Editor
KOMPAS.com - Ibadah haji menjadi puncak perjalanan spiritual umat Islam yang sarat makna dan harapan.
Di Indonesia, momen ini tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga melibatkan dimensi sosial yang kuat.
Salah satu tradisi yang terus berkembang adalah titip doa kepada orang yang berangkat haji ke Tanah Suci, baik itu keluarga, tetangga, ataupun teman.
Kebiasaan ini dilakukan dengan harapan doa dipanjatkan di tempat dan waktu yang mustajab.
Baca juga: Wukuf di Arafah: Pengertian, Waktu Pelaksanaan, Dalil, Syarat, dan Doa yang Dibaca
Permintaan ini didasari keyakinan bahwa ada lokasi dan momen tertentu selama haji yang memiliki keutamaan dalam berdoa.
Beberapa tempat yang diyakini mustajab antara lain Multazam, Raudhah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Di lokasi-lokasi tersebut, doa diharapkan lebih mudah dikabulkan.
Bentuk doa yang dititipkan pun beragam, mulai dari permohonan rezeki, jodoh, kesehatan, keturunan, hingga kesuksesan usaha dan karier.
Baca juga: Jabal Rahmah, Sejarah Bukit di Arafah yang Jadi Simbol Kasih Sayang dan Pengampunan
Terkait tradisi ini, beberapa ulama dan ahli pernah mengungkap hukumnya, yaitu memperbolehkan untuk titip doa kepada jemaah yang berangkat haji.
Dilansir dari Tribunnewsmaker.com, dalam sebuah kajian, Ustaz Syafiq Riza Basalamah menjelaskan keutamaan doa saat wukuf di Arafah.
"Nabi SAW tidak memimpin doa berjamaah (saat wukuf di Arafah) Nabi ngajarin umatnya pinter. Dari sini persiapan tolong doa itu sudah dibaca, bukan untuk menghafal. Allah berfirman yang artinya, sebaik-baiknya doa itu doa Arafah, di antara keutamaan arafah ini Allah akan mengambulkan doa orang-orang yang berdoa. Dan doa buat orang lain yang dibaca oleh orang-orang tersebut," jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa membaca doa titipan merupakan bagian dari ibadah.
"Maka kalau ada titipan doa, antum baca antum catat, ini ibadah. Bukan karena kita mendoakan fulan (orang lain), tapi beribadah kepada Allah juga. Ya Allah Fulan kepengen ini ya Allah, kabulkan. Dibaca satu persatu doa fulan," tambahnya.
Sementara itu, Dosen UIN Raden Mas Said Surakarta, Dr. H. Kholilurrohman M.SI dalam tayangan Program OASE di kanal YouTube Tribunnews.com, Senin (4/7/2022), menyebut tradisi titip doa diperbolehkan dalam Islam.
"Boleh sekali, jadi misalnya seseorang mau pergi haji. Mungkin ada bapak, ibu, atau keluarganya nulis doa.Nanti di tempat-tempat mustajabah, seperti Multazam, Arafah, Muzdalifah dan Mina itu (doa) dibacakan," kata Kholil.
Ilustrasi berdoa ketika tengah mengerjakan rukun haji.Menurutnya, praktik ini wajar karena sesama Muslim dianjurkan saling mendoakan.
"Itu (titip doa) wajar, kan sebaiknya sesama muslim saling mendoakan tanpa diketahui. Apalagi ini didoakan di tempat-tempat mustajabah," terang Kholil.
Ia juga menilai titip doa sebagai bentuk timbal balik dari jemaah kepada orang-orang yang mendoakannya.
"Dan itu bagus, sebagai kontribusi kita. Karena mereka sudah mendoakan kita di tanah suci agar bisa sehat pulang kembali ke tanah air dan mebawa Haji Mabrur. Timbal balik kita adalah mendoakan mereka dari tempat-tempat yang mustajabah," pungkasnya.
Dikutip dari laman Kemenag, Dr. H. Thobib Al-Asyhar, M.Si menjelaskan bahwa tradisi titip doa tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga mencerminkan kuatnya relasi sosial di masyarakat.
Titipan doa menjadi simbol kepercayaan, kedekatan, dan harapan kepada jemaah haji. Tak jarang, jemaah mencatat doa-doa tersebut agar tidak terlewat saat berada di lokasi mustajab.
Hal ini menunjukkan adanya tanggung jawab moral yang dirasakan oleh jemaah terhadap amanah yang diberikan.
Seiring perkembangan teknologi, tradisi ini ikut bertransformasi. Titip doa kini tidak hanya dilakukan secara langsung, tetapi juga melalui pesan digital seperti WhatsApp, Facebook, hingga Instagram.
Bahkan, sebagian calon jemaah membuka ruang khusus di media sosial untuk menerima titipan doa dari banyak orang. Respons yang diterima pun sering kali sangat besar, mencerminkan tingginya harapan masyarakat.
Tradisi titip doa menunjukkan bahwa ibadah haji tidak hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif.
Praktik ini memperkuat hubungan sosial sekaligus memperluas makna spiritual ibadah haji.
Dalam pandangan Islam, titip doa diperbolehkan dan menjadi bagian dari anjuran untuk saling mendoakan.
Dengan demikian, tradisi ini tetap relevan dan terus hidup di tengah masyarakat, baik secara langsung maupun melalui media digital.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang