Editor
KOMPAS.com – Di tengah hamparan gurun Arab Saudi, reruntuhan kuno Qurh berdiri sunyi. Namun di balik keheningan itu, tersimpan kisah panjang tentang perdagangan, budaya, dan peradaban yang pernah berjaya ratusan tahun lalu.
Situs arkeologi Qurh yang terletak sekitar 20 kilometer di selatan Kota Tua AlUla ini menjadi saksi bisu pentingnya wilayah tersebut sebagai jalur penghubung antara utara dan selatan Semenanjung Arab.
Pada masanya, Qurh merupakan bagian penting dari Wadi Al-Qura—sebuah kawasan subur yang menjadi titik persinggahan para pedagang.
Baca juga: Mengapa Arab Saudi Lebih Bahagia daripada AS dan Inggris di 2026?
Wilayah ini dilalui oleh Incense Route, salah satu jalur perdagangan paling vital di dunia kuno. Melalui rute ini, kafilah membawa barang berharga seperti dupa dan rempah dari selatan menuju utara.
Letaknya yang strategis menjadikan Qurh sebagai pusat aktivitas ekonomi, titik pertemuan budaya, dan sekaligus kota transit bagi para pedagang lintas wilayah.
Hingga kini, sisa-sisa kejayaan Qurh masih bisa ditemukan di tengah bentang alam gurun yang dikelilingi pegunungan.
Para arkeolog menemukan berbagai peninggalan, seperti struktur bangunan kuno, pasar dan jalanan, serta pola arsitektur dari era awal Islam.
Temuan ini menunjukkan bahwa Qurh bukan sekadar tempat singgah, tetapi sebuah kota besar dengan aktivitas ekonomi dan sosial yang hidup.
Seiring waktu, sekitar akhir abad ke-6 Hijriah, nama Qurh mulai meredup.
Peran kota ini kemudian digantikan oleh AlUla yang berkembang menjadi pusat permukiman baru di wilayah tersebut.
Meski demikian, jejak Qurh tetap menjadi bagian penting dari sejarah panjang kawasan ini.
Saat ini, upaya pelestarian terus dilakukan oleh otoritas setempat melalui penelitian, survei lapangan, dan penggalian arkeologi.
Kerja sama dengan peneliti internasional juga dilakukan untuk mengungkap lebih banyak cerita yang masih tersembunyi di bawah pasir gurun.
Baca juga: Banjir Bandang Ancam Arab Saudi, Peringatan Merah Dikeluarkan di Banyak Wilayah
Qurh bukan hanya sekadar reruntuhan. Ia adalah pengingat bahwa di tengah gurun yang tampak sunyi, pernah berdiri sebuah kota yang ramai oleh aktivitas manusia, perdagangan, dan pertukaran budaya.
Kini, ketika dunia kembali menoleh ke AlUla sebagai destinasi bersejarah, Qurh perlahan kembali “berbicara”—mengisahkan masa lalu yang membentuk peradaban di Semenanjung Arab.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang