KOMPAS.com - Ramadan bukan hanya bulan menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, Ramadan adalah momentum emas untuk memperbanyak amal sosial, salah satunya melalui sedekah.
Di bulan yang penuh rahmat ini, setiap kebaikan memiliki nilai yang berlipat ganda, termasuk ketika seseorang menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu sesama.
Dalam Islam, sedekah berasal dari kata shadaqah yang berakar dari kata sidq, kejujuran dan kebenaran.
Baca juga: Puasa Ramadhan: Tidur Setelah Sahur, Bolehkah atau Makruh?
Makna ini menegaskan bahwa sedekah bukan sekadar memberi, melainkan wujud keimanan yang tulus.
Undang-Undang BAZNAS Nomor 2 Tahun 2016 juga menjelaskan bahwa sedekah merupakan pemberian harta atau non-harta di luar zakat untuk kemaslahatan umum.
Lantas, mengapa sedekah di bulan Ramadan begitu istimewa? Berikut ulasannya.
Alquran secara tegas mendorong umat Islam untuk bersedekah, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 271:
إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
In tubdū ash-shadaqāti fa ni‘immā hiya, wa in tukhfūhā wa tu'tūhal-fuqarā’a fahuwa khairul lakum wa yukaffiru ‘ankum min sayyiātikum, wallāhu bimā ta‘malūna khabīr.
Artinya: “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu baik. Jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu. Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Ayat ini menegaskan bahwa sedekah bukan hanya bernilai sosial, tetapi juga berdimensi spiritual yang mendalam.
Baca juga: Puasa Ramadhan: Tidur Setelah Sahur, Bolehkah atau Makruh?
Salah satu keutamaan sedekah yang paling utama adalah kemampuannya menghapus dosa. Rasulullah SAW bersabda:
“Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi)
Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi dijelaskan bahwa sedekah memiliki fungsi tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Orang yang gemar bersedekah akan terhindar dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan.
Ramadan dikenal sebagai bulan pelipatgandaan amal. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 18:
Innal-mushaddiqīna wal-mushaddiqāti wa aqradhullāha qardhan hasanan yudhā‘afu lahum wa lahum ajrun karīm.
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah, baik laki-laki maupun perempuan, dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan balasannya dan bagi mereka pahala yang mulia.”
Menurut Syekh Yusuf Al-Qaradawi dalam buku Fiqh az-Zakah, sedekah di waktu-waktu utama seperti Ramadan memiliki nilai spiritual yang lebih tinggi karena dilakukan di saat keimanan umat berada pada puncaknya.
Banyak orang ragu bersedekah karena takut hartanya berkurang. Padahal Islam menegaskan sebaliknya. Allah SWT berfirman dalam Surah Saba ayat 39:
Wa mā anfaqtum min syai’in fahuwa yukhlifuh, wa huwa khairur rāziqīn.
Artinya: “Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya, dan Dia adalah sebaik-baik pemberi rezeki.”
Dalam buku Mukhtashar Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa sedekah membuka pintu keberkahan rezeki, bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga ketenangan hidup dan kemudahan urusan.
Baca juga: Puasa 2026 Berapa Hari Lagi? Ini Perkiraan Awal Ramadhan 1447 H
Sedekah bukan sekadar amal duniawi. Ia menjadi investasi jangka panjang untuk kehidupan akhirat. Rasulullah SAW bersabda:
“Naungan seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya.” (HR. Ahmad)
Ini menunjukkan bahwa sedekah memiliki peran penting sebagai pelindung manusia di hari pembalasan.
Sedekah juga berdampak langsung pada kondisi psikologis seseorang. Dalam Surah Al-Munafiqun ayat 10, Allah mengingatkan agar manusia berinfak sebelum datang penyesalan.
Para ulama tafsir, seperti Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, menjelaskan bahwa sedekah melatih empati dan solidaritas sosial. Orang yang terbiasa berbagi akan memiliki hati yang lebih lapang dan jauh dari kegelisahan batin.
Sedekah juga berfungsi sebagai penghapus kesalahan dalam muamalah. Dalam aktivitas perdagangan, misalnya, sedekah dapat menjadi penebus kekhilafan yang tidak disengaja.
Hal ini sejalan dengan hadis Nabi yang menganjurkan para pedagang untuk memperbanyak sedekah sebagai penyeimbang aktivitas bisnis.
Baca juga: Ramadhan 2026: Zakat di Bulan Ramadhan dan Cara Sedekah yang Benar
Sedekah tidak selalu berbentuk uang. Banyak bentuk sedekah yang bisa dilakukan selama Ramadan.
Berbagi takjil menjadi tradisi yang sarat makna sosial. Memberi makan orang yang berbuka bahkan mendapat pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang tersebut.
Infak saat salat tarawih juga menjadi momentum rutin yang memperkuat peran masjid sebagai pusat ibadah dan sosial umat.
Selain itu, perkembangan teknologi memungkinkan sedekah dilakukan secara digital. Platform daring memudahkan masyarakat membantu pembangunan fasilitas pendidikan, santunan anak yatim, hingga bantuan bencana.
Ramadan sejatinya adalah bulan pendidikan spiritual. Melalui sedekah, umat Islam dilatih untuk tidak hanya fokus pada ibadah individual, tetapi juga membangun kepedulian sosial.
Sebagaimana ditulis Prof. Didin Hafidhuddin dalam buku Zakat dalam Perekonomian Modern, sedekah memiliki peran strategis dalam mengurangi kesenjangan sosial dan memperkuat solidaritas umat.
Karena itu, Ramadan menjadi momen terbaik untuk memulai kebiasaan berbagi yang berkelanjutan, bukan hanya musiman.
Dengan memperbanyak sedekah, Ramadan tidak hanya mengubah jadwal makan, tetapi juga mengubah cara pandang manusia terhadap harta, kehidupan, dan makna keberkahan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang