Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Pemuda Minta Izin Berzina, Begini Jawaban Rasulullah SAW

Kompas.com, 19 Januari 2026, 13:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Di tengah derasnya arus pergaulan modern yang kerap mengaburkan batas moral, kisah dialog Rasulullah SAW dengan seorang pemuda yang meminta izin berzina tetap relevan hingga hari ini.

Peristiwa ini bukan sekadar cerita sejarah, melainkan pelajaran besar tentang metode dakwah yang bijaksana, pendekatan psikologis, serta pendidikan akhlak yang berlandaskan empati.

Riwayat ini tercatat dalam Musnad Ahmad dan banyak dikutip oleh para ulama sebagai contoh teladan Rasulullah SAW dalam membimbing generasi muda yang sedang bergolak oleh dorongan naluri.

Baca juga: Contoh Zina yang Tidak Disadari dan Cara Menghindarinya

Latar Belakang Kedatangan Sang Pemuda

Suatu hari, Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabat ketika seorang pemuda datang dengan wajah gelisah dan langkah tergesa. Ia membawa kegelisahan batin yang tidak biasa.

Di hadapan Nabi, ia dengan jujur mengungkapkan permintaannya: meminta izin untuk melakukan zina.

Permintaan itu sontak mengagetkan para sahabat. Sebagian merasa marah, sebagian lain terkejut.

Namun Rasulullah SAW tidak bereaksi dengan kemarahan. Sebaliknya, beliau menunjukkan ketenangan dan kebijaksanaan yang luar biasa.

Dalam buku Ar-Rahiq al-Makhtum karya Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri dijelaskan bahwa Rasulullah SAW selalu mengedepankan kelembutan ketika menghadapi persoalan moral, terutama yang melibatkan anak muda. Beliau memahami bahwa masa muda adalah fase penuh gejolak emosi dan naluri.

Baca juga: Zina dengan Istri Orang dalam Pandangan Islam

Metode Dialog yang Menyentuh Hati

Alih-alih memarahi pemuda tersebut, Rasulullah SAW mempersilakannya mendekat dan mengajaknya berdialog secara personal. Pendekatan ini menunjukkan pentingnya komunikasi empatik dalam menyelesaikan masalah.

Beliau kemudian mengajukan pertanyaan reflektif:

“Apakah engkau rela jika perbuatan itu dilakukan terhadap ibumu?”

Pemuda itu menjawab dengan tegas bahwa ia tidak rela. Rasulullah SAW lalu menyampaikan bahwa perasaan manusia pada dasarnya sama: tidak ada yang ingin kehormatan keluarganya dirusak.

Pertanyaan serupa diajukan tentang anak perempuan, saudari, dan kerabat dekat. Setiap kali, pemuda itu mengakui bahwa ia tidak sanggup membayangkan hal tersebut menimpa orang-orang yang ia cintai.

Menurut M. Quraish Shihab dalam buku Membumikan Al-Qur’an, metode dialog seperti ini menunjukkan kecerdasan emosional Rasulullah SAW.

Beliau tidak hanya menyampaikan hukum, tetapi membangkitkan kesadaran moral dari dalam diri seseorang.

Baca juga: Tata Cara Taubat dari Zina, Jangan Sampai Terlaknat Dunia Akhirat

Doa Rasulullah yang Mengubah Kehidupan

Setelah dialog tersebut, Rasulullah SAW meletakkan tangan beliau di dada pemuda itu dan berdoa:

“Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.”

Doa ini bukan sekadar permohonan ampunan, tetapi juga permintaan agar hati pemuda itu dibersihkan dari dorongan maksiat dan diberikan kekuatan menjaga kehormatan diri.

Dalam riwayat disebutkan bahwa sejak peristiwa tersebut, pemuda itu tidak pernah lagi mendekati perbuatan zina.

Perubahan itu bukan karena ancaman hukuman, melainkan karena kesadaran spiritual yang tumbuh dari sentuhan kasih sayang Nabi.

Pelajaran Moral dari Kisah Ini

Kisah ini mengandung banyak hikmah yang relevan untuk kehidupan modern, terutama dalam pendidikan karakter remaja Muslim.

Pertama, Islam tidak menutup mata terhadap realitas naluri manusia. Dorongan biologis diakui sebagai fitrah, tetapi harus diarahkan melalui jalur yang halal dan bermartabat.

Kedua, pendekatan keras sering kali tidak efektif dalam membina moral. Rasulullah SAW justru memilih dialog, empati, dan sentuhan hati sebagai sarana dakwah.

Ketiga, doa dan pembinaan spiritual memiliki peran penting dalam membentuk karakter. Perubahan sejati tidak hanya terjadi di tingkat perilaku, tetapi juga di tingkat hati.

Dalam kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani dijelaskan bahwa keberhasilan dakwah Rasulullah SAW terletak pada keseimbangan antara ketegasan hukum dan kelembutan sikap.

Baca juga: Mengapa Islam Melarang Zina? Ini Dampak dan Hikmahnya

Relevansi untuk Pendidikan Remaja Masa Kini

Fenomena pergaulan bebas, pornografi digital, dan krisis identitas di kalangan remaja saat ini menunjukkan bahwa tantangan moral semakin kompleks.

Kisah pemuda yang meminta izin berzina mengajarkan bahwa solusi tidak cukup dengan larangan semata.

Orang tua, pendidik, dan tokoh agama perlu meneladani metode Rasulullah SAW: mendengarkan, memahami kegelisahan anak muda, lalu membimbing dengan pendekatan rasional dan spiritual.

Dalam buku Psikologi Islam karya Malik Badri ditegaskan bahwa pendidikan berbasis empati jauh lebih efektif dalam membangun kontrol diri dibandingkan pendekatan hukuman semata.

Kisah pemuda yang meminta izin berzina bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi cermin metode dakwah Rasulullah SAW yang relevan sepanjang zaman.

Dengan kelembutan, dialog yang menyentuh nurani, dan doa yang tulus, Nabi berhasil mengubah arah hidup seorang anak muda.

Peristiwa ini mengajarkan bahwa Islam bukan agama yang mematikan naluri, tetapi membimbingnya menuju jalan yang suci, bermartabat, dan penuh keberkahan.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Apakah Orang yang Meninggal karena Musibah Termasuk Syahid?
Apakah Orang yang Meninggal karena Musibah Termasuk Syahid?
Doa dan Niat
Perlukah Tambah Sayyidina saat Tasyahud? Ini Jawaban Fiqih
Perlukah Tambah Sayyidina saat Tasyahud? Ini Jawaban Fiqih
Doa dan Niat
Kisah Pemuda Minta Izin Berzina, Begini Jawaban Rasulullah SAW
Kisah Pemuda Minta Izin Berzina, Begini Jawaban Rasulullah SAW
Doa dan Niat
Gerhana Matahari 17 Februari 2026, Apa yang Harus Dilakukan Umat Islam?
Gerhana Matahari 17 Februari 2026, Apa yang Harus Dilakukan Umat Islam?
Aktual
Dana Operasional Haji 2026 Kemenhaj Rp 18,2 Triliun, Untuk Apa Saja?
Dana Operasional Haji 2026 Kemenhaj Rp 18,2 Triliun, Untuk Apa Saja?
Aktual
Ramadhan 2026: Zakat di Bulan Ramadhan dan Cara Sedekah yang Benar
Ramadhan 2026: Zakat di Bulan Ramadhan dan Cara Sedekah yang Benar
Aktual
Puasa 2026 Berapa Hari Lagi? Begini Cara Persiapan Ramadan yang Tepat
Puasa 2026 Berapa Hari Lagi? Begini Cara Persiapan Ramadan yang Tepat
Aktual
Kalender Februari 2026 Lengkap dengan Tanggal Merah dan Cuti Bersama
Kalender Februari 2026 Lengkap dengan Tanggal Merah dan Cuti Bersama
Aktual
Ali bin Abi Thalib: Khalifah Di Tengah Umat yang Terpecah
Ali bin Abi Thalib: Khalifah Di Tengah Umat yang Terpecah
Doa dan Niat
Daftar Masalah Haji dan Cara Kemenhaj Menanganinya, dari Gagal Berangkat hingga Layanan Tak Sesuai
Daftar Masalah Haji dan Cara Kemenhaj Menanganinya, dari Gagal Berangkat hingga Layanan Tak Sesuai
Aktual
Bulan Puasa 2026 Berapa Hari Lagi? Hitung Mundur dan Persiapan Menyambut Ramadhan 1447 H
Bulan Puasa 2026 Berapa Hari Lagi? Hitung Mundur dan Persiapan Menyambut Ramadhan 1447 H
Aktual
Kapan Waktu Shalat Dhuha: Awal, Akhir, dan Jam Terbaiknya
Kapan Waktu Shalat Dhuha: Awal, Akhir, dan Jam Terbaiknya
Doa dan Niat
Doa Awal Bulan Sya'ban Sesuai Sunnah Nabi Lengkap dengan Artinya
Doa Awal Bulan Sya'ban Sesuai Sunnah Nabi Lengkap dengan Artinya
Doa dan Niat
Hitung Mundur Ramadhan 2026: Awal Puasa Diprediksi 18 atau 19 Februari
Hitung Mundur Ramadhan 2026: Awal Puasa Diprediksi 18 atau 19 Februari
Aktual
Kemenag Alokasikan Rp 1,6 Triliun KIP Kuliah 2026 untuk PTKN, Dorong Beasiswa Mahasiswa Asing
Kemenag Alokasikan Rp 1,6 Triliun KIP Kuliah 2026 untuk PTKN, Dorong Beasiswa Mahasiswa Asing
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com