Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Puasa Ramadhan: Tidur Setelah Sahur, Bolehkah atau Makruh?

Kompas.com, 27 Januari 2026, 11:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bulan Ramadhan identik dengan perubahan ritme hidup. Waktu tidur bergeser, aktivitas ibadah meningkat, dan pola makan pun berubah.

Salah satu kebiasaan yang sering dilakukan banyak orang setelah sahur adalah kembali tidur karena kantuk yang belum sepenuhnya hilang.

Namun, muncul pertanyaan penting: bagaimana hukum tidur setelah sahur menurut Islam? Apakah perbuatan ini dibolehkan atau justru dianjurkan untuk dihindari?

Dalam khazanah fikih Islam, persoalan ini telah dibahas oleh para ulama. Secara umum, tidur setelah sahur tidak membatalkan puasa, tetapi memiliki nilai hukum tertentu yang patut diperhatikan.

Baca juga: Ramadhan 2026 Berapa Hari Lagi? Ini Hitung Mundur Puasa Versi Pemerintah dan Muhammadiyah

Boleh Secara Fikih, Namun Dinilai Makruh

Para ulama sepakat bahwa tidur setelah sahur tidak membatalkan puasa. Seseorang tetap dianggap sah puasanya selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan, seperti makan, minum atau melakukan hubungan suami istri di siang hari.

Namun, mayoritas ulama memandang kebiasaan tidur setelah sahur sebagai perbuatan makruh, yaitu boleh dilakukan tetapi sebaiknya ditinggalkan karena mengandung kehilangan keutamaan.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa waktu sahur termasuk bagian dari waktu malam yang diberkahi dan memiliki nilai spiritual tinggi.

Ia menyebutkan bahwa waktu menjelang Subuh adalah momentum penting untuk memperbanyak istighfar dan munajat kepada Allah.

Pandangan serupa juga dijelaskan oleh Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma’arif, bahwa orang-orang saleh terdahulu memanfaatkan waktu sahur bukan sekadar untuk makan, tetapi juga untuk memperbanyak amal hati seperti doa dan taubat.

Baca juga: Puasa 2026 Berapa Hari Lagi? Ini Perkiraan Awal Ramadhan 1447 H

Waktu Sahur: Momentum Mustajab untuk Istighfar

Alquran secara khusus menyebut waktu sahur sebagai waktu istimewa yang dipenuhi keberkahan.

Allah SWT berfirman:

وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

Wal-mustaghfirīna bil-ashār

Artinya: “Dan mereka yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 17)

Dalam ayat lain Allah juga berfirman:

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Wa bil-ashāri hum yastaghfirūn

Artinya: “Dan pada waktu sahur mereka memohon ampunan.” (QS. Adz-Dzariyat: 18)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa sahur bukan hanya aktivitas fisik untuk menguatkan tubuh saat puasa, tetapi juga ruang spiritual untuk membersihkan hati.

Ketika seseorang langsung tidur setelah sahur, kesempatan emas untuk beristighfar dan berdoa pun terlewatkan.

Baca juga: Tazkiyatun Nafs: Menyucikan Diri Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Teladan Rasulullah Setelah Sahur

Rasulullah SAW tidak menjadikan waktu setelah sahur sebagai waktu tidur. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas disebutkan:

تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ

Tasahharnā ma‘an-nabiyyi ṣallallāhu ‘alaihi wasallam tsumma qāma ilas-shalāh

Artinya: “Kami makan sahur bersama Nabi SAW, lalu beliau berdiri untuk melaksanakan shalat.”

Ketika Ibnu Abbas bertanya tentang jarak waktu antara sahur dan azan Subuh, Rasulullah menjawab sekitar bacaan 50 ayat Al-Qur’an.

Ini menunjukkan bahwa Nabi menggunakan waktu tersebut untuk persiapan shalat, dzikir, dan ibadah, bukan untuk tidur kembali.

Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa kebiasaan Rasulullah ini menunjukkan keutamaan mengisi waktu sahur dengan ibadah dan kesiapan menyambut Subuh.

Baca juga: Tarhib Ramadhan: Menyambut Bulan Suci dengan Hati yang Bersih dan Jiwa yang Siap

Dampak Spiritual Tidur Setelah Sahur

Tidur setelah sahur memang terasa menenangkan secara fisik, tetapi dari sisi spiritual terdapat potensi kerugian.

Pertama, seseorang bisa kehilangan kekhusyukan shalat Subuh karena bangun dalam kondisi terburu-buru.

Kedua, waktu sahur yang penuh keberkahan terlewatkan tanpa amal. Ketiga, kebiasaan ini dapat menumbuhkan sikap malas dalam memaksimalkan Ramadhan.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Zad al-Ma’ad menekankan bahwa keberkahan waktu pagi sangat berkaitan dengan produktivitas amal.

Menurutnya, orang yang memulai hari dengan ibadah akan merasakan kelapangan hati dan kemudahan urusan sepanjang hari.

Jika Terpaksa Tidur, Apa yang Perlu Diperhatikan?

Dalam kondisi tertentu, seperti kelelahan berat atau sakit, tidur setelah sahur tetap dibolehkan.

Namun, para ulama memberi catatan penting agar tidur tersebut tidak sampai menyebabkan seseorang meninggalkan shalat Subuh.

Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Umm menegaskan bahwa menjaga shalat wajib lebih utama daripada menjaga kenyamanan fisik.

Maka, jika seseorang memilih tidur setelah sahur, ia harus memastikan memiliki alarm, pengingat, atau kebiasaan yang menjamin bangun tepat waktu.

Baca juga: Inilah Cara Rasulullah Menghidupkan Ramadhan dengan Akhlak Mulia

Mengubah Sahur Menjadi Ibadah Bernilai Ganda

Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, tetapi momentum memperbaiki kualitas hidup spiritual.

Dengan sedikit perubahan kebiasaan, waktu sahur bisa menjadi ladang pahala. Setelah makan, seseorang dapat melanjutkan dengan membaca Alquran, berdzikir, beristighfar, lalu menunaikan shalat Subuh dengan tenang dan khusyuk.

Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Wahbah Az-Zuhaily dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, memanfaatkan waktu sahur dengan amal ibadah termasuk bentuk optimalisasi Ramadhan yang dianjurkan syariat.

Tidur setelah sahur memang tidak membatalkan puasa dan tetap dibolehkan dalam Islam. Namun, para ulama sepakat bahwa kebiasaan ini kurang dianjurkan karena berpotensi menghilangkan keutamaan waktu sahur yang penuh keberkahan.

Ramadhan seharusnya menjadi momentum memperbanyak amal, bukan sekadar mengubah jam tidur.

Dengan meneladani Rasulullah SAW dan para salaf, umat Islam diajak menjadikan waktu sahur sebagai ruang penguatan iman, bukan hanya jeda sebelum kembali terlelap.

Sebab, di waktu inilah pintu ampunan terbuka lebar, doa-doa diangkat, dan rahmat Allah diturunkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Doa untuk Orang Tua yang Sudah Meninggal Dunia: Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa untuk Orang Tua yang Sudah Meninggal Dunia: Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Rukun Wudhu: Pengertian, Urutan, dan Dalil Lengkap dalam Al Quran
Rukun Wudhu: Pengertian, Urutan, dan Dalil Lengkap dalam Al Quran
Doa dan Niat
Doa Saat Gempa Bumi untuk Memohon Perlindungan
Doa Saat Gempa Bumi untuk Memohon Perlindungan
Doa dan Niat
Berapa Hari Lagi Puasa 2026? Jangan Salah Bayar Fidyah
Berapa Hari Lagi Puasa 2026? Jangan Salah Bayar Fidyah
Aktual
Berapa Hari Lagi Puasa 2026, Simak Jalan Menuju Takwa di Bulan Suci
Berapa Hari Lagi Puasa 2026, Simak Jalan Menuju Takwa di Bulan Suci
Aktual
Puasa Ramadhan, Kenali Hal yang Membuat Makruh agar Pahala Tak Hilang
Puasa Ramadhan, Kenali Hal yang Membuat Makruh agar Pahala Tak Hilang
Aktual
Puasa Ramadhan: Tidur Setelah Sahur, Bolehkah atau Makruh?
Puasa Ramadhan: Tidur Setelah Sahur, Bolehkah atau Makruh?
Aktual
MBG Tetap Jalan Saat Ramadhan, Ini Menu Tahan Lama yang Disiapkan
MBG Tetap Jalan Saat Ramadhan, Ini Menu Tahan Lama yang Disiapkan
Aktual
Puasa 2026 Berapa Hari Lagi? Ini Perkiraan Awal Ramadhan 1447 H
Puasa 2026 Berapa Hari Lagi? Ini Perkiraan Awal Ramadhan 1447 H
Aktual
170.000 Jemaah Haji Indonesia Risiko Tinggi, Sebagian Penyakit Komorbid
170.000 Jemaah Haji Indonesia Risiko Tinggi, Sebagian Penyakit Komorbid
Aktual
Tarhib Ramadhan: Menyambut Bulan Suci dengan Hati yang Bersih dan Jiwa yang Siap
Tarhib Ramadhan: Menyambut Bulan Suci dengan Hati yang Bersih dan Jiwa yang Siap
Doa dan Niat
Niat Puasa Mengganti Puasa Ramadhan karena Haid: Bacaan Arab, Arti, dan Ketentuannya Menurut Fikih
Niat Puasa Mengganti Puasa Ramadhan karena Haid: Bacaan Arab, Arti, dan Ketentuannya Menurut Fikih
Doa dan Niat
Ramadhan 2026 Berapa Hari Lagi? Ini Hitung Mundur Puasa Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Ramadhan 2026 Berapa Hari Lagi? Ini Hitung Mundur Puasa Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Aktual
Inilah Cara Rasulullah Menghidupkan Ramadhan dengan Akhlak Mulia
Inilah Cara Rasulullah Menghidupkan Ramadhan dengan Akhlak Mulia
Aktual
Kemenhaj Dorong Beras Lokal untuk Konsumsi Haji 2026, Kurangi Ketergantungan Impor
Kemenhaj Dorong Beras Lokal untuk Konsumsi Haji 2026, Kurangi Ketergantungan Impor
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com