KOMPAS.com – Di tengah dinamika dunia pendidikan dan kesehatan global, satu capaian menarik datang dari Indonesia.
Muhammadiyah tercatat sebagai organisasi Islam dengan jumlah fakultas kedokteran terbanyak di dunia.
Dilansir dari laman Muhammadiyah, Senin (27/4/2026), data hingga 2026 menunjukkan, organisasi yang berdiri sejak 1912 ini memiliki sedikitnya 23 Fakultas Kedokteran yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Capaian tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh jaringan besar pendidikan dan layanan kesehatan yang terintegrasi.
Fenomena ini menarik bukan hanya dari sisi kuantitas, tetapi juga dari pendekatan nilai yang melandasinya, tauhid yang fungsional, sebuah konsep yang menjadikan iman sebagai energi penggerak aksi nyata di bidang sosial.
Baca juga: Pandangan Muhammadiyah tentang Nikah Siri, Sah Secara Agama tetapi...
Sejak didirikan oleh Ahmad Dahlan, Muhammadiyah memang dikenal sebagai gerakan Islam modernis yang menekankan pentingnya pendidikan dan pelayanan sosial.
Dalam buku Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam karya Haedar Nashir, dijelaskan bahwa Muhammadiyah sejak awal memposisikan dirinya bukan sekadar organisasi dakwah, tetapi juga sebagai gerakan tajdid (pembaruan) yang berorientasi pada kemajuan umat.
Pendekatan ini kemudian melahirkan ribuan amal usaha di berbagai sektor. Hingga kini, Muhammadiyah mengelola 163 Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) serta 129 Rumah Sakit Muhammadiyah-’Aisyiyah (RSMA).
Di antara jaringan besar itulah, fakultas kedokteran tumbuh sebagai salah satu pilar strategis.
Baca juga: Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus dengan Teknologi Italia, Target Operasi 2028
Keberadaan 23 Fakultas Kedokteran di bawah Muhammadiyah menjadi bukti konkret komitmen organisasi ini dalam bidang kesehatan.
Fakultas-fakultas tersebut tersebar dari barat hingga timur Indonesia, mencakup berbagai kampus seperti:
1.Universitas Ahmad Dahlan (UAD)
2. Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta
3. Universitas Muhammadiyah (UM) Gorontalo
4. Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)
5. Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT)
6. Universitas Muhammadiyah (UNISMUH) Makassar
7. Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP)
8. Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI)
9. Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS)
10. Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA)
11. Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU)
12. Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA)
13. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
14. Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT)
15. Universitas Muhammadiyah (UM) Metro
16. Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR)
17. Universitas Muhammadiyah (UM) Palembang
18. Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA)
19. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
20. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)
21. Universitas Muhammadiyah (UM) Kendari
22. Universitas Muhammadiyah (UM) Palu
23. Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA)
Tidak hanya program dokter umum, Muhammadiyah juga mengembangkan Fakultas Kedokteran Gigi serta program pendidikan dokter spesialis.
Sejumlah program bahkan telah meraih akreditasi unggul, menunjukkan kualitas yang mampu bersaing di tingkat nasional.
Ketua PP Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, menegaskan bahwa jumlah tersebut menjadikan Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan dengan fakultas kedokteran terbanyak di dunia.
Yang membedakan Muhammadiyah dari banyak institusi pendidikan lainnya adalah fondasi nilai yang digunakan, yaitu tauhid fungsional.
Konsep ini menekankan bahwa keimanan tidak berhenti pada aspek ritual, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Dalam buku Islam Berkemajuan karya Haedar Nashir, dijelaskan bahwa tauhid dalam perspektif Muhammadiyah menjadi landasan etis untuk membangun peradaban, termasuk di bidang kesehatan.
Artinya, mendirikan fakultas kedokteran bukan sekadar memenuhi kebutuhan tenaga medis, tetapi juga bagian dari misi dakwah sosial, menghadirkan layanan kesehatan yang berkeadilan.
Baca juga: Idul Adha 2026 Muhammadiyah Tanggal Berapa? Ini Jadwal Versi Kalender Global Tunggal
Keunggulan lain dari sistem Muhammadiyah adalah integrasi antara pendidikan dan praktik lapangan.
Mahasiswa kedokteran di lingkungan Muhammadiyah tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung di jaringan rumah sakit Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia.
Model ini menciptakan ekosistem yang saling mendukung:
Dalam buku Manajemen Rumah Sakit Islam karya M. Syafii Antonio, disebutkan bahwa integrasi semacam ini menjadi salah satu kunci keberhasilan lembaga kesehatan berbasis nilai keislaman.
Menariknya, pengembangan fakultas kedokteran Muhammadiyah tidak hanya terpusat di Pulau Jawa.
Dalam beberapa tahun terakhir, ekspansi mulai diarahkan ke kawasan Indonesia Timur. Salah satu rencana strategis adalah pendirian Fakultas Kedokteran di Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, Papua Barat Daya.
Jika terealisasi, kampus ini akan menjadi perguruan tinggi swasta pertama di wilayah tersebut yang memiliki Fakultas Kedokteran.
Langkah ini menunjukkan komitmen Muhammadiyah dalam memperluas akses pendidikan dan layanan kesehatan hingga ke daerah yang selama ini masih terbatas.
Baca juga: Muhammadiyah Gandeng Uruguay untuk Program Makan Bergizi dengan Susu Impor
Keberadaan puluhan fakultas kedokteran ini tidak hanya berdampak pada dunia pendidikan, tetapi juga pada masyarakat luas.
Setiap tahun, ribuan tenaga medis dilahirkan dari kampus-kampus Muhammadiyah. Mereka kemudian tersebar ke berbagai daerah, termasuk wilayah terpencil yang kekurangan dokter.
Dalam konteks ini, Muhammadiyah tidak hanya berperan sebagai penyedia pendidikan, tetapi juga sebagai aktor penting dalam pembangunan kesehatan nasional.
Menariknya, pengembangan pendidikan kedokteran di Muhammadiyah tidak mengabaikan aspek profesionalisme.
Kurikulum yang digunakan tetap mengacu pada standar nasional pendidikan kedokteran, namun diperkaya dengan nilai-nilai keislaman.
Mahasiswa tidak hanya dididik menjadi dokter yang kompeten secara medis, tetapi juga memiliki integritas moral dan kepedulian sosial.
Dalam perspektif ini, Muhammadiyah mencoba menjawab tantangan zaman: bagaimana menghadirkan tenaga medis yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beretika.
Capaian Muhammadiyah sebagai organisasi Islam dengan fakultas kedokteran terbanyak di dunia bukan sekadar angka statistik.
Ia mencerminkan sebuah model pendidikan yang memadukan iman, ilmu, dan amal dalam satu sistem yang utuh.
Di tengah kebutuhan global akan layanan kesehatan yang berkualitas dan merata, pendekatan ini menjadi semakin relevan.
Dan mungkin, di situlah letak makna terbesarnya, bahwa pendidikan bukan hanya tentang mencetak lulusan, tetapi tentang menghadirkan solusi bagi kemanusiaan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang