MALANG, KOMPAS.com - Tidak semua kisah Lebaran tentang ketupat, opor ayam, baju baru, atau kumpul bersama keluarga merayakan hari kemenangan.
Di tengah hiruk-pikuk itu dua sosok dari generasi berbeda menjalani Lebaran dengan cara yang tidak biasa.
Mereka rela menunda kebahagiaannya sendiri demi memastikan antrean lebih tertib, perjalanan aman, dan senyum para pemudik yang sampai tujuan.
Dalam Karya Bakti Lebaran 2026 yang menjadi pengalaman yang tidak terlupakan selama pelaksanaan serentak nasional dari 14-27 Maret ini. Mereka siaga di posko, menyambut orang-orang yang sedang dalam perjalanan pulang.
Pulang yang Selalu Berarti Mengabdi
Bagi Mohammad Nawab, Kota Malang adalah tempat yang selalu memanggilnya untuk kembali melakukan pengabdian.
Sejak remaja ia aktif di Pramuka dan kini di dipercaya sebagai wakil komandan bidang kehumasan dan data dalam Karya Bakti Lebaran. Meski bekerja dan menetap di Madura, ia tetap “riwa-riwi” kembali ke Malang setiap ada panggilan tugas.
“Jadi memang agenda ini oleh kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh gerakan pramuka kwartir nasional. Memang kita selalu menegikuti arahan dari pusat untuk melakukan pelaksanaan kegiatan dimana setiap tahun kegiatannya berbeda-beda,” tutur pria yang biasa disapa Nawab itu kepada Kompas.com, Jumat (27/2/2026) siang.
Baginya, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tetapi bentuk nyata dari nilai yang selama ini dipelajari dalam pramuka. Yaitu gotong royong, kepedulian, dan keberanian hadir di tengah masyarakat.
Tahun 2026 ini menjadi momen penting, karena untuk pertama kalinya Pramuka Kota Malang memiliki posko mandiri, bukan sekadar bergabung dengan pihak keamanan selama Karya Bakti Lebaran.
“Kita bahkan diminta bukan hanya bersinergi dengan Polres tapi bermitra,” imbuhnya.
Anggota Pramuka Kota Malang saat menjalani Karya Bakti Lebaran, yang bertugas membantu kelancaran dan keamanan mudik di Stasiun Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (26/3/2026) siang.Sehingga kepercayaan itu menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar. Posko bukan hanya tempat berjaga, tetapi simbol kehadiran nyata Pramuka di tengah masyarakat. Meskipun ada harga yang harus dibayar.
“Teman-teman sampai merelakan dengan sukarela tidak berkumpul dengan keluarga karena memilih tugas di Pramuka ini. Saya juga begitu, pramuka Kota Malang ini sudah menjadi ‘rumah’ buat saya,” ujar Mohammad Nawab.
“Alhamdulillah banyak kegiatan pengabdian langsung ke masyarakat yang kita lakukan, Jadi teman-teman juga betah dan semangat,” sambungnya.
Baca juga: Doa Naik Kendaraan Darat, Laut, dan Udara untuk Mudik Lengkap
Belajar Dewasa di Tengah Keramaian
Di sisi lain, pengalaman berbeda dirasakan Apta Bagas Satriyo. Siswa yang tergabung dalam Saka Wanabakti ini mendapat tugas menjaga pos pengamanan di Stasiun Kota Malang yang menjadi titik paling sibuk saat arus mudik.
Meski hanya dua hari bertugas, pengalaman itu terasa jauh lebih panjang dan bermakna. Di tengah keramaian, ia membantu mengatur penumpang, memastikan arus naik dan turun kereta tetap tertib.
“Dari pelajaran yang saya petik itu bisa lebih mudah berkomunikasi sama orang baru,” kata salah satu siswa SMU Negeri 10 Kota Malang itu.
Pengalaman yang dirasakan Apta Bagas Satriyo, siswa yang tergabung dalam Saka Wanabakti ini mendapat turut aktif dalam Karya Bakti Lebaran, salah satunya membantu penumpang di Stasiun Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (26/3/2026) siang.Dari pengalaman yang sudah dijalani, ia mengaku tahun ini terasa berbeda dari tahun sebelumnya karena bertemu relawan dari berbagai latar belakang.
“Tahun ini ketambahan teman-teman dari Pandega ada yang sudah sudah bekerja dan kuliah mengikuti Pospam ini,” imbuhnya.
Pengalaman itu membuatnya belajar lebih cepat bukan hanya tentang tugas, tetapi juga tentang kehidupan. Termasuk mulai terbiasa mengatur waktu secara mandiri.
“Selama ikut kegiatan ini diijinkan sama orangtua karena untuk mendapatkan pengalaman positif di luar sekolah,” ujar Apta Bagas Satriyo.
Baca juga: Ansor Blora Buka 5 Posko Mudik di Jalur Strategis, Pemudik Bisa Istirahat Gratis
Pengabdian yang Menyatukan Generasi
Karya Bakti Lebaran bukan hanya tentang membantu pemudik saja. Lebih dari itu, ada ruang pertemuan lintas generasi dalam menjalankan tugas. Pendekatan yang digunakan juga unik karena berbasis kemandirian anggota muda.
“Asas pendidikannya itu adalah dari penegak oleh penegak dan untuk penegak. jadi memang kita hanya dituntun untuk mengawasi dan membina mereka agar mereka bisa berjalan sendiri dan mandiri,” tutur Mohammad Nawab.
Membuat hubungan yang terjalin bukan sekadar pembina dan peserta, tetapi menjadi kemitraan.
“Kita bukan hanya sebagai pembina saja tapi kita menjadi partner mereka di mana kita bisa belajar bareng,” pungkasnya.
Apalagi kegiatan ini juga sejalan dengan prinsip keselamatan global dari World Organization of the Scout Movement melalui konsep safe from harm, yang menekankan perlindungan dan keamanan dalam setiap aktivitas.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang