Editor
KOMPAS.com – Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka dijadwalkan berkunjung ke Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Selasa (20/1/2026).
Kunjungan silaturahmi itu juga membawa misi besar: mengenalkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan robotik kepada para santri.
Ketua Panitia Kunjungan, Hj Neng Irma Ruhyati, menjelaskan bahwa acara ini merupakan bentuk silaturahmi sekaligus ungkapan terima kasih kepada keluarga besar Pesantren Cipasung yang selama ini mendukung perjalanan politik Gibran hingga terpilih menjadi wakil presiden.
“Intinya silaturahmi, menyampaikan terima kasih atas dukungan dan doa dari para kiai, bu nyai, dan keluarga besar pesantren,” ujar Irma, salah satu cucu KH Ruhiyat, pendiri Ponpes Cipasung, kepada Kompas.com via sambungan telepon, Senin (19/1/2026).
Baca juga: Transformasi Ponpes Cipasung Jelang 1 Abad: “Kampung Pangan” dan Santripreuneur
Jejak hubungan keluarga Gibran dengan Cipasung memang cukup kuat. Presiden ke-7 Joko Widodo tercatat sudah dua kali berkunjung ke pesantren tersebut. Presiden Prabowo Subianto juga pernah napak tilas ke Cipasung pada hari pertama kampanye Pilpres lalu.
Yang menarik, kunjungan kali ini disertai program konkret peningkatan literasi digital. Tim Staf Khusus Wapres telah lebih dulu mengirim instruktur untuk pelatihan AI dan robotik bagi santri.
“Mas Wapres ingin santri dan asatiz (para ustaz) melek teknologi. AI bukan ancaman, tapi alat bantu pembelajaran,” kata Neng Irma.
Ia mencontohkan, beberapa aplikasi berbasis AI dapat digunakan untuk membantu proses belajar mengajar, seperti:
“Guru tetap yang utama. AI hanya media pendamping, bukan pengganti kiai,” tegasnya.
Pelatihan berlangsung sejak pekan lalu dengan skema hybrid. Untuk kelas AI tercatat lebih dari 200 peserta, sementara pelatihan robotik dibatasi 30 santri terpilih dari jenjang SD/MI hingga SMA.
Pada hari kunjungan, dua santri peserta AI dan dua peserta robotik akan mempresentasikan hasil karya mereka di hadapan Wapres.
Selain itu, akan ada penyerahan bantuan laptop dari Liberty Foundation untuk pengurus pesantren.
Program ini disebut sebagai langkah awal menuju deklarasi “Cipasung Pesantren Berbasis Teknologi.”
Muncul kekhawatiran bahwa kecanggihan AI bisa menggeser peran kiai. Irma menepis anggapan itu.
“Nilai spiritual, hikmah, dan keteladanan guru tidak mungkin digantikan mesin. AI hanya alat bantu,” ujar istri KH Deni Sagara, Khodimul Majelis Dzikir Sholawat Ponpes Cipasung.
Pelatihan ini juga didukung oleh NU Care Global serta jejaring praktisi teknologi, termasuk alumni Microsoft yang terlibat sebagai mentor.
Bagi Cipasung, program ini menjadi terobosan. Sebelumnya pelatihan serupa pernah dilakukan di sekolah umum, namun baru kali ini diterapkan di lingkungan pesantren.
Baca juga: Menag Soroti Tantangan AI bagi Umat Beragama di Era Perubahan Cepat
“Harapannya santri tidak gagap teknologi, tapi tetap kokoh dalam tradisi ngaji,” kata Neng Irma.
Kunjungan Gibran besok diperkirakan akan menjadi sinyal kuat bahwa masa depan pesantren tidak lagi identik dengan metode klasik semata, melainkan juga siap berdampingan dengan AI, robotik, dan literasi digital.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang