KOMPAS.com – Menjelang bulan suci Ramadhan 1447 H, langit bumi akan menyuguhkan pertunjukan alam yang langka dan menarik, gerhana matahari cincin pada 17 Februari 2026.
Fenomena ini diprediksi menjadi salah satu peristiwa astronomi paling dinanti di awal tahun 2026 karena bentuknya yang unik, menampilkan “cincin api” di sekitar siluet bulan saat menutupi matahari.
Secara astronomi, fenomena ini terjadi ketika posisi bulan berada di tengah antara bumi dan matahari pada fase bulan baru, namun jarak bulan lebih jauh dari biasanya sehingga ukurannya tampak lebih kecil dan tidak sepenuhnya menutupi piringan matahari.
Baca juga: Gerhana Matahari Cincin 2026, Tata Cara dan Niat Shalat Gerhana
Akibatnya, cahaya Matahari yang tidak tertutup membentuk lingkaran terang yang dikenal sebagai annularity atau cincin api.
Gerhana matahari dibedakan menjadi beberapa tipe, salah satunya gerhana matahari cincin (annular solar eclipse).
Berbeda dengan gerhana total di mana matahari tertutup sepenuhnya, pada gerhana cincin Bulan hanya menutupi sebagian besar permukaan matahari sekitar 96 persen, sehingga tepiannya tetap memancarkan cahaya yang kuat.
Fenomena ini bukan hanya pertunjukan cahaya yang spektakuler, tetapi juga cerminan dari dinamika orbit bulan yang berbentuk elips, sehingga jarak bumi–bulan tidak selalu sama setiap kali fase bulan baru terjadi.
Secara ilmiah, fenomena seperti ini menjadi peluang untuk memahami lebih dalam tentang pergerakan objek langit dalam sistem tata surya.
Baca juga: Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026 Tak Terlihat di Indonesia, Bagaimana Hukum Shalat Gerhana?
Peristiwa gerhana pada 17 Februari 2026 akan melalui beberapa fase menurut data dilansir dari laman astronomi Time and Date:
Meskipun fase-fase tersebut tercatat dengan jam di atas, gelombang fenomena ini tidak dapat dilihat secara langsung dari Indonesia, karena posisi matahari sudah berada di bawah ufuk saat puncaknya di wilayah kita.
Jalur pusat annularity atau area di mana efek cincin api bisa diamati secara penuh adalah sangat sempit dan melintasi wilayah ekstrem di Bumi. Jalur ini mencakup:
Di kawasan tersebut, pengamat yang berada di jalur pusat berkesempatan melihat cincin cahaya yang sangat langka namun singkat, durasi maksimal biasanya hanya beberapa menit saja.
Baca juga: Cara Shalat Gerhana Matahari, Tuntunan Sunnah Rasulullah
Bagi masyarakat Indonesia maupun wilayah lain di luar jalur pusat gerhana, kesempatan menyaksikan fenomena ini secara langsung sangat terbatas.
Namun, banyak lembaga astronomi sudah menyiapkan penayangan langsung (live streaming) dari lokasi yang mendapat kesempatan terbaik untuk peristiwa ini.
Selain itu, situs-situs seperti TimeandDate.com menyediakan peta jalur gerhana interaktif yang bisa dimanfaatkan pengamat di mana pun berada untuk melihat fase gerhana secara online.
Melihat Matahari tanpa alat pelindung yang benar sangat berbahaya, termasuk saat gerhana berlangsung.
Cahaya Matahari, bahkan saat sebagian besar tertutup oleh Bulan, tetap cukup kuat untuk menyebabkan kerusakan permanen pada retina mata (retinopati surya).
Cahaya intens yang langsung masuk ke mata dapat memicu reaksi kimia yang merusak sel-sel fotoreseptor di retina, seperti yang dijelaskan dalam buku Seeing the Light, Optical Principles for Solar Viewing karya Dr. Jane Maxwell.
Ialah dua jenis fotoreseptor, rod dan cone, sangat sensitif terhadap radiasi kuat Matahari; kerusakan yang terjadi dapat bersifat permanen.
Karena itu, pakailah kacamata gerhana bersertifikat, filter matahari khusus atau metode tidak langsung seperti proyeksi pinhole saat mencoba mengamati fenomena gerhana.
Melihat langsung tanpa pelindung sama sekali dapat menyebabkan luka bakar kimiawi pada retina yang tidak bisa diperbaiki.
Baca juga: Gerhana Matahari Cincin, Momentum Dzikir dan Sedekah Jelang Ramadan
Bagi umat Islam, fenomena alam seperti gerhana seringkali menjadi momen refleksi dan peningkatan ibadah.
Dalam konteks keimanan, gerhana bukan semata tontonan langit tetapi juga pengingat kebesaran Sang Pencipta.
Fenomena ini bisa menjadi momentum tafakur untuk mempertebal rasa syukur dan mendekatkan diri kepada Allah menjelang bulan puasa.
Sebagaimana disebutkan dalam hadis, ketika gerhana terjadi umat Islam dianjurkan memperbanyak doa dan ibadah. Rasulullah SAW bersabda:
“Shalatlah kalian ketika melihat gerhana dan mintalah ampunan kepada Allah.”
Ayat lain yang sering dikaitkan dengan tanda-tanda alam adalah:
Inna fī khalqi ssamāwāti wal-arḍi wa-ikhtilāfi l-layli wa-n-nahāri laāyātin li-ulī l-albāb.
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran [3]: 190)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa fenomena langit seperti gerhana adalah bagian dari tanda kebesaran alam semesta yang patut direnungkan.
Meski jalur Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026 tidak melintasi Indonesia, peristiwa ini tetap dapat dimaknai sebagai momentum spiritual.
Dalam ajaran Islam, gerhana bukan sekadar fenomena astronomi, melainkan tanda kebesaran Allah SWT yang mengingatkan manusia pada kekuasaan-Nya.
Karena itu, ketika kabar gerhana tiba, umat Islam dianjurkan memperbanyak dzikir, istigfar, doa, serta melaksanakan shalat gerhana (shalat kusuf) sebagai bentuk ketundukan dan refleksi diri. Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidaklah gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Maka apabila kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Anjuran ini menunjukkan bahwa respons utama seorang Muslim terhadap gerhana adalah memperkuat ibadah, bukan sekadar menyaksikan peristiwanya.
Walaupun tidak melihat langsung, umat Islam di Indonesia tetap dapat melaksanakan shalat sunnah gerhana, memperbanyak istigfar, dan memanjatkan doa agar hati semakin lembut menjelang Ramadhan.
Dengan demikian, fenomena langit ini menjadi pengingat untuk menata kembali niat dan memperbaiki diri sebelum memasuki bulan penuh ampunan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang