Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

MUI Tanggapi Potensi Perbedaan Penetapan Awal Ramadhan 2026: Bagian dari Ijtihad

Kompas.com, 12 Februari 2026, 15:24 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Iskandar menilai potensi perbedaan penetapan awal Ramadhan di Indonesia merupakan hal yang wajar dalam tradisi keilmuan Islam.

Pernyataan tersebut disampaikan di Jakarta, Kamis (12/2/2026), merespons dinamika penentuan awal puasa yang kerap terjadi setiap tahun.

Perbedaan biasanya muncul karena penggunaan metode hisab dan rukyat oleh sejumlah organisasi kemasyarakatan Islam. Menurutnya, perbedaan itu merupakan bagian dari ijtihad yang memiliki dasar metodologi syar’i.

“Potensinya, ya, tetap ada dan kita hormati. Itu gak bisa sampai akhir zaman ya, perbedaannya tetap ada dan tidak masalah. Itu bagian dari ijtihad,” ujar Kiai Anwar, seperti dilansir dari Antara.

Baca juga: Kemenag Aceh Perkirakan Awal Ramadhan 1447 H Jatuh 19 Februari 2026

Perbedaan Metode Hisab dan Rukyat

Kiai Anwar menjelaskan bahwa ruang perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan memang terbuka dalam ajaran Islam.

Selama ini, perbedaan biasanya terjadi antara ormas Islam yang menggunakan metode hisab dan rukyat dalam menentukan awal bulan Hijriah.

Ia menyebut mayoritas umat Islam di Indonesia mengikuti hasil sidang isbat pemerintah.

Namun, terdapat pula ormas yang menetapkan tanggal berbeda berdasarkan metode yang mereka gunakan.

“Ada yang mengikuti isbat pemerintah dan itu mayoritas. Ada juga ormas yang berbeda dan itu kita hormati. Bahkan dalam lingkup pesantren atau organisasi yang sama pun bisa saja berbeda,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan sikap egaliter dalam kehidupan beragama di Indonesia selama tidak disertai sikap saling menyalahkan.

“Yang penting jangan sampai mengkafirkan sesama Muslim hanya karena perbedaan penetapan tanggal puasa,” ujarnya.

Pentingnya Menjaga Ukhuwah dan Persatuan

Di tengah potensi perbedaan awal Ramadhan, Kiai Anwar menekankan pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah.

Ia mengingatkan bahwa persatuan umat dan bangsa harus tetap menjadi prioritas utama.

Dalam konteks kehidupan bernegara, ia menyatakan pemerintah memiliki kewenangan dalam menetapkan keputusan bersama melalui mekanisme resmi.

Karena itu, umat Islam diimbau untuk menghormati dan mengikuti pengumuman pemerintah terkait awal Ramadhan.

“Yang paling penting buat kami itu mengikuti pengumuman pemerintah. Karena pemerintah itu mempunyai otoritas menjadi hakim. Jadi menurut agama Islam, keputusan hakim atau keputusan negara itu menghilangkan perbedaan,” kata dia.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa apabila masih terdapat perbedaan dalam penetapan awal puasa Ramadhan, hal tersebut tetap harus dihormati sebagai bagian dari keyakinan dan ijtihad yang diakui dalam ajaran Islam.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Mudik Gratis KAI 2026 Resmi Dibuka 13 Februari, 480 Tiket Jakarta–Semarang Siap Dipesan
Mudik Gratis KAI 2026 Resmi Dibuka 13 Februari, 480 Tiket Jakarta–Semarang Siap Dipesan
Aktual
Inspirasi Baju Lebaran 2026 Couple Keluarga: Serasi, Modest, dan Penuh Makna di Hari Raya
Inspirasi Baju Lebaran 2026 Couple Keluarga: Serasi, Modest, dan Penuh Makna di Hari Raya
Aktual
Ketum Anwar Iskandar: MUI Wajib Isi Ruang Digital dengan Dakwah
Ketum Anwar Iskandar: MUI Wajib Isi Ruang Digital dengan Dakwah
Aktual
MUI Tanggapi Potensi Perbedaan Penetapan Awal Ramadhan 2026:  Bagian dari Ijtihad
MUI Tanggapi Potensi Perbedaan Penetapan Awal Ramadhan 2026: Bagian dari Ijtihad
Aktual
Menag Tekankan Gedung MUI Tak Ada Hubungan dengan BoP
Menag Tekankan Gedung MUI Tak Ada Hubungan dengan BoP
Aktual
Dewan Pertimbangan MUI: Jangan Ada Standar Ganda untuk Pelanggaran HAM
Dewan Pertimbangan MUI: Jangan Ada Standar Ganda untuk Pelanggaran HAM
Aktual
Mukernas MUI 2026: Satukan Langkah, Kuatkan Aksi untuk Umat
Mukernas MUI 2026: Satukan Langkah, Kuatkan Aksi untuk Umat
Aktual
Grebeg Apem Jombang 2026 Diserbu Ribuan Warga, Tujuh Tumpeng Raksasa Ludes Sebelum Sambutan Usai
Grebeg Apem Jombang 2026 Diserbu Ribuan Warga, Tujuh Tumpeng Raksasa Ludes Sebelum Sambutan Usai
Aktual
Kemenag Aceh Perkirakan Awal Ramadhan 1447 H Jatuh 19 Februari 2026
Kemenag Aceh Perkirakan Awal Ramadhan 1447 H Jatuh 19 Februari 2026
Aktual
Awal Ramadhan 2026 Diperkirakan 19 Februari, Hilal Masih di Bawah Ufuk di Seluruh Indonesia
Awal Ramadhan 2026 Diperkirakan 19 Februari, Hilal Masih di Bawah Ufuk di Seluruh Indonesia
Aktual
Poster Pawai Ramadhan Anak SD yang Ceria dan Islami Serta Link Download
Poster Pawai Ramadhan Anak SD yang Ceria dan Islami Serta Link Download
Aktual
Khutbah Jumat Persiapan Ramadhan Lengkap Arab dan Terjemahan, Jamaah Siap Sambut Bulan Suci
Khutbah Jumat Persiapan Ramadhan Lengkap Arab dan Terjemahan, Jamaah Siap Sambut Bulan Suci
Aktual
50 Ucapan Menyambut Bulan Ramadhan 2026, Inspirasi Tulisan Marhaban Ya Ramadhan Penuh Makna
50 Ucapan Menyambut Bulan Ramadhan 2026, Inspirasi Tulisan Marhaban Ya Ramadhan Penuh Makna
Aktual
Link Download Poster Menyambut Ramadhan 2026 dari Canva, Gratis dan Bisa Langsung Edit
Link Download Poster Menyambut Ramadhan 2026 dari Canva, Gratis dan Bisa Langsung Edit
Aktual
Poster Menyambut Ramadhan 2026: Inspirasi dan Link Download
Poster Menyambut Ramadhan 2026: Inspirasi dan Link Download
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com