KOMPAS.com – Di tengah kemegahan kawasan Masjidil Haram, tersimpan kisah sejarah yang kerap membuat jemaah terdiam sejenak.
Sebuah area yang kini digunakan sebagai fasilitas umum, disebut-sebut memiliki jejak masa lalu yang berkaitan dengan salah satu tokoh paling keras menentang dakwah Islam.
Konon, lokasi tersebut diyakini sebagai bekas rumah Abu Jahal, musuh utama Muhammad. Kini, tempat itu telah berubah menjadi toilet umum di sekitar area Marwa, titik akhir dari rangkaian ibadah sa’i.
Lantas, bagaimana kisah ini bermula? Sejauh mana kebenarannya?
Baca juga: Perintah Sudah Turun, Tapi Nabi Menunda Haji 4 Tahun, Kenapa?
Kota Makkah sejak masa awal Islam merupakan pusat kehidupan suku Quraisy. Di kawasan sekitar Masjidil Haram, berdiri rumah-rumah para tokoh penting, termasuk keluarga Nabi Muhammad SAW dan para penentangnya.
Dalam buku Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, dijelaskan bahwa wilayah di sekitar Ka’bah dahulu merupakan permukiman padat dengan struktur sosial yang kuat, di mana para pemuka Quraisy memiliki rumah yang berdekatan dengan pusat ibadah tersebut.
Seiring waktu, kawasan ini mengalami transformasi besar-besaran. Perluasan Masjidil Haram yang dilakukan sejak masa kekhalifahan hingga era modern membuat banyak bangunan lama hilang atau berubah fungsi.
Nama Abu Jahal bukanlah nama asli, melainkan julukan yang berarti “bapak kebodohan”. Nama aslinya adalah Amr bin Hisham, seorang bangsawan Quraisy yang memiliki pengaruh besar di Makkah.
Dalam buku Cerita Al-Qur’an karya M. Zaenal Abidin, ia digambarkan sebagai sosok yang keras, angkuh, dan menjadi salah satu penentang paling vokal terhadap dakwah Nabi.
Ia tidak hanya menolak ajaran Islam, tetapi juga aktif menghalangi dan menyakiti kaum Muslimin.
Salah satu peristiwa yang sering dikisahkan adalah usahanya mengganggu Nabi saat sedang shalat di dekat Ka’bah.
Akhir hidup Abu Jahal terjadi dalam Perang Badar, di mana ia tewas dalam keadaan menolak keimanan.
Dalam buku Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Safiurrahman Al-Mubarakfuri, disebutkan bahwa kematiannya menjadi simbol runtuhnya salah satu kekuatan utama penentang Islam di fase awal dakwah.
Baca juga: 4 Keistimewaan Hari Jumat, Dari Nabi Adam hingga Waktu Mustajab
Di kalangan jemaah dan sebagian pemandu lokal, beredar kisah bahwa salah satu area di sekitar pintu keluar Marwa merupakan lokasi bekas rumah Abu Jahal.
Kini, tempat tersebut telah berubah menjadi fasilitas umum berupa toilet yang digunakan oleh jemaah haji dan umrah.
Namun, penting untuk dicatat bahwa sebagian besar informasi ini bersifat riwayat lisan (oral history).
Tidak semua titik sejarah di Makkah memiliki penanda resmi atau bukti arkeologis yang dapat diverifikasi secara pasti.
Dalam buku Sejarah Mekkah karya Ahmad Syalabi, dijelaskan bahwa perubahan tata kota Makkah yang sangat cepat membuat banyak situs sejarah sulit dilacak secara presisi.
Artinya, klaim tentang lokasi rumah Abu Jahal ini lebih tepat dipahami sebagai bagian dari tradisi cerita yang berkembang di tengah masyarakat, bukan fakta arkeologis yang mutlak.
Perubahan fungsi bangunan di sekitar Masjidil Haram bukanlah hal baru. Sejak berabad-abad lalu, kawasan ini terus mengalami renovasi untuk menampung jutaan jemaah dari seluruh dunia.
Dalam perspektif manajemen haji modern, ruang menjadi kebutuhan utama. Area yang dahulu berupa rumah atau bangunan pribadi kini dialihfungsikan menjadi fasilitas publik seperti jalur sa’i, tempat istirahat, hingga toilet.
Transformasi ini mencerminkan pergeseran fungsi Makkah dari kota permukiman lokal menjadi pusat ibadah global.
Baca juga: Kisah Ukasyah bin Mihshan, Sahabat Nabi yang Dijanjikan Surga Tanpa Hisab
Terlepas dari validitas historisnya, kisah tentang bekas rumah Abu Jahal yang kini menjadi fasilitas umum sering dimaknai secara simbolik oleh sebagian umat Islam.
Ia dianggap sebagai gambaran bahwa kekuasaan, kesombongan, dan penentangan terhadap kebenaran pada akhirnya akan sirna, sementara nilai-nilai keimanan justru terus bertahan dan berkembang.
Dalam buku Membumikan Al-Qur’an, M. Quraish Shihab menekankan bahwa sejarah dalam Islam bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi juga pelajaran moral yang relevan untuk setiap zaman.
Kisah tentang toilet di Masjidil Haram yang disebut sebagai bekas rumah Abu Jahal memang menarik dan memancing rasa penasaran.
Namun, penting untuk memisahkan antara fakta sejarah yang dapat diverifikasi dan narasi yang berkembang secara turun-temurun.
Yang pasti, kawasan Masjidil Haram menyimpan banyak lapisan sejarah yang tidak selalu terlihat secara fisik, tetapi hidup dalam ingatan kolektif umat Islam.
Pada akhirnya, bukan hanya tentang lokasi atau bangunan yang berubah, tetapi tentang bagaimana sejarah itu memberi makna.
Dan mungkin, di situlah pelajaran terbesarnya, bahwa waktu dapat menghapus jejak fisik, tetapi tidak pernah menghapus pesan yang ditinggalkannya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang