Editor
KOMPAS.com - Menjelang bulan Ramadhan, orang tua sering kali menantikan saat anak-anak mulai belajar berpuasa.
Pengenalan puasa pada anak harus disesuaikan dengan tahap perkembangan mereka untuk menciptakan pengalaman positif tanpa tekanan.
Psikolog klinis anak dan remaja dari Universitas Padjadjaran, Mariska Johana H, M.Psi., menekankan pentingnya memandang puasa sebagai proses perkembangan, bukan sekadar pengajaran aturan.
Mariska menjelaskan bahwa puasa dapat dikenalkan sebagai latihan menunda keinginan, sarana membangun regulasi emosi, serta ibadah dengan nilai spiritual dan manfaat kesehatan.
Baca juga: Yang Membatalkan Puasa Ramadhan: Ini 7 Hal yang Harus Dihindari
Ketiga aspek ini harus dijelaskan secara bertahap sesuai usia anak.
Pada usia prasekolah (tiga hingga enam tahun), anak memahami puasa sebagai latihan menunggu dan belajar sabar.
Mereka diajak mengenali rasa lapar sebagai sensasi yang datang dan pergi.
Pada usia sekolah awal (tujuh hingga sembilan tahun), anak mulai memahami hubungan sebab dan akibat, sehingga puasa dapat dipahami sebagai latihan mengendalikan diri dan ibadah bernilai pahala.
Memasuki usia sekolah akhir hingga remaja awal (sepuluh hingga dua belas tahun ke atas), anak dapat berpikir lebih reflektif.
Puasa dipahami sebagai ibadah yang melibatkan niat, kesadaran diri, dan tanggung jawab pribadi.
Mariska menyarankan beberapa strategi untuk membantu anak memahami puasa.
Orang tua dapat mengajak anak menonton video edukatif tentang Ramadhan dan berdiskusi setelahnya.
Selain itu, anak dapat dilibatkan dalam kegiatan keagamaan yang ramah anak dan didampingi oleh orang tua.
Penggunaan sistem hadiah atau reward juga dapat digunakan untuk memotivasi anak berpuasa.
Pada usia prasekolah, reward konkret seperti stiker atau aktivitas menyenangkan relevan.
Namun, seiring bertambahnya usia, fokus penguatan perlu bergeser ke motivasi intrinsik dan pemahaman nilai spiritual.
Baca juga: 5 Ayat Ramadhan dalam Al Quran: Makna, Hikmah, dan Pesan Spiritualnya
Pada usia sekolah akhir hingga remaja awal, penggunaan reward fisik sebaiknya diminimalkan dan lebih difokuskan pada dialog dan refleksi.
Proses fading, yaitu pengurangan reward secara bertahap, disarankan agar anak beralih dari motivasi berbasis hadiah ke motivasi intrinsik.
Dengan bimbingan yang tepat, Ramadhan dapat menjadi pengalaman aman, hangat, dan mendidik bagi anak.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang