) menggambarkan kemungkinan adanya terowongan ruang-waktu yang menghubungkan dua titik yang sangat jauh dalam semesta.
Meski masih bersifat teoretis, konsep ini menunjukkan bahwa alam semesta menyediakan jalan pintas kosmik yang secara matematis memungkinkan perjalanan jarak jauh dalam waktu singkat.
Sebagian ilmuwan Muslim menyebut analogi wormhole sebagai ilustrasi bagaimana Isra dari Makkah ke Yerusalem dapat terjadi tanpa melanggar logika kosmik—tentu dengan kehendak dan kuasa Allah.
Penting ditegaskan, Isra Miraj bukan peristiwa ilmiah, melainkan mukjizat kenabian. Sains hanya membantu manusia memahami bahwa alam semesta tidak sesederhana yang dibayangkan.
Apa yang dahulu dianggap mustahil, kini mulai terjelaskan secara parsial oleh ilmu pengetahuan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin pernah menegaskan bahwa akal memiliki batas, sementara wahyu datang dari Zat Yang Maha Mengetahui seluruh hukum alam—termasuk yang belum diketahui manusia.
Isra Miraj mengajarkan bahwa iman tidak bertentangan dengan akal, tetapi melampauinya. Fisika modern justru memperlihatkan betapa luas dan misteriusnya ciptaan Allah, sehingga mukjizat bukanlah pelanggaran hukum alam, melainkan bagian dari hukum yang belum sepenuhnya dipahami manusia.
Baca juga: Makna Isra Miraj bagi Dedi Mulyadi: Kesunyian, Keikhlasan, dan Introspeksi Seorang Pemimpin
Pada akhirnya, Isra Miraj bukan hanya tentang perjalanan kosmik, melainkan tentang kenaikan spiritual, perintah shalat, dan kedekatan manusia dengan Tuhannya—pesan yang tetap relevan melintasi zaman, ilmu, dan peradaban.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang