KOMPAS.com - Fenomena pacaran di kalangan remaja semakin dianggap wajar dalam kehidupan modern.
Aktivitas ini bahkan kerap dipandang sebagai bagian dari proses kedewasaan dan pencarian jati diri.
Namun dalam perspektif Islam, pacaran bukan sekadar persoalan sosial, melainkan berkaitan langsung dengan batas-batas moral dan hukum syariat.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah jika seorang anak terlibat pacaran, apakah orang tua ikut memikul dosa atas perbuatan tersebut?
Islam memandang keluarga sebagai madrasah pertama bagi anak. Orang tua tidak hanya berfungsi sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendidik akidah, akhlak, dan perilaku.
Oleh sebab itu, tanggung jawab orang tua terhadap perilaku anak tidak dapat dipisahkan dari kualitas pendidikan yang diberikan sejak dini.
Dasar utama larangan pacaran dalam Islam merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra ayat 32:
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.”
Ayat ini tidak hanya melarang zina sebagai perbuatan fisik, tetapi juga melarang segala bentuk aktivitas yang mengarah kepadanya.
Menurut Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam kitab Shafwah At-Tafasir, larangan “mendekati” zina mencakup seluruh sarana yang membuka pintu syahwat, seperti khalwat (berduaan), sentuhan fisik, hingga interaksi emosional yang melampaui batas syariat.
Dalam konteks ini, pacaran yang melibatkan ikhtilat bebas, komunikasi intens bernuansa romantis, dan kedekatan fisik dipandang sebagai bagian dari perbuatan yang mendekati zina, meskipun belum sampai pada hubungan badan.
Baca juga: Kumpulan Doa Mustajab Orang Tua agar Anak Sholeh dan Cerdas
Islam memberikan amanah besar kepada orang tua untuk menjaga keluarga dari penyimpangan moral. Allah SWT berfirman dalam Surah At-Tahrim ayat 6:
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab keimanan tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi juga mencakup anggota keluarga, khususnya anak-anak.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa hati anak adalah amanah yang masih bersih. Orang tua berperan sebagai pembentuk karakter.
Jika anak dibiasakan dalam lingkungan yang baik, maka ia akan tumbuh dalam kebaikan. Sebaliknya, jika anak dibiarkan tanpa arahan, maka potensi penyimpangan moral akan semakin besar.
Persoalan ini dijelaskan secara gamblang oleh sejumlah ulama kontemporer, salah satunya Buya Yahya.
Dilihat dari video channel YouTube Al Bahjah, Buya Yahya menegaskan bahwa orang tua dapat ikut menanggung dosa anak apabila mereka lalai menjalankan kewajiban pendidikan agama.
Jika orang tua membiarkan anak berpacaran, tidak memberi nasihat, bahkan mendukung perilaku tersebut, maka kelalaian itu termasuk bentuk kontribusi terhadap kemaksiatan.
Dalam kondisi seperti ini, dosa tidak hanya ditanggung anak, tetapi juga orang tua karena abai dalam menjalankan amanah tarbiyah.
Pandangan ini sejalan dengan kaidah fiqih yang dijelaskan oleh Wahbah Az-Zuhaily dalam Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, bahwa setiap pihak yang menjadi sebab terjadinya kemaksiatan turut menanggung konsekuensi moral sesuai kadar perannya.
Baca juga: Kumpulan Doa Perlindungan untuk Anak Agar Dijauhkan dari Berbagai Gangguan
Namun Islam juga menempatkan keadilan dalam menilai tanggung jawab. Jika orang tua telah menjalankan perannya secara maksimal memberi pendidikan agama, menasihati, mengawasi, dan mengingatkan, namun anak yang sudah baligh tetap memilih jalan maksiat, maka dosa tersebut menjadi tanggung jawab pribadi sang anak.
Dalam hal ini, orang tua tidak dibebani dosa perbuatan anak karena kewajiban pendidikan telah ditunaikan.
Hal ini sejalan dengan prinsip dalam Surah Al-An’am ayat 164 yang menyatakan bahwa seseorang tidak memikul dosa orang lain.
Menurut Syekh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin dalam At-Tarbiyah Al-Islamiyah lil Aulad, fase baligh menandai dimulainya tanggung jawab syariat individu. Anak yang telah baligh memiliki beban hukum sendiri atas setiap pilihan perilakunya.
Selain aspek hukum, pacaran juga membawa dampak psikologis dan sosial bagi remaja. Dalam buku Konsep Kesehatan Mental karya Zakiah Daradjat, dijelaskan bahwa hubungan emosional tanpa kesiapan mental dan spiritual berpotensi menimbulkan stres, kecanduan perhatian lawan jenis, serta gangguan konsentrasi belajar.
Dari sudut pandang Islam, pacaran juga berisiko menurunkan sensitivitas moral. Kebiasaan melanggar batas kecil dapat berkembang menjadi pelanggaran yang lebih besar. Inilah sebabnya Islam menutup pintu zina sejak tahap awal.
Baca juga: Amalan dan Doa Perlindungan agar Anak Dijauhkan dari Zina
Pencegahan tidak cukup dilakukan dengan larangan verbal semata. Orang tua perlu membangun komunikasi yang sehat dan edukatif dengan anak.
Dalam buku Tarbiyatul Auld fil Islam karya Abdullah Nashih Ulwan, disebutkan bahwa pendidikan anak harus mencakup keteladanan, dialog, pembiasaan ibadah, serta pengawasan yang proporsional.
Orang tua juga dianjurkan menanamkan konsep hubungan halal dalam Islam, seperti taaruf dan khitbah, agar anak memahami bahwa Islam tidak menolak cinta, tetapi mengaturnya dalam koridor yang bermartabat.
Islam mengajarkan keseimbangan dalam mendidik anak. Kasih sayang harus berjalan beriringan dengan ketegasan nilai.
Membiarkan anak tanpa batasan bukan bentuk cinta sejati, melainkan kelalaian yang berbahaya bagi masa depan moral mereka.
Menurut Al-Qurthubi dalam tafsirnya, perintah menjaga keluarga dari api neraka mencakup kewajiban menanamkan disiplin spiritual dan membangun benteng akhlak sejak usia dini.
Anak yang berpacaran tidak serta-merta membuat orang tua otomatis menanggung dosa. Tanggung jawab orang tua bergantung pada sejauh mana mereka menjalankan peran pendidikan dan pembinaan.
Jika orang tua lalai, membiarkan, atau bahkan mendukung pacaran yang melanggar syariat, maka mereka ikut menanggung dosa.
Namun jika nasihat dan pendidikan telah diberikan secara sungguh-sungguh, sementara anak tetap membangkang setelah baligh, maka dosa tersebut menjadi tanggung jawab pribadi anak.
Dalam perspektif Islam, membangun keluarga yang berlandaskan iman bukan hanya investasi dunia, tetapi juga perlindungan akhirat.
Pendidikan akhlak sejak dini menjadi kunci utama agar generasi muda tumbuh dengan kesadaran moral yang kuat dan mampu menjaga kehormatan diri sesuai tuntunan syariat.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang