Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Puasa Ramadhan: Cara Islam Menaikkan Derajat Spiritual Manusia

Kompas.com, 28 Januari 2026, 14:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Puasa Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Di balik ibadah ini tersimpan misi besar pembentukan karakter spiritual manusia, mengendalikan hawa nafsu.

Dalam tradisi Islam, nafsu bukan hanya persoalan biologis, tetapi pusat pergulatan batin yang menentukan arah hidup seseorang.

Karena itu, puasa disebut sebagai perisai yang melindungi manusia dari dominasi syahwat dan bisikan setan.

Baca juga: Puasa Ramadhan: Siapa Wajib Qadha, Siapa Cukup Fidyah?

Tidak heran jika Rasulullah SAW menjadikan puasa sebagai solusi spiritual bagi generasi muda yang belum mampu menikah.

Dalam sebuah hadis riwayat Muttafaq ‘Alaih, Nabi bersabda:

Yā ma‘syarasy syabāb, manis-taṭā‘a minkumul bāata fal-yatazawwaj, fa innahu aghaḍḍu lil-baṣar wa aḥṣanu lil-farj, wa man lam yastaṭi‘ fa ‘alaihi biṣ-ṣaum fa innahu lahu wijā.

Artinya: “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian mampu menikah, hendaklah ia menikah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. Barang siapa belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, sebab puasa menjadi perisai baginya.”

Hadis ini menegaskan bahwa puasa berfungsi sebagai rem spiritual yang menahan gejolak biologis sekaligus membangun disiplin moral.

Baca juga: Kumpulan Doa Menyambut Ramadhan: Arab, Latin, dan Artinya

Mengapa Puasa Efektif Menjinakkan Syahwat?

Imam Al-Ghazali dalam karya monumentalnya Ihya ‘Ulumiddin menjelaskan bahwa sumber utama maksiat manusia berakar dari hawa nafsu, sementara bahan bakarnya adalah makanan.

Dalam Juz 3 halaman 85, Al-Ghazali menulis bahwa perut yang kenyang memperkuat dorongan syahwat, sedangkan perut yang dikosongkan melalui puasa melemahkan dominasi nafsu.

Menurut Al-Ghazali, ketika asupan makanan dikurangi, energi biologis yang biasanya mengalir ke arah syahwat akan melemah.

Dampaknya bukan hanya fisik, tetapi juga mental dan spiritual. Seseorang menjadi lebih mudah fokus beribadah, lebih tenang, dan lebih waspada terhadap godaan dosa.

Pandangan ini sejalan dengan konsep riyadhah an-nafs (latihan jiwa) dalam tasawuf. Dalam kitab Bidayatul Hidayah, Al-Ghazali menegaskan bahwa puasa adalah salah satu metode utama untuk melatih jiwa agar tunduk kepada akal dan nilai-nilai ketuhanan, bukan pada impuls instan.

Baca juga: Ironi Umat Islam di Bulan Ramadhan: Puasa, Pemborosan, dan Krisis Makna

Puasa dan Pertarungan Tiga Makhluk: Malaikat, Manusia, dan Hewan

Dalam Islam, kedudukan manusia berada di antara dua ekstrem: malaikat dan hewan. Malaikat diciptakan dengan akal tanpa nafsu, sehingga sepenuhnya tunduk kepada Allah.

Hewan diciptakan dengan nafsu tanpa akal, sehingga bergerak berdasarkan insting semata. Sementara manusia dianugerahi keduanya, akal dan nafsu.

Al-Qur’an mengingatkan bahaya ketika manusia gagal menggunakan akalnya. Allah SWT berfirman:

Lahum qulūbun lā yafqahūna bihā wa lahum a‘yunun lā yubṣirūna bihā wa lahum āżānun lā yasma‘ūna bihā. Ulā'ika kal-an‘ām bal hum aḍall. (QS. Al-A’raf: 179)

Artinya: “Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami, mempunyai mata tetapi tidak digunakan untuk melihat, dan mempunyai telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar. Mereka seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat.”

Ayat ini menegaskan bahwa ketika manusia tunduk pada nafsu tanpa kendali akal, derajatnya bisa jatuh lebih rendah dari hewan.

Di sinilah peran strategis puasa: mengembalikan kendali kehidupan kepada akal dan nilai ilahiah.

Puasa Mengangkat Derajat Spiritual Manusia

Dalam Ihya ‘Ulumiddin Juz 1 halaman 236, Al-Ghazali menjelaskan tujuan luhur puasa:

Annal maqṣūda minas-ṣaum at-takhalluq bi akhlāqillāh wa al-iqtida bil-malāikah fī kaffisy-syahawāt.

Artinya: “Tujuan puasa adalah membentuk akhlak ketuhanan dalam diri manusia dan meneladani sifat malaikat dengan mengekang syahwat semaksimal mungkin.”

Menurut Al-Ghazali, ketika seseorang mampu mengendalikan syahwat, ia sedang naik tangga spiritual menuju derajat tinggi. Sebaliknya, ketika larut dalam hawa nafsu, ia sedang menuruni tangga kehinaan.

Konsep ini juga ditegaskan Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin. Ia menyebut puasa sebagai latihan kesabaran tertinggi yang melahirkan keteguhan iman, kejernihan hati, dan ketahanan moral.

Baca juga: Puasa Ramadhan: Menguak Makna Sederhana di Tengah Budaya Konsumtif

Puasa sebagai Benteng dari Godaan Setan

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda bahwa setan mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah.

Puasa, dengan menahan makan dan minum, mempersempit jalur peredaran setan. Dalam kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani dijelaskan bahwa lapar akibat puasa membuat dominasi setan melemah karena syahwat sebagai pintu masuk utama telah ditutup.

Inilah sebabnya suasana Ramadhan sering terasa lebih tenang. Masjid lebih ramai, tilawah meningkat, dan kesadaran spiritual umat meningkat.

Bukan karena setan sepenuhnya hilang, tetapi karena kekuatannya dipersempit oleh disiplin puasa.

Tantangan Zaman Modern: Puasa di Tengah Banjir Godaan

Di era digital, menahan hawa nafsu semakin kompleks. Media sosial, konten visual, dan gaya hidup konsumtif menjadi ujian tambahan bagi umat Islam.

Oleh karena itu, puasa Ramadhan tidak cukup dimaknai sebagai ritual fisik, tetapi harus disertai pengendalian pandangan, menjaga lisan, dan membatasi konsumsi hiburan yang berlebihan.

Ulama kontemporer seperti Syekh Yusuf al-Qaradawi dalam Fiqh ash-Shiyam menegaskan bahwa hakikat puasa adalah membangun ketakwaan menyeluruh, bukan hanya menahan perut, tetapi juga menahan mata, telinga, dan hati.

Baca juga: Niat Qadha Puasa Ramadhan: Arab, Arti, dan Penjelasan Ulama

Puasa sebagai Jalan Transformasi Diri

Puasa Ramadhan sejatinya adalah sekolah tahunan pembentukan karakter. Ia mengajarkan disiplin, kesabaran, dan pengendalian diri.

Lebih dari itu, puasa membuka jalan transformasi spiritual, dari manusia yang dikendalikan hawa nafsu menjadi manusia yang dipimpin oleh akal dan iman.

Jika puasa dijalani dengan kesadaran penuh, maka Ramadhan bukan hanya bulan menahan lapar, melainkan momentum lahirnya pribadi yang lebih matang, lebih tenang, dan lebih dekat kepada Allah SWT.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com