Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Saat Umar bin Khattab Temukan Ibu Memasak Batu untuk Anaknya

Kompas.com, 15 April 2026, 17:00 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Malam itu sunyi. Angin gurun berembus pelan menyapu perkampungan kecil di pinggiran Madinah.

Di tengah kesunyian itu, tangis seorang anak terdengar berulang, lirih, tetapi cukup untuk mengguncang hati siapa pun yang mendengarnya.

Tangisan itulah yang kemudian mengantarkan Umar bin Khattab pada sebuah peristiwa yang kelak dikenang sepanjang sejarah, kisah seorang ibu yang “memasak batu” demi menenangkan anaknya yang kelaparan.

Kisah ini bukan sekadar cerita haru. Ia adalah cermin kepemimpinan, empati, dan tanggung jawab sosial dalam Islam.

Baca juga: Peran Ibu dalam Keluarga Menurut Islam: Pilar Utama Pembentuk Peradaban

Malam Pengawasan Seorang Khalifah

Sebagai khalifah, Umar bin Khattab dikenal tidak hanya memimpin dari istana, tetapi juga turun langsung memastikan kondisi rakyatnya.

Dalam banyak riwayat klasik, termasuk dalam kitab Tarikh al-Khulafa karya Jalaluddin as-Suyuti, disebutkan bahwa Umar kerap berkeliling di malam hari untuk melihat langsung keadaan masyarakat.

Malam itu, ditemani seorang pembantu, Umar berjalan menyusuri perkampungan terpencil. Ia tidak ingin dikenal.

Baginya, pengawasan yang jujur hanya bisa dilakukan tanpa atribut kekuasaan. Di tengah perjalanan, ia mendengar tangisan anak kecil yang tak kunjung reda.

Baca juga: Kisah Haru Salman Al-Farisi, Pencari Kebenaran dari Persia

Tangisan yang Menggetarkan Hati

Suara itu membawanya ke sebuah gubuk sederhana. Dari luar, terlihat seorang ibu duduk di depan tungku dengan panci di atasnya.

Ia tampak mengaduk sesuatu, seolah sedang memasak. Namun, tangisan anak kecil di sampingnya justru semakin memilukan.

Umar pun mendekat dan bertanya dengan lembut, “Apa yang sedang engkau masak? Mengapa anak itu terus menangis?”

Dengan suara berat penuh kesedihan, sang ibu menjawab bahwa anaknya menangis karena kelaparan. Ia tidak memiliki makanan sedikit pun di rumahnya.

Lalu ia mengungkapkan sesuatu yang membuat Umar terdiam:

“Yang aku masak hanyalah batu. Aku ingin anakku mengira makanan sedang disiapkan, agar ia bisa tertidur sambil menunggu.”

Keluhan Seorang Ibu kepada Pemimpin

Di tengah kepedihan itu, sang ibu juga melontarkan keluhan:

“Celakalah Amirul Mu’minin Umar, yang membiarkan rakyatnya kelaparan.”

Kalimat itu menusuk hati Umar. Namun ia tidak membela diri, apalagi mengungkapkan identitasnya. Ia justru merasa bersalah.

Dalam perspektif kepemimpinan Islam, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Ahkam as-Sulthaniyyah karya Al-Mawardi, seorang pemimpin bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya, bahkan terhadap mereka yang paling lemah sekalipun.

Umar pun pergi, bukan untuk menghindar, tetapi untuk bertindak.

Karung Gandum di Punggung Seorang Khalifah

Tanpa menunda, Umar kembali ke pusat pemerintahan, menuju Baitul Mal. Ia mengambil sendiri sekarung gandum dan memikulnya di punggungnya.

Pengawalnya mencoba membantu.

Namun Umar menolak.

“Apakah engkau akan memikul dosaku di hadapan Allah?” jawabnya tegas.

Dalam buku Kisah-Kisah Teladan Para Khalifah karya Ali Muhammad Ash-Shallabi, disebutkan bahwa tindakan Umar ini bukan sekadar simbolik. Ia benar-benar memahami bahwa kepemimpinan adalah amanah, bukan kehormatan semata.

Ia berjalan sendiri membawa beban itu, menembus malam yang gelap.

Baca juga: Kisah Runtuhnya Persia: Strategi Islam dari Abu Bakar ke Umar

Memasak untuk Rakyatnya Sendiri

Sesampainya di gubuk, Umar tidak hanya menyerahkan gandum. Ia langsung menyalakan api, menuangkan bahan, dan memasak sendiri makanan untuk ibu dan anak tersebut.

Ia menunggu hingga makanan matang. Bahkan dalam beberapa riwayat, disebutkan Umar meniup api hingga asap mengenai wajahnya.

Ia tidak pergi sebelum memastikan anak itu makan hingga kenyang dan berhenti menangis.
Pemandangan itu sederhana, tetapi sarat makna: seorang kepala negara memasak untuk rakyatnya sendiri.

Sebuah Ucapan yang Menggetarkan

Setelah kenyang, sang ibu mengucapkan terima kasih.

Namun ia tidak tahu siapa pria yang menolongnya malam itu.

“Engkau lebih baik daripada Umar,” katanya tulus.

Umar terdiam. Tidak ada kebanggaan, tidak pula pembelaan. Hanya kesedihan yang dalam.
Ia kemudian berpesan agar keesokan hari sang ibu datang ke Baitul Mal untuk mendapatkan bantuan tetap.

Pertemuan yang Mengungkap Identitas

Keesokan harinya, sang ibu datang sesuai pesan. Ia terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang membantunya adalah khalifah sendiri.

Ia merasa malu.

Namun Umar justru menyambutnya dengan senyum dan meminta maaf.

Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang merasa paling bertanggung jawab atas penderitaan rakyatnya, bukan yang mencari pujian.

Sikap Umar menjadi contoh nyata dari prinsip tersebut.

Baca juga: Kisah Uwais al-Qarni, Dipuji Rasulullah karena Baktinya kepada Sang Ibu

Hikmah di Balik Kisah “Memasak Batu”

Kisah ini menyimpan banyak pelajaran mendalam.

Pertama, tentang empati. Seorang ibu rela melakukan apa pun untuk menenangkan anaknya, bahkan dengan “memasak batu”.

Kedua, tentang tanggung jawab kepemimpinan. Umar tidak menyalahkan keadaan, tetapi langsung bertindak.

Ketiga, tentang keadilan sosial. Islam tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga memastikan kesejahteraan masyarakat.

Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, ditegaskan bahwa pemimpin wajib menjamin kebutuhan dasar rakyatnya, terutama pangan.

Antara Kepemimpinan dan Amanah

Kisah ini juga relevan hingga hari ini. Ia mengajarkan bahwa kekuasaan bukan tentang jabatan, melainkan tentang tanggung jawab.

Seorang pemimpin tidak cukup hanya membuat kebijakan. Ia harus hadir, melihat, dan merasakan langsung kondisi rakyatnya.

Dan seorang ibu, dalam keterbatasannya, tetap mengajarkan arti cinta dan pengorbanan.

Refleksi: Ketika Tangis Menjadi Pengingat

Tangisan anak kecil di malam itu bukan sekadar suara. Ia adalah pengingat bahwa di balik statistik dan kebijakan, ada manusia yang membutuhkan perhatian.

Dan di balik sosok pemimpin besar, ada hati yang bisa tersentuh oleh penderitaan rakyatnya.

Kisah “memasak batu” bukan hanya cerita masa lalu. Ia adalah pelajaran abadi tentang kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab, nilai-nilai yang tidak lekang oleh waktu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Cara dan Waktu Terbaik Potong Kuku Menurut Sunnah Nabi
Cara dan Waktu Terbaik Potong Kuku Menurut Sunnah Nabi
Aktual
Setelah Syawal Bulan Apa? Ini Keistimewaan Zulkaidah
Setelah Syawal Bulan Apa? Ini Keistimewaan Zulkaidah
Aktual
Hukum Mandi Keramas Sebelum Sholat Idul Adha, Wajib atau Sunnah?
Hukum Mandi Keramas Sebelum Sholat Idul Adha, Wajib atau Sunnah?
Aktual
Teks Khutbah Jumat 17 April 2026: 5 Golongan yang Harus Dijauhi Menjelang Akhir Zaman
Teks Khutbah Jumat 17 April 2026: 5 Golongan yang Harus Dijauhi Menjelang Akhir Zaman
Aktual
Doa Akhir Bulan Syawal dan Amalan Sunnah Penutup Penuh Berkah
Doa Akhir Bulan Syawal dan Amalan Sunnah Penutup Penuh Berkah
Doa dan Niat
Wamenhaj Dahnil Ingatkan Petugas Haji Tidak Pamer di Tanah Suci
Wamenhaj Dahnil Ingatkan Petugas Haji Tidak Pamer di Tanah Suci
Aktual
Wamenhaj: PPIH Ujung Tombak Haji 2026, Kesiapan Mental Jadi Kunci Sukses Layanan Jemaah
Wamenhaj: PPIH Ujung Tombak Haji 2026, Kesiapan Mental Jadi Kunci Sukses Layanan Jemaah
Aktual
Wamenhaj Ingatkan PPIH Jelang Haji 2026: Ini Bukan Sekadar Tugas, tapi Misi Suci
Wamenhaj Ingatkan PPIH Jelang Haji 2026: Ini Bukan Sekadar Tugas, tapi Misi Suci
Aktual
Tidak Mendengar Khutbah Jumat, Apakah Shalat Tetap Sah? Ini Kata Ulama
Tidak Mendengar Khutbah Jumat, Apakah Shalat Tetap Sah? Ini Kata Ulama
Aktual
Idul Adha 2026 Diprediksi 27 Mei, Ada Peluang Libur Panjang 5 Hari
Idul Adha 2026 Diprediksi 27 Mei, Ada Peluang Libur Panjang 5 Hari
Aktual
Benarkah Harus Puasa Sebelum Shalat Idul Adha? Ini Hukum dan Dalilnya
Benarkah Harus Puasa Sebelum Shalat Idul Adha? Ini Hukum dan Dalilnya
Aktual
Kapan Idul Adha 2026? Ini Prediksi, Hitung Mundur, dan Jadwal Liburnya
Kapan Idul Adha 2026? Ini Prediksi, Hitung Mundur, dan Jadwal Liburnya
Aktual
Dari Banyuwangi untuk Dunia: Puisi “Rubaiyat Hormuz” Suarakan Luka Kemanusiaan Timur Tengah
Dari Banyuwangi untuk Dunia: Puisi “Rubaiyat Hormuz” Suarakan Luka Kemanusiaan Timur Tengah
Aktual
Rincian Lengkap 525 Kloter Haji 2026: Ini Pembagian Wilayah Jemaah dari Seluruh Indonesia
Rincian Lengkap 525 Kloter Haji 2026: Ini Pembagian Wilayah Jemaah dari Seluruh Indonesia
Aktual
Bolehkah Shalat Sunnah Saat Khutbah Jumat Berlangsung? Ini Penjelasan dan Hukumnya
Bolehkah Shalat Sunnah Saat Khutbah Jumat Berlangsung? Ini Penjelasan dan Hukumnya
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com