Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gerhana Matahari Cincin 2026, Jadwal, Lokasi, dan Hikmah Jelang Puasa

Kompas.com, 9 Februari 2026, 19:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Menjelang bulan suci Ramadhan 1447 H, langit bumi akan menyuguhkan pertunjukan alam yang langka dan menarik, gerhana matahari cincin pada 17 Februari 2026.

Fenomena ini diprediksi menjadi salah satu peristiwa astronomi paling dinanti di awal tahun 2026 karena bentuknya yang unik, menampilkan “cincin api” di sekitar siluet bulan saat menutupi matahari.

Secara astronomi, fenomena ini terjadi ketika posisi bulan berada di tengah antara bumi dan matahari pada fase bulan baru, namun jarak bulan lebih jauh dari biasanya sehingga ukurannya tampak lebih kecil dan tidak sepenuhnya menutupi piringan matahari.

Baca juga: Gerhana Matahari Cincin 2026, Tata Cara dan Niat Shalat Gerhana

Akibatnya, cahaya Matahari yang tidak tertutup membentuk lingkaran terang yang dikenal sebagai annularity atau cincin api.

Apa Itu Gerhana Matahari Cincin?

Gerhana matahari dibedakan menjadi beberapa tipe, salah satunya gerhana matahari cincin (annular solar eclipse).

Berbeda dengan gerhana total di mana matahari tertutup sepenuhnya, pada gerhana cincin Bulan hanya menutupi sebagian besar permukaan matahari sekitar 96 persen, sehingga tepiannya tetap memancarkan cahaya yang kuat.

Fenomena ini bukan hanya pertunjukan cahaya yang spektakuler, tetapi juga cerminan dari dinamika orbit bulan yang berbentuk elips, sehingga jarak bumi–bulan tidak selalu sama setiap kali fase bulan baru terjadi.

Secara ilmiah, fenomena seperti ini menjadi peluang untuk memahami lebih dalam tentang pergerakan objek langit dalam sistem tata surya.

Baca juga: Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026 Tak Terlihat di Indonesia, Bagaimana Hukum Shalat Gerhana?

Jadwal dan Tahapan Gerhana 17 Februari 2026

Peristiwa gerhana pada 17 Februari 2026 akan melalui beberapa fase menurut data dilansir dari laman astronomi Time and Date:

  • Fase gerhana sebagian dimulai: sekitar 09.56 UTC (16.56 WIB)
  • Fase cincin mulai terlihat: sekitar 11.42 UTC (18.42 WIB)
  • Puncak gerhana: sekitar 12.12 UTC (19.12 WIB)
  • Fase cincin berakhir: sekitar 12.41 UTC (19.41 WIB)
  • Gerhana sebagian berakhir: sekitar 14.27 UTC (21.27 WIB)

Meskipun fase-fase tersebut tercatat dengan jam di atas, gelombang fenomena ini tidak dapat dilihat secara langsung dari Indonesia, karena posisi matahari sudah berada di bawah ufuk saat puncaknya di wilayah kita.

Di Mana Gerhana Ini Akan Terlihat?

Jalur pusat annularity atau area di mana efek cincin api bisa diamati secara penuh adalah sangat sempit dan melintasi wilayah ekstrem di Bumi. Jalur ini mencakup:

  • Antartika, termasuk stasiun penelitian seperti Concordia Research Station dan Mirny Station
  • Beberapa wilayah di Afrika bagian selatan
  • Ujung selatan Amerika Selatan dan sekilas di beberapa pulau samudra dekat jalur utama

Di kawasan tersebut, pengamat yang berada di jalur pusat berkesempatan melihat cincin cahaya yang sangat langka namun singkat, durasi maksimal biasanya hanya beberapa menit saja.

Baca juga: Cara Shalat Gerhana Matahari, Tuntunan Sunnah Rasulullah

Kesempatan dan Tantangan Pengamatan

Bagi masyarakat Indonesia maupun wilayah lain di luar jalur pusat gerhana, kesempatan menyaksikan fenomena ini secara langsung sangat terbatas.

Namun, banyak lembaga astronomi sudah menyiapkan penayangan langsung (live streaming) dari lokasi yang mendapat kesempatan terbaik untuk peristiwa ini.

Selain itu, situs-situs seperti TimeandDate.com menyediakan peta jalur gerhana interaktif yang bisa dimanfaatkan pengamat di mana pun berada untuk melihat fase gerhana secara online.

Bahaya Melihat Gerhana Matahari Tanpa Perlindungan

Melihat Matahari tanpa alat pelindung yang benar sangat berbahaya, termasuk saat gerhana berlangsung.

Cahaya Matahari, bahkan saat sebagian besar tertutup oleh Bulan, tetap cukup kuat untuk menyebabkan kerusakan permanen pada retina mata (retinopati surya).

Cahaya intens yang langsung masuk ke mata dapat memicu reaksi kimia yang merusak sel-sel fotoreseptor di retina, seperti yang dijelaskan dalam buku Seeing the Light, Optical Principles for Solar Viewing karya Dr. Jane Maxwell.

Ialah dua jenis fotoreseptor, rod dan cone, sangat sensitif terhadap radiasi kuat Matahari; kerusakan yang terjadi dapat bersifat permanen.

Karena itu, pakailah kacamata gerhana bersertifikat, filter matahari khusus atau metode tidak langsung seperti proyeksi pinhole saat mencoba mengamati fenomena gerhana.

Melihat langsung tanpa pelindung sama sekali dapat menyebabkan luka bakar kimiawi pada retina yang tidak bisa diperbaiki.

Baca juga: Gerhana Matahari Cincin, Momentum Dzikir dan Sedekah Jelang Ramadan

Tafakur dan Makna Spiritual Menjelang Ramadhan

Bagi umat Islam, fenomena alam seperti gerhana seringkali menjadi momen refleksi dan peningkatan ibadah.

Dalam konteks keimanan, gerhana bukan semata tontonan langit tetapi juga pengingat kebesaran Sang Pencipta.

Fenomena ini bisa menjadi momentum tafakur untuk mempertebal rasa syukur dan mendekatkan diri kepada Allah menjelang bulan puasa.

Sebagaimana disebutkan dalam hadis, ketika gerhana terjadi umat Islam dianjurkan memperbanyak doa dan ibadah. Rasulullah SAW bersabda:

“Shalatlah kalian ketika melihat gerhana dan mintalah ampunan kepada Allah.”

Ayat lain yang sering dikaitkan dengan tanda-tanda alam adalah:

Inna fī khalqi ssamāwāti wal-arḍi wa-ikhtilāfi l-layli wa-n-nahāri laāyātin li-ulī l-albāb.

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran [3]: 190)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa fenomena langit seperti gerhana adalah bagian dari tanda kebesaran alam semesta yang patut direnungkan.

Ikhtiar Menyaksikan dari Jauh dan Menguatkan Ibadah

Meski jalur Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026 tidak melintasi Indonesia, peristiwa ini tetap dapat dimaknai sebagai momentum spiritual.

Dalam ajaran Islam, gerhana bukan sekadar fenomena astronomi, melainkan tanda kebesaran Allah SWT yang mengingatkan manusia pada kekuasaan-Nya.

Karena itu, ketika kabar gerhana tiba, umat Islam dianjurkan memperbanyak dzikir, istigfar, doa, serta melaksanakan shalat gerhana (shalat kusuf) sebagai bentuk ketundukan dan refleksi diri. Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidaklah gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Maka apabila kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Anjuran ini menunjukkan bahwa respons utama seorang Muslim terhadap gerhana adalah memperkuat ibadah, bukan sekadar menyaksikan peristiwanya.

Walaupun tidak melihat langsung, umat Islam di Indonesia tetap dapat melaksanakan shalat sunnah gerhana, memperbanyak istigfar, dan memanjatkan doa agar hati semakin lembut menjelang Ramadhan.

Dengan demikian, fenomena langit ini menjadi pengingat untuk menata kembali niat dan memperbaiki diri sebelum memasuki bulan penuh ampunan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Inspirasi Baju Lebaran 2026: Tren Fashion Lebaran yang Elegan, Kekinian, dan Tetap Nyaman
Inspirasi Baju Lebaran 2026: Tren Fashion Lebaran yang Elegan, Kekinian, dan Tetap Nyaman
Aktual
ISNU Gaungkan Literasi Anti-Kekerasan Perempuan dan Anak
ISNU Gaungkan Literasi Anti-Kekerasan Perempuan dan Anak
Aktual
Arab Saudi Rilis Timeline Haji 1447 H, Kedatangan Jamaah April 2026
Arab Saudi Rilis Timeline Haji 1447 H, Kedatangan Jamaah April 2026
Aktual
Gerhana Matahari Cincin 2026, Jadwal, Lokasi, dan Hikmah Jelang Puasa
Gerhana Matahari Cincin 2026, Jadwal, Lokasi, dan Hikmah Jelang Puasa
Aktual
Libur Sekolah Awal Puasa 2026 Berpotensi Jadi Long Weekend 7 Hari, Catat Tanggalnya
Libur Sekolah Awal Puasa 2026 Berpotensi Jadi Long Weekend 7 Hari, Catat Tanggalnya
Aktual
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Resmi Kemenag dan Muhammadiyah, Ini Cara Unduhnya
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Resmi Kemenag dan Muhammadiyah, Ini Cara Unduhnya
Aktual
Tren Baju Lebaran Keluarga 2026, Harmonis, Nyaman, dan Elegan
Tren Baju Lebaran Keluarga 2026, Harmonis, Nyaman, dan Elegan
Aktual
Jadwal Libur Sekolah Awal Ramadhan 2026 Resmi dari Pemerintah, Catat Tanggalnya
Jadwal Libur Sekolah Awal Ramadhan 2026 Resmi dari Pemerintah, Catat Tanggalnya
Aktual
Resep Buat Buka Puasa Lezat dan Bergizi Selama Ramadan
Resep Buat Buka Puasa Lezat dan Bergizi Selama Ramadan
Aktual
Trend Baju Lebaran 2026, Tampil Elegant dan Effortless Jadi Pilihan
Trend Baju Lebaran 2026, Tampil Elegant dan Effortless Jadi Pilihan
Aktual
Jadwal Pembelajaran Selama Ramadhan 2026 Resmi dari Pemerintah, Cek Tanggal Libur dan Tatap Muka
Jadwal Pembelajaran Selama Ramadhan 2026 Resmi dari Pemerintah, Cek Tanggal Libur dan Tatap Muka
Aktual
Link Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Resmi Kemenag dan Muhammadiyah
Link Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Resmi Kemenag dan Muhammadiyah
Aktual
Kapan Tarawih Ramadhan 2026 Dimulai? Ini Jadwal, Niat, dan Tata Caranya
Kapan Tarawih Ramadhan 2026 Dimulai? Ini Jadwal, Niat, dan Tata Caranya
Aktual
Ide Parcel Lebaran 2026 yang Cantik, Bermakna, dan Ramah Budget
Ide Parcel Lebaran 2026 yang Cantik, Bermakna, dan Ramah Budget
Aktual
Rekomendasi Parcel Lebaran 2026: Ide Parcel Kekinian, Sederhana, dan Berkesan
Rekomendasi Parcel Lebaran 2026: Ide Parcel Kekinian, Sederhana, dan Berkesan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com