Editor
KOMPAS.com - Ingatan tentang banjir bandang di Aceh Timur masih membekas bagi para penyintas hingga kini. Momentum Lebaran pun menjadi titik penting untuk kembali menata kehidupan.
Meski waktu terus berjalan, trauma dan kehilangan belum sepenuhnya hilang. Namun, di tengah keterbatasan, semangat bangkit mulai terlihat.
Dilansir dari Antara, bencana banjir bandang yang melanda Dusun Rantau Panjang Rubek, Desa Sijudo, Kabupaten Aceh Timur, pada Rabu, 26 November 2025 lalu telah menjadi peristiwa yang sulit dilupakan oleh warga, termasuk bagi sang Kepala Dusun, Jahidin.
Baca juga: Prabowo Apresiasi Pemulihan Aceh Tamiang yang Hampir 100 Persen
Hari yang awalnya berjalan normal berubah menjadi mimpi buruk ketika air datang begitu cepat seperti tsunami.
Dusun yang berada di tepi Sungai Arakundo itu porak-poranda, menghancurkan permukiman 46 kepala keluarga hingga hanya menyisakan satu rumah.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, banjir tersebut menghancurkan rumah, harta benda, serta lahan yang menjadi sumber penghidupan warga.
Baca juga: 6 Ton Daging Bantuan Presiden Prabowo Disalurkan ke Korban Bencana di Aceh Barat
Jahidin mengaku sulit menggambarkan kesedihan yang dirasakan warganya. Namun, ia memilih untuk tetap mengingat peristiwa tersebut sebagai pelajaran hidup.
"Ini pelajaran agar kita lebih bersujud lagi kepada Allah," ujar dia sembari menunjuk pohon-pohon pinang yang pucuknya melengkung hingga ke tanah yang dimaknainya sebagai sikap sujud.
Menurutnya, posisi pohon pinang tersebut menyerupai orang yang sedang bersujud.
"Pohon-pohon pinang itu saja bersujud karena banjir yang merupakan kuasa Allah. Kita sebagai manusia seharusnya lebih dari itu," kata Jahidin.
Beberapa hari setelah bencana, warga hidup dalam kesedihan dan keterbatasan. Dusun yang sebelumnya ramai berubah menjadi sunyi dengan sisa-sisa kehancuran.
Warga bertahan dalam kondisi sulit, saling menguatkan di tengah ketidakpastian. Setiap hari menjadi perjuangan untuk bertahan hidup sambil menunggu bantuan.
Bantuan darurat akhirnya datang dan menjadi titik awal pemulihan. Tenda-tenda darurat didirikan sebagai tempat tinggal sementara, sementara dapur umum mulai beroperasi untuk memenuhi kebutuhan makan warga.
Selain itu, alat berat dikerahkan untuk membersihkan lumpur dan sisa kayu akibat banjir. Proses ini menjadi tanda dimulainya pemulihan dusun.
Peran pemerintah dinilai sangat penting dalam membantu pemulihan melalui bantuan logistik, tenaga, dan dukungan lainnya. Selain itu, berbagai komunitas juga turut membantu, termasuk Atjeh Connection Foundation yang mendampingi warga selama masa sulit.
"Kehadiran para relawan membawa semangat baru bagi kami untuk bangkit melewati semua ini. Termasuk juga seperti kedatangan teman-teman dari ANTARA ini," ujar Jahidin.
Saat ini, pemulihan telah berlangsung lebih dari tiga bulan. Sebagian warga telah menempati hunian sementara, sementara lainnya masih menunggu pembangunan rumah selesai.
Meski belum sepenuhnya pulih, tanda-tanda kehidupan mulai terlihat. Warga perlahan menata kembali aktivitas sehari-hari dengan semangat kebersamaan yang semakin kuat.
Di tengah proses pemulihan, warga tetap menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah dengan menjalankan tradisi meugang, yaitu makan daging bersama menjelang Lebaran.
Sejak pagi, warga berkumpul dan berbagi tugas. Kaum laki-laki menyembelih hewan dan memotong daging, sementara perempuan menyiapkan bumbu dan memasak.
Suasana kebersamaan terasa hangat melalui percakapan, tawa, dan kerja sama. Bagi warga, meugang bukan sekadar makan bersama, tetapi juga momen mempererat hubungan sosial.
Hidangan kemudian dibagikan dan disantap bersama dalam suasana sederhana namun penuh makna.
Selain meugang, warga juga bergotong royong menyiapkan lapangan untuk pelaksanaan shalat Ied.
Dengan peralatan terbatas, mereka membersihkan dan meratakan tanah agar ibadah dapat berlangsung khusyuk.
Semangat kebersamaan juga terlihat saat malam takbiran. Warga menggelar pawai obor sambil mengumandangkan takbir, menciptakan suasana haru dan penuh sukacita.
Pesta kembang api turut memeriahkan malam, menjadi simbol kegembiraan dalam menyambut hari kemenangan.
Bagi Jahidin, rangkaian kegiatan tersebut mencerminkan semangat kebangkitan warga setelah bencana.
Saat Idul Fitri tiba, warga melaksanakan shalat Id bersama di lapangan. Dalam suasana khusyuk, Jahidin tak kuasa menahan haru melihat warganya bersujud dalam doa, mengingatkan pada pohon-pohon pinang yang “bersujud” di tanah yang pernah dilanda bencana.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang