Editor
KOMPAS.com-Kementerian Agama menanggapi insiden warga negara asing yang memprotes kegiatan tadarus pada malam pertama Ramadhan di Dusun Gili Trawangan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Minggu (22/2/2026).
Peristiwa tersebut viral setelah beredar video keberatan terhadap penggunaan pengeras suara saat tadarus berlangsung.
Respons pemerintah muncul karena isu ini berkaitan dengan aturan penggunaan pengeras suara masjid dan musala. Kemenag menegaskan bahwa pedoman resmi telah berlaku secara nasional sejak 2022.
Baca juga: Masjid IKN Siap Tampung 29.000 Jemaah, Sholat Tarawih Perdana Digelar Awal Ramadan 1447 H
Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama, Thobib Al Asyhar, menyampaikan bahwa penggunaan pengeras suara sudah diatur dalam Surat Edaran Menteri Agama.
“Penggunaan pengeras suara sebenarnya sudah ada pedomannya dalam SE Menteri Agama untuk mewujudkan ketenteraman, ketertiban, dan kenyamanan bersama. Jadi kalau tadarus sebaiknya menggunakan speaker dalam sesuai Surat Edaran tersebut,” ujar Thobib Al Asyhar, Minggu (22/2/2026), dilansir dari laman Kemenag.
Ia menjelaskan bahwa pedoman tersebut bertujuan menjaga keseimbangan antara pelaksanaan syiar Islam dan harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk. Pengurus masjid dan musala diminta mematuhi ketentuan yang telah ditetapkan.
Aturan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Menteri Agama Nomor SE.05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala yang diterbitkan pada 18 Februari 2022.
Dalam surat edaran dijelaskan bahwa pengeras suara dibagi menjadi dua jenis, yakni pengeras suara dalam untuk kebutuhan di dalam ruangan masjid atau musala dan pengeras suara luar yang diarahkan ke luar ruangan. Volume pengeras suara diatur sesuai kebutuhan dengan batas maksimal 100 desibel.
Baca juga: 7 Tempat Mustajab Berdoa di Masjid Nabawi yang Perlu Diketahui
Sebelum azan Subuh, pembacaan Alquran atau selawat dapat menggunakan pengeras suara luar paling lama 10 menit.
Untuk azan Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya, penggunaan pengeras suara luar sebelum azan dibatasi maksimal 5 menit.
Setelah azan dikumandangkan, rangkaian sholat, zikir, doa, dan kajian menggunakan pengeras suara dalam.
Pada pelaksanaan Sholat Jumat, penggunaan pengeras suara luar sebelum azan diperbolehkan paling lama 10 menit.
Khutbah, sholat, zikir, dan doa menggunakan pengeras suara dalam, sedangkan azan tetap menggunakan pengeras suara luar.
Baca juga: Doa Mustajab di Masjid Nabawi: Melangitkan Harapan di Kota Rasulullah
Khusus kegiatan Ramadan seperti Sholat Tarawih, ceramah, kajian, dan tadarus Alquran, penggunaan pengeras suara dianjurkan menggunakan pengeras suara dalam.
Takbir Idul Fitri dan Idul Adha diperbolehkan menggunakan pengeras suara luar hingga pukul 22.00 waktu setempat dan selanjutnya menggunakan pengeras suara dalam. Sholat Id dapat menggunakan pengeras suara luar.
Pengaturan penggunaan speaker masjid juga diterapkan di sejumlah negara.
Di Malaysia, azan dan bacaan Alqur diperbolehkan menggunakan pengeras suara luar, sedangkan ceramah dan pembelajaran dibatasi di lingkungan masjid atau musala.
Arab Saudi membatasi volume azan dan iqamah tidak melebihi sepertiga volume maksimal pengeras suara. Mesir sejak 2018 mengatur penggunaan speaker masjid karena dinilai terlalu keras.
Bahrain memisahkan fungsi pengeras suara luar untuk azan dan pengeras suara dalam untuk kegiatan ibadah lainnya. Uni Emirat Arab menetapkan batas volume azan maksimal 85 desibel.
Baca juga: Muazin Masjid Nabawi Syekh Faisal Nauman Wafat, Mengabdi 25 Tahun Kumandangkan Azan
Di Turki, pengeras suara luar digunakan untuk azan dan khutbah Jumat, sementara Suriah menggunakan pengeras suara luar untuk azan dan pengeras suara dalam untuk khutbah serta pengajian.
Kementerian Agama menegaskan bahwa pedoman penggunaan pengeras suara masjid bertujuan menjaga keseimbangan antara syiar keagamaan dan ketenteraman bersama. Seluruh pengurus masjid dan musala diimbau mematuhi aturan tersebut sebagai bagian dari upaya merawat harmoni sosial di Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang