Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

7 Kue Kering Lebaran yang Tak Pernah Absen, Ternyata Punya Jejak Sejarah

Kompas.com, 23 Februari 2026, 13:30 WIB
Khairina

Penulis

KOMPAS.com-Kue kering klasik selalu hadir di meja tamu saat Idul Fitri di Indonesia. Tradisi menyajikan aneka kue kering berkembang seiring budaya silaturahmi dan open house yang menguat pada masa kolonial dan awal kemerdekaan.

Sejumlah kajian sejarah kuliner menunjukkan bahwa budaya baking di Indonesia tidak lepas dari pengaruh Eropa, terutama Belanda, yang kemudian beradaptasi dengan bahan lokal Nusantara.

Meski tidak semua kue memiliki catatan sejarah tertulis yang rinci, kemiripan bentuk, nama, dan teknik pengolahan menunjukkan adanya proses akulturasi budaya.

Baca juga: 10 Kue Kering Jadul Khas Lebaran, Dari Lidah Kucing hingga Pastel Mini

Sejarawan kuliner Fadly Rahman dalam Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia (2016) menjelaskan bahwa perkembangan industri gula, tepung terigu, dan mentega pada abad ke-19 mendorong tumbuhnya tradisi baking di Hindia Belanda, khususnya di kalangan masyarakat perkotaan.

Sri Owen dalam The Indonesian Kitchen (1976) juga mencatat kuatnya pengaruh dapur kolonial dalam pembentukan kuliner Indonesia modern.

Berikut tujuh kue kering klasik yang sering dikaitkan dengan pengaruh sejarah tersebut.

1. Nastar: Adaptasi Tart Nanas Belanda

Kue lebaran nastarAmalliaEka Kue lebaran nastar

Nastar secara etimologis diyakini berasal dari gabungan kata Belanda ananas (nanas) dan taart (tart), meskipun tidak ada arsip resmi yang secara eksplisit menyatakan penciptaan istilah tersebut. Kue ini memiliki kemiripan dengan pineapple tart yang dikenal dalam tradisi Eropa.

Petty Pandean-Elliott dalam The Indonesian Table (2016) menjelaskan bahwa banyak hidangan Indonesia modern lahir dari proses adaptasi resep kolonial dengan bahan lokal.

Dalam konteks tersebut, pineapple tart kemungkinan mengalami lokalisasi menjadi nastar berukuran kecil dengan selai nanas khas Nusantara.

Baca juga: Kue Lebaran Khas Betawi, Warisan Rasa yang Menghangatkan Silaturahmi

2. Kastengel: Warisan Kaasstengels

ilustrasi kastengelShutterstock/E Dewi Ambarw ilustrasi kastengel

Nama kastengel memiliki kemiripan dengan kata Belanda kaasstengels yang berarti batang keju. Bentuk dan bahan dasarnya serupa dengan kue keju Eropa yang populer pada abad ke-19.

Sri Owen mencatat bahwa resep-resep berbasis mentega dan keju berkembang luas di Hindia Belanda melalui pengaruh rumah tangga kolonial.

Kastengel diduga merupakan adaptasi lokal dari tradisi tersebut yang kemudian menjadi bagian dari suguhan Lebaran karena daya simpannya yang lama.

3. Putri Salju: Adaptasi Vanillekipferl

Ilustrasi kue putri saljudok. shutterstock/Edgunn Ilustrasi kue putri salju

Putri salju memiliki kemiripan dengan kue Eropa bernama Vanillekipferl, yakni kue mentega berbentuk bulan sabit dengan balutan gula bubuk.

Dalam The Oxford Companion to Food (Alan Davidson, 2014), Vanillekipferl disebut sebagai bagian dari tradisi kue mentega Eropa Tengah. Versi Indonesia diduga berkembang dari inspirasi serupa, lalu diberi nama “putri salju” yang lebih sesuai dengan konteks budaya lokal.

Baca juga: Kue Lebaran 2026 Apa Saja? Ini Daftar Suguhan Wajib dan Ide Unik yang Lagi Tren

4. Lidah Kucing: Jejak Kattentongen

Ilustrasi kue lidah kucing. SHUTTERSTOCK/ RIZVISUAL Ilustrasi kue lidah kucing.

Lidah kucing memiliki kemiripan bentuk dengan kattentongen atau cat’s tongue cookies dalam tradisi Belanda. Bentuk tipis memanjang dan teksturnya yang renyah menunjukkan kesamaan teknik.

Sri Owen menyebut bahwa teknik memanggang adonan tipis menjadi populer di lingkungan Indo-Eropa pada awal abad ke-20. Dari situ, resep kemungkinan menyebar dan menjadi bagian dari tradisi kue kering Lebaran.

5. Sagu Keju: Perpaduan Lokal dan Kolonial

ilustrasi kue sagu keju.SHUTTERSTOCK/Ika Rahma H ilustrasi kue sagu keju.

Sagu keju menunjukkan proses lokalisasi yang lebih jelas karena menggunakan tepung sagu, bahan asli Nusantara, yang dipadukan dengan teknik baking kolonial.

Fadly Rahman menjelaskan bahwa akulturasi kuliner sering terjadi melalui penggabungan teknik Eropa dengan bahan lokal. Sagu keju dapat dipahami sebagai hasil proses adaptasi tersebut.

Baca juga: Kue Lebaran Khas Betawi, Warisan Rasa yang Menghangatkan Silaturahmi

6. Kue Semprit: Adaptasi Butter Cookies

ilustrasi kue semprit untuk lebaran.SHUTTERSTOCK/Ika Rahma H ilustrasi kue semprit untuk lebaran.

Kue semprit memiliki kemiripan dengan butter cookies Eropa yang dicetak menggunakan spuit. Teknik pencetakan adonan mentega dikenal luas dalam tradisi baking Eropa.

Catatan sejarah kuliner menunjukkan bahwa praktik baking mentega berkembang di Hindia Belanda seiring ketersediaan bahan impor. Versi Indonesia kemudian menambahkan selai sebagai variasi rasa.

7. Kacang Telur: Akulturasi Tionghoa-Peranakan

Ilustrasi kacang telur. Dok. Shutterstock/ Dmitriy Kazitsyn Ilustrasi kacang telur.

Kacang telur berbeda karena berbasis teknik penggorengan, bukan oven. Teknik membalut kacang dengan adonan tepung dikenal dalam berbagai tradisi kuliner Asia.

Catherine Earl dalam Food Culture in Southeast Asia (2013) mencatat bahwa camilan berbasis kacang lazim hadir dalam tradisi jamuan Asia Tenggara karena daya simpannya yang lama. Di Indonesia, kacang telur kemudian menjadi bagian dari suguhan Lebaran karena praktis dan mudah diproduksi dalam jumlah besar.

Tradisi Lebaran dan Budaya Menjamu

Tradisi menyajikan kue kering saat Lebaran tidak hanya berkaitan dengan rasa, tetapi juga simbol keramahan dan keterbukaan rumah bagi tamu.

Jejak pengaruh Eropa, Tionghoa, dan bahan lokal Nusantara memperlihatkan bahwa kue kering klasik Lebaran merupakan hasil proses akulturasi panjang. Meski tidak semua memiliki dokumentasi sejarah yang detail, kemiripan teknik dan nama menunjukkan adanya pertemuan budaya yang membentuk identitas kuliner Idulfitri di Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com