AMBON, KOMPAS.com - Upaya merawat perdamaian dan kerukunan antarumat beragama di Maluku menjadi hal penting yang terus dilakukan oleh berbagai pihak.
Tak hanya lewat perjumpaan dan interaksi masyarakat secara alami, usaha untuk memupuk rasa persaudaraan dan harmonisasi antarumat bergama di Maluku juga dilakukan lewat berbagai kegiatan yang dapat mendorong terbentuknya relasi sosial yang lebih kuat di masyarakat.
Seperti yang dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah Maluku dan Institut Leimena melalui seminar penguatan karakter bangsa untuk mendukung semangat hidup orang basudara melalui pendekatan literasi keagamaan lintas budaya.
Kegiatan yang diikuti ratusan kepala sekolah dan tenaga pendidik dari berbagai komunitas agama itu berlangsung di Kantor Gubernur Maluku dan dibuka oleh Sekda Maluku Sadli le, Kamis (12/2/2026).
Baca juga: Wujud Toleransi, Kedai Muslim di Liverpool Bagikan Makanan Gratis Saat Natal
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Sarlota Singerin, kemajemukan dan sejarah konflik sosial berbasis identitas yang pernah terjadi di Maluku mengharuskan dunia pendidikan di wilayah itu untuk lebih berperan aktif dalam merawat kerukunan dan menjadi duta perdamaian di masyarakat.
Menurutnya, seminar yang dilakukan tersebut sebagai wujud nyata dan komitmen pemerintah provinsi Maluku mejadikan daerah itu sebagai laboratorium perdamaian.
“Kami ingin terus membagikan contoh praktik penguatan literasi keagamaan lintas budaya dapat diadaptasi di sekolah dan mendorong upaya integrasi ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah di Maluku,” kata Sarlota kepada wartawan.
Ia mengatakan program penguatan literasi keagamaan lintas budaya secara nasional telah diadakan lebih dari empat tahun sejak 2021, sedangkan khusus di Maluku kegiatan tersebut merupakan kegiatan perdana.
Program tersebut telah berlangsung selama dua tahun dengan jumlah alumni sebanyak 175 guru dan kepala sekolah.
Menurut Sarlota, kemajemukan dan sejarah konflik sosial berbasis identitas yang pernah terjadi di Maluku mengharuskan dunia pendidikan di Maluku untuk lebih berperan dalam merawat kerukunan dan perdamaian.
“Institut Leimena memiliki pengalaman nasional dalam pengembangan dan implementasi pendekatan literasi keagamaan lintas budaya, termasuk pelatihan guru dan kepala sekolah di berbagai provinsi,” katanya.
Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan program tersebut bertujuan memperkuat kerukunan umat beragama yang majemuk dengan mendorong terwujudnya kompetensi para pendidik untuk membangun relasi dan kolaborasi dengan orang yang berbeda agama dan kepercayaan.
“Dimulai akhir tahun 2021 sebagai program pelatihan untuk guru sekolah dan madrasah, telah diadakan 72 kelas pelatihan dasar penguatan literasi keagamaan lintas budaya
dengan lulusan lebih dari 10.000 pendidik. Program ini juga mulai dikembangkan untuk perguruan tinggi dan lembaga pemerintahan,” kata Matius Ho.
Matius menambahkan program penguatan literasi keagamaan lintas budaya telah diakui secara nasional dan internasional sebagai model pendidikan untuk membangun kohesi sosial.
Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Malaysia tahun 2025, program tersebut secara resmi menjadi salah satu strategi ASEAN hingga tahun 2045 untuk menciptakan Komunitas ASEAN yang inklusif dan kohesif.
Ia mencontohkan pada Bulan November 2025 lalu, delegasi dari Kementerian Pendidikan Pemerintahan Bangsamoro di Filipina berkunjung ke Ambon, sebagai tamu Institut Leimena, untuk belajar dari pelaksanaan program tersebut di kota Ambon.
“Kami berharap seminar hari ini dapat membuahkan langkah-langkah tindak lanjut konkret karena keberhasilan upaya di Maluku ini tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara,” kata Matius.
Matius menambahkan khusus di Ambon, program ini dimodifikasi dengan pendekatan yang relevan dengan konteks budaya masyarakat setempat yaitu menggunakan musik sebagai pedagogi untuk membangun perdamaian karena Ambon telah ditetapkan sebagai City of Music oleh UNESCO.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Maluku Sadli le saat membuka kegiatan tersebut menyampaikan Maluku memiliki warisan leluhur yang luar biasa yaitu semangat hidup “Orang Basudara” sebagai sebuah jati diri yang tidak mempertentangkan perbedaan suku dan agama namun sebagai perekat.
“Tantangan zaman menuntut kita untuk tidak sekadar hidup berdampingan, saling memahami, namun yang terpenting saling menghargai satu sama lain. Di sinilah peran penting Literasi Keagamaan Lintas Budaya, dan merupakan kunci karakter hidup ‘Orang Basudara’ yang dilandasi rasa hormat dan empati,” kata Sadli.
Menurut Sadli, Pemerintah Provinsi Maluku sangat mendukung program tersebut, karena selain bertujuan untuk memperkuat hubungan persaudaraan dan perdamaian dengan pendekatan nilai budaya.
Kegiatan tersebut juga selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto terkait upaya memperkuat kehidupan sosial yang harmonis dnn meningkatkan toleransi antarumat bergama.
“Di sinilah peran penting literasi keagamaan lintas budaya dan merupakan kunci dari semangat hidup orang bersaudara yang dilandasi oleh rasa hormat dan saling menbghargai,” katanya.
Ia pun mengapresiasi pelaksanaan kegiatan terserbut dan berharap kegiatan itu dapat melahirkan duta perdamaian di Maluku.
“Kami mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini sebagai bagian dari tujuan bersama untuk hidup secara berdampingan berdasarkan martabat kemanusiaan dan rasa saling percaya,”
“Melalui seminar ini kami berharap para akademisi, tokoh agama, para guru dan semua peserta dan kita semua dapat menjadi duta perdamaian,” tambahnya.
Senada dengan itu, Wali Kota Ambon, Bodewin Melkias Wattimena, mengatakan seminar yang diinisiasi Pemprov Maluku dan Institut Leimena merupakan panggilan moral jati diri bangsa dan nilai kederahan yang mengakar kuat dalam hubungan persaudaraan masyarakat Maluku.
“Kita memiliki filosofi Orang Basudara yang menjadi perekat sosial. Nilai-nilai kearifan tersebut bukan sebatas pemahaman soal sejarah, tapi bagaimana yang paling penting terus dihidupkan, dan ditransformasikan menjadi nilai-nilai hidup bersama,” kata Bodewin.
Baca juga: Wamenag Romo Syafi’i: Toleransi Antarumat Beragama Fondasi Utama Persatuan Indonesia
Bodewin menegaskan literasi keagamaan lintas budaya bukan mencampuradukkan keyakinan, melainkan memahami nilai-nilai universal kemanusiaan tentang perdamaian, cinta kasih, keadilan, dan membangun ruang dialog antar agama.
“Kita tidak boleh tutup mata atas realitas saat ini, seperti fenomena eksklusivisme beragama dan segregasi terus tumbuh di kota ini, yang tidak boleh dibiarkan tumbuh tanpa arah. Maka kita harus hidupkan semangat hidup Orang Basudara,” kata Bodewin.
Adapun seminar tersebut ikut didukung oleh Yayasan Pembinaan Pendidikan Kristen (YPPK) Dr. JB Sitanala, Yayasan Sombar Negeri Maluku, dengan dukungan Gereja Protestan Maluku, IAKN Ambon, UIN AM Sangadji Ambon, dan Sasakawa Peace Foundation.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang