Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tak Sekadar Toleransi, Maluku Cetak Duta Perdamaian dari Ruang Kelas

Kompas.com, 12 Februari 2026, 17:40 WIB
Rahmat Rahman Patty,
Farid Assifa

Tim Redaksi

AMBON, KOMPAS.com - Upaya merawat perdamaian dan kerukunan antarumat beragama di Maluku menjadi hal penting yang terus dilakukan oleh berbagai pihak.

Tak hanya lewat perjumpaan dan interaksi masyarakat secara alami, usaha untuk memupuk rasa persaudaraan dan harmonisasi antarumat bergama di Maluku juga dilakukan lewat berbagai kegiatan yang dapat mendorong terbentuknya relasi sosial yang lebih kuat di masyarakat.

Seperti yang dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah Maluku dan Institut Leimena melalui seminar penguatan karakter bangsa untuk mendukung semangat hidup orang basudara melalui pendekatan literasi keagamaan lintas budaya.

Kegiatan yang diikuti ratusan kepala sekolah dan tenaga pendidik dari berbagai komunitas agama itu berlangsung di Kantor Gubernur Maluku dan dibuka oleh Sekda Maluku Sadli le, Kamis (12/2/2026).

Baca juga: Wujud Toleransi, Kedai Muslim di Liverpool Bagikan Makanan Gratis Saat Natal

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Sarlota Singerin, kemajemukan dan sejarah konflik sosial berbasis identitas yang pernah terjadi di Maluku mengharuskan dunia pendidikan di wilayah itu untuk lebih berperan aktif dalam merawat kerukunan dan menjadi duta perdamaian di masyarakat.

Menurutnya, seminar yang dilakukan tersebut sebagai wujud nyata dan komitmen pemerintah provinsi Maluku mejadikan daerah itu sebagai laboratorium perdamaian.

“Kami ingin terus membagikan contoh praktik penguatan literasi keagamaan lintas budaya dapat diadaptasi di sekolah dan mendorong upaya integrasi ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah di Maluku,” kata Sarlota kepada wartawan.

Ia mengatakan program penguatan literasi keagamaan lintas budaya secara nasional telah diadakan lebih dari empat tahun sejak 2021, sedangkan khusus di Maluku kegiatan tersebut merupakan kegiatan perdana.

Program tersebut telah berlangsung selama dua tahun dengan jumlah alumni sebanyak 175 guru dan kepala sekolah.

Menurut Sarlota, kemajemukan dan sejarah konflik sosial berbasis identitas yang pernah terjadi di Maluku mengharuskan dunia pendidikan di Maluku untuk lebih berperan dalam merawat kerukunan dan perdamaian.

“Institut Leimena memiliki pengalaman nasional dalam pengembangan dan implementasi pendekatan literasi keagamaan lintas budaya, termasuk pelatihan guru dan kepala sekolah di berbagai provinsi,” katanya.

Diakui di KTT ASEAN

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan program tersebut bertujuan memperkuat kerukunan umat beragama yang majemuk dengan mendorong terwujudnya kompetensi para pendidik untuk membangun relasi dan kolaborasi dengan orang yang berbeda agama dan kepercayaan.

“Dimulai akhir tahun 2021 sebagai program pelatihan untuk guru sekolah dan madrasah, telah diadakan 72 kelas pelatihan dasar penguatan literasi keagamaan lintas budaya

dengan lulusan lebih dari 10.000 pendidik. Program ini juga mulai dikembangkan untuk perguruan tinggi dan lembaga pemerintahan,” kata Matius Ho.

Matius menambahkan program penguatan literasi keagamaan lintas budaya telah diakui secara nasional dan internasional sebagai model pendidikan untuk membangun kohesi sosial.

Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Malaysia tahun 2025, program tersebut secara resmi menjadi salah satu strategi ASEAN hingga tahun 2045 untuk menciptakan Komunitas ASEAN yang inklusif dan kohesif.

Ia mencontohkan pada Bulan November 2025 lalu, delegasi dari Kementerian Pendidikan Pemerintahan Bangsamoro di Filipina berkunjung ke Ambon, sebagai tamu Institut Leimena, untuk belajar dari pelaksanaan program tersebut di kota Ambon.

“Kami berharap seminar hari ini dapat membuahkan langkah-langkah tindak lanjut konkret karena keberhasilan upaya di Maluku ini tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara,” kata Matius.

Matius menambahkan khusus di Ambon, program ini dimodifikasi dengan pendekatan yang relevan dengan konteks budaya masyarakat setempat yaitu menggunakan musik sebagai pedagogi untuk membangun perdamaian karena Ambon telah ditetapkan sebagai City of Music oleh UNESCO.

Apresiasi

Sementara itu, Sekretaris Daerah Maluku Sadli le saat membuka kegiatan tersebut menyampaikan Maluku memiliki warisan leluhur yang luar biasa yaitu semangat hidup “Orang Basudara” sebagai sebuah jati diri yang tidak mempertentangkan perbedaan suku dan agama namun sebagai perekat.

“Tantangan zaman menuntut kita untuk tidak sekadar hidup berdampingan, saling memahami, namun yang terpenting saling menghargai satu sama lain. Di sinilah peran penting Literasi Keagamaan Lintas Budaya, dan merupakan kunci karakter hidup ‘Orang Basudara’ yang dilandasi rasa hormat dan empati,” kata Sadli.

Menurut Sadli, Pemerintah Provinsi Maluku sangat mendukung program tersebut, karena selain bertujuan untuk memperkuat hubungan persaudaraan dan perdamaian dengan pendekatan nilai budaya.

Kegiatan tersebut juga selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto terkait upaya memperkuat kehidupan sosial yang harmonis dnn meningkatkan toleransi antarumat bergama.

“Di sinilah peran penting literasi keagamaan lintas budaya dan merupakan kunci dari semangat hidup orang bersaudara yang dilandasi oleh rasa hormat dan saling menbghargai,” katanya.

Ia pun mengapresiasi pelaksanaan kegiatan terserbut dan berharap kegiatan itu dapat melahirkan duta perdamaian di Maluku.

“Kami mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini sebagai bagian dari tujuan bersama untuk hidup secara berdampingan berdasarkan martabat kemanusiaan dan rasa saling percaya,”

“Melalui seminar ini kami berharap para akademisi, tokoh agama, para guru dan semua peserta dan kita semua dapat menjadi duta perdamaian,” tambahnya.

Senada dengan itu, Wali Kota Ambon, Bodewin Melkias Wattimena, mengatakan seminar yang diinisiasi Pemprov Maluku dan Institut Leimena merupakan panggilan moral jati diri bangsa dan nilai kederahan yang mengakar kuat dalam hubungan persaudaraan masyarakat Maluku.

“Kita memiliki filosofi Orang Basudara yang menjadi perekat sosial. Nilai-nilai kearifan tersebut bukan sebatas pemahaman soal sejarah, tapi bagaimana yang paling penting terus dihidupkan, dan ditransformasikan menjadi nilai-nilai hidup bersama,” kata Bodewin.

Baca juga: Wamenag Romo Syafi’i: Toleransi Antarumat Beragama Fondasi Utama Persatuan Indonesia

Bodewin menegaskan literasi keagamaan lintas budaya bukan mencampuradukkan keyakinan, melainkan memahami nilai-nilai universal kemanusiaan tentang perdamaian, cinta kasih, keadilan, dan membangun ruang dialog antar agama.

“Kita tidak boleh tutup mata atas realitas saat ini, seperti fenomena eksklusivisme beragama dan segregasi terus tumbuh di kota ini, yang tidak boleh dibiarkan tumbuh tanpa arah. Maka kita harus hidupkan semangat hidup Orang Basudara,” kata Bodewin.

Adapun seminar tersebut ikut didukung oleh Yayasan Pembinaan Pendidikan Kristen (YPPK) Dr. JB Sitanala, Yayasan Sombar Negeri Maluku, dengan dukungan Gereja Protestan Maluku, IAKN Ambon, UIN AM Sangadji Ambon, dan Sasakawa Peace Foundation.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
30 Prompt Gemini AI untuk Membuat Kartu Ucapan Selamat Ramadhan 1447 H/2026
30 Prompt Gemini AI untuk Membuat Kartu Ucapan Selamat Ramadhan 1447 H/2026
Aktual
Jadwal Penukaran Uang Baru Lebaran 2026 Lengkap dengan Link, Cara Daftar, dan Jumlah Maksimal Pecahannya
Jadwal Penukaran Uang Baru Lebaran 2026 Lengkap dengan Link, Cara Daftar, dan Jumlah Maksimal Pecahannya
Aktual
BI Buka Penukaran Uang Baru Lebaran 2026 Mulai 13 Februari, Cek Jadwal dan Cara Pesan di PINTAR
BI Buka Penukaran Uang Baru Lebaran 2026 Mulai 13 Februari, Cek Jadwal dan Cara Pesan di PINTAR
Aktual
Razia Ramadhan di Dubai, Pengemis Kedapatan Punya 3 Mobil Mewah
Razia Ramadhan di Dubai, Pengemis Kedapatan Punya 3 Mobil Mewah
Aktual
50 Ucapan Selamat Ramadhan 1447 H/2026 Penuh Doa dan Harapan untuk Dibagikan di Media Sosial
50 Ucapan Selamat Ramadhan 1447 H/2026 Penuh Doa dan Harapan untuk Dibagikan di Media Sosial
Aktual
MUI Minta Langkah di Board of Peace Tidak Menyimpang dari Prinsip
MUI Minta Langkah di Board of Peace Tidak Menyimpang dari Prinsip
Aktual
Ucapan Marhaban Ya Ramadhan: Tulisan Arab, Latin, Arti, Hukum dan Contoh Penggunaanya
Ucapan Marhaban Ya Ramadhan: Tulisan Arab, Latin, Arti, Hukum dan Contoh Penggunaanya
Aktual
Mudik Gratis Klaten 2026 Dibuka, Warga Jabodetabek Bisa Pulang Kampung Tanpa Biaya
Mudik Gratis Klaten 2026 Dibuka, Warga Jabodetabek Bisa Pulang Kampung Tanpa Biaya
Aktual
Rapat Perdana BoP, MUI Ingatkan BoP Harus Jamin Kemerdekaan Palestina
Rapat Perdana BoP, MUI Ingatkan BoP Harus Jamin Kemerdekaan Palestina
Aktual
Penyakit Ain dalam Islam: Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, hingga Cara Mencegah dan Mengobatinya
Penyakit Ain dalam Islam: Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, hingga Cara Mencegah dan Mengobatinya
Aktual
Tak Sekadar Toleransi, Maluku Cetak Duta Perdamaian dari Ruang Kelas
Tak Sekadar Toleransi, Maluku Cetak Duta Perdamaian dari Ruang Kelas
Aktual
Surat Yasin: Jumlah Ayat, Riwayat, Keutamaan, dan Tradisi Yasinan
Surat Yasin: Jumlah Ayat, Riwayat, Keutamaan, dan Tradisi Yasinan
Aktual
MUI: Rencana Gedung Umat untuk Perkuat Pengelolaan Zakat dan Wakaf
MUI: Rencana Gedung Umat untuk Perkuat Pengelolaan Zakat dan Wakaf
Aktual
Pesantren di Abad Kedua NU: Berani Berubah atau Tetap di Pinggiran Kekuasaan?
Pesantren di Abad Kedua NU: Berani Berubah atau Tetap di Pinggiran Kekuasaan?
Aktual
Mudik Gratis KAI 2026 Resmi Dibuka 13 Februari, 480 Tiket Jakarta–Semarang Siap Dipesan
Mudik Gratis KAI 2026 Resmi Dibuka 13 Februari, 480 Tiket Jakarta–Semarang Siap Dipesan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com