KOMPAS.com - Momen berbuka puasa bukan sekadar penanda berakhirnya lapar dan dahaga. Dalam ajaran Islam, waktu ini justru menjadi salah satu titik spiritual paling istimewa sepanjang hari.
Ketika matahari terbenam dan azan Maghrib berkumandang, pintu doa terbuka lebar, harapan dipanjatkan, dan rasa syukur diwujudkan melalui amalan sederhana yang bernilai besar di sisi Allah SWT.
Para ulama menegaskan bahwa berbuka puasa adalah ibadah yang menggabungkan dimensi jasmani dan rohani.
Tubuh menerima kembali asupan, sementara jiwa diajak untuk mengingat Sang Pemberi nikmat.
Karena itu, Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan waktu berbuka, tetapi juga membimbing umatnya melalui doa dan adab yang penuh hikmah.
Baca juga: Puasa Ramadhan: Siapa Wajib Qadha, Siapa Cukup Fidyah?
Berbuka puasa atau ifthar secara bahasa berarti “membatalkan puasa”. Namun dalam konteks ibadah, maknanya jauh lebih dalam.
Menurut kitab Fiqh as-Sunnah karya Sayyid Sabiq, berbuka merupakan bagian dari kesempurnaan ibadah puasa karena menandai ketaatan terhadap batas waktu yang telah ditetapkan syariat.
Islam menganjurkan agar berbuka dilakukan segera setelah matahari terbenam. Hal ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW:
“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Anjuran ini bukan hanya soal ketepatan waktu, melainkan juga mencerminkan kepatuhan terhadap perintah Allah SWT.
Baca juga: Puasa Ramadhan: Cara Islam Menaikkan Derajat Spiritual Manusia
Dalam tradisi Islam, terdapat beberapa doa berbuka puasa yang lazim dibaca umat Muslim. Masing-masing memiliki dasar riwayat dan makna spiritual yang mendalam.
Doa ini paling sering diamalkan di berbagai wilayah Muslim, termasuk Indonesia.
اَللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Allaahumma laka shumtu wabika aamantu wa ‘alaa rizqika afthartu birahmatika yaa arhamar-raahimiin.
Artinya: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dengan rezeki-Mu aku berbuka. Dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih.”
Menurut Imam Nawawi dalam Al-Adzkar, doa ini mencerminkan pengakuan total seorang hamba terhadap sumber nikmat yang sejati, yaitu Allah SWT.
Doa ini diriwayatkan dalam hadis Abu Dawud dan banyak digunakan oleh para ulama.
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah.
Artinya: “Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insya Allah.”
Doa ini menekankan dimensi fisik dan spiritual sekaligus, tubuh kembali segar, sementara pahala puasa diharapkan tetap terjaga.
Sebagian ulama menggabungkan dua doa di atas sebagai bentuk kehati-hatian ilmiah dan adab perbedaan pendapat.
Dalam Hasyiyatul Bujairimi karya Sulaiman al-Bujairimi dijelaskan bentuk doa gabungan yang lebih panjang dan komprehensif.
Doa ini menegaskan unsur tauhid, tawakal, syukur, serta permohonan ampunan dalam satu rangkaian ibadah.
Waktu menjelang berbuka memiliki keistimewaan tersendiri. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa doa orang yang masih dalam keadaan berpuasa lebih dekat kepada pengabulan karena jiwa berada dalam kondisi rendah hati dan penuh ketundukan.
Dalam Liqa’ Asy-Syahri disebutkan bahwa saat matahari hampir terbenam adalah momentum terbaik untuk berdoa, karena seorang hamba sedang berada di puncak keikhlasan setelah menahan hawa nafsu sepanjang hari.
Baca juga: Puasa Ramadhan: Siapa Wajib Qadha, Siapa Cukup Fidyah?
Berbuka puasa bukan sekadar aktivitas makan. Ada etika yang diajarkan Nabi Muhammad SAW agar ibadah ini bernilai sempurna.
Rasulullah SAW menganjurkan untuk berbuka dengan sesuatu yang ringan, seperti kurma atau air putih.
Dalam Zadul Ma’ad karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dijelaskan bahwa kebiasaan ini bukan hanya sunnah, tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan pencernaan.
Selain itu, Islam mengajarkan agar umat Muslim menjaga kesederhanaan saat berbuka, tidak berlebihan, serta mendahulukan doa dan salat Maghrib.
Sikap berbagi makanan dengan orang lain juga termasuk adab yang sangat dianjurkan karena memperkuat solidaritas sosial.
Berbuka puasa menyimpan banyak hikmah. Dari sisi spiritual, ia menumbuhkan rasa syukur atas nikmat yang sering terlupakan.
Dari sisi sosial, momen ini mempererat hubungan keluarga dan masyarakat. Sementara dari sisi psikologis, berbuka membantu mengembalikan energi tubuh sekaligus menenangkan jiwa.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebut bahwa puasa dan berbuka yang dilakukan dengan adab yang benar akan membentuk karakter sabar, rendah hati, serta meningkatkan kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan.
Baca juga: Berapa Hari Lagi Puasa? Ini Hukum Puasa Sambil Niat Diet
Berbuka puasa sejatinya bukan penutup ibadah, melainkan jembatan menuju rangkaian ibadah malam.
Dengan membaca doa, menjaga adab, dan menanamkan niat ikhlas, momen sederhana ini dapat berubah menjadi ladang pahala yang luas.
Di tengah kesibukan dan rutinitas Ramadan, berbuka puasa mengingatkan umat Muslim bahwa Islam tidak hanya mengatur ritual besar, tetapi juga mengajarkan makna spiritual dalam hal-hal kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang