KOMPAS.com – Menjelang keberangkatan haji 2026 yang dijadwalkan mulai 22 April, calon jemaah dihadapkan pada satu fase krusial, yaitu persiapan.
Tidak hanya soal koper dan dokumen, tetapi juga kesiapan diri secara menyeluruh, fisik, mental, spiritual, hingga finansial.
Ibadah haji dikenal sebagai ibadah yang kompleks. Ia bukan sekadar perjalanan religi, melainkan rangkaian aktivitas panjang yang menuntut ketahanan tubuh, kejernihan hati, serta kedisiplinan tinggi. Karena itu, persiapan menjadi fondasi utama untuk meraih haji yang mabrur.
Merujuk pada buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah 2026 terbitan Kementerian Haji dan Umrah RI, kesiapan menyeluruh menjadi kunci agar ibadah berjalan lancar dan penuh makna.
Baca juga: Menhaj Genjot Digitalisasi Haji 2026, Luncurkan Aplikasi hingga Perketat Pengawasan
Langkah pertama yang sering kali terabaikan justru yang paling mendasar: memperbaiki hubungan dengan Allah.
Calon jemaah dianjurkan memperbanyak istighfar, zikir, dan doa. Ini bukan sekadar rutinitas, melainkan proses pembersihan diri dari dosa dan kesalahan masa lalu.
Dalam buku Keutamaan Doa & Dzikir untuk Hidup Bahagia Sejahtera karya M. Khalilurrahman Al Mahfani, disebutkan bahwa dzikir menjadi sarana menenangkan jiwa sekaligus membuka pintu kemudahan dalam setiap urusan.
Selain itu, memperkuat niat juga penting. Haji bukan perjalanan wisata religi, melainkan ibadah yang membutuhkan keikhlasan total. Niat yang lurus akan memengaruhi kualitas ibadah selama di Tanah Suci.
Persiapan berikutnya adalah menuntaskan tanggung jawab yang ditinggalkan. Ini mencakup urusan keluarga, pekerjaan, hingga kewajiban finansial seperti utang.
Dalam perspektif fikih, seseorang yang hendak berhaji dianjurkan memastikan tidak ada hak orang lain yang terabaikan.
Dalam buku Fiqh al-Zakah karya Yusuf al-Qaradawi dijelaskan bahwa tanggung jawab sosial harus ditunaikan sebelum menjalankan ibadah besar.
Langkah ini penting agar selama di Tanah Suci, pikiran tidak terbebani oleh urusan yang belum selesai.
Tradisi berpamitan sebelum berangkat haji bukan sekadar budaya, tetapi memiliki makna spiritual yang dalam.
Mengunjungi keluarga, kerabat, dan tetangga untuk meminta maaf serta doa restu menjadi bagian dari persiapan batin.
Silaturahmi ini juga menjadi momen refleksi, menyadari bahwa perjalanan haji adalah perjalanan yang tidak ringan, sehingga membutuhkan dukungan moral dari orang-orang terdekat.
Bagi yang mampu, mengadakan walimatus safar menjadi bentuk rasa syukur sebelum berangkat.
Namun, Islam menekankan agar kegiatan ini tidak disertai sikap riya, sum’ah atau berbangga diri.
Dalam buku 63 Adab Sunnah karya Rachmat Morado Sugiarto, dijelaskan bahwa setiap amalan yang bernilai ibadah harus dijaga dari niat yang menyimpang. Kesederhanaan justru menjadi kunci keberkahan.
Haji adalah ibadah yang menuntut aktivitas fisik tinggi, mulai dari tawaf, sa’i, hingga wukuf di Arafah. Karena itu, menjaga kesehatan menjadi keharusan.
Calon jemaah dianjurkan mulai menerapkan pola hidup sehat, menjaga pola makan, rutin berolahraga ringan, serta cukup istirahat.
Dalam kajian kesehatan, kondisi fisik yang prima akan membantu tubuh beradaptasi dengan cuaca ekstrem di Arab Saudi.
Buku Buku Pintar Sains dalam Al-Qur’an karya Nadiah Thayyarah juga menegaskan bahwa tubuh manusia membutuhkan keseimbangan agar mampu menjalankan aktivitas berat secara optimal.
Selain fisik, aspek pengetahuan juga sangat penting. Mempelajari manasik haji membantu jemaah memahami setiap tahapan ibadah, mulai dari ihram hingga tahallul.
Tanpa pemahaman yang cukup, ibadah bisa dilakukan secara mekanis tanpa makna. Dalam kitab At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an, Imam Nawawi menekankan pentingnya ilmu dalam setiap ibadah agar dilakukan dengan benar dan khusyuk.
Manasik juga membantu jemaah menghindari kesalahan yang bisa mengurangi kesempurnaan ibadah.
Di sisi lain, kesiapan finansial juga tidak kalah penting. Calon jemaah perlu memastikan membawa bekal yang cukup dan halal, baik untuk kebutuhan pribadi maupun keluarga yang ditinggalkan.
Islam menekankan keseimbangan dalam hal ini. Tidak berlebihan, tetapi juga tidak kekurangan. Prinsip ini sejalan dengan ajaran moderasi dalam ekonomi Islam.
Persiapan administratif menjadi hal teknis yang wajib diperhatikan. Dokumen seperti paspor, visa haji, bukti pelunasan Bipih, hingga kartu kesehatan harus dipastikan lengkap.
Selain itu, perlengkapan seperti pakaian, obat-obatan pribadi, dan kartu ATM berlogo internasional juga perlu disiapkan dengan matang.
Menariknya, ada juga anjuran untuk tidak membawa dokumen yang tidak diperlukan seperti KTP atau SIM ke Tanah Suci, demi menghindari risiko kehilangan.
Baca juga: Jangan Bawa Ini! Daftar Barang Terlarang di Bagasi Pesawat Haji 2026
Jika ditarik lebih dalam, seluruh persiapan ini menunjukkan satu hal: haji adalah perjalanan total. Ia melibatkan tubuh, pikiran, hati, dan harta sekaligus.
Dalam buku Ekonomi Publik dalam Perspektif Islam karya M. Umer Chapra, disebutkan bahwa ibadah dalam Islam tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan sistem kehidupan yang lebih luas.
Persiapan yang matang bukan hanya memudahkan perjalanan, tetapi juga menentukan kualitas ibadah itu sendiri.
Pada akhirnya, setiap calon jemaah tentu berharap meraih haji mabrur. Namun harapan itu tidak datang begitu saja. Ia lahir dari kesiapan yang sungguh-sungguh.
Di sinilah makna sejati persiapan: bukan sekadar daftar yang harus dicentang, tetapi proses membentuk diri menjadi tamu Allah yang layak.
Sebab dalam haji, yang diuji bukan hanya kemampuan berangkat, tetapi juga kesiapan untuk berubah sepulangnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang