KOMPAS.com – Di tengah hiruk-pikuk Kota Suci Makkah, terdapat sebuah masjid yang tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menyimpan kisah unik dalam sejarah Islam.
Masjid itu adalah Masjid Al-Jin, sebuah bangunan sederhana yang diyakini menjadi saksi peristiwa dakwah Nabi kepada bangsa jin.
Letaknya yang tidak jauh dari Masjidil Haram membuat masjid ini kerap dikunjungi jamaah haji dan umrah.
Namun, daya tarik utamanya bukan pada ukuran atau kemegahan, melainkan pada narasi spiritual yang melekat di dalamnya.
Masjid Al-Jin diyakini berdiri di lokasi peristiwa penting ketika Nabi Muhammad menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an kepada sekelompok jin.
Peristiwa ini terjadi sekitar tahun ke-10 kenabian, sepulang Rasulullah dari perjalanan dakwah ke Thaif.
Dalam Al-Qur’an, kisah tersebut diabadikan dalam Surah Al-Jin serta dikaitkan dengan Surah Al-Ahqaf ayat 29.
Ayat tersebut menggambarkan bagaimana sekelompok jin mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan penuh perhatian, lalu kembali kepada kaumnya untuk menyampaikan pesan kebenaran.
Dalam buku Ar-Rahiq al-Makhtum karya Shafiyurrahman al-Mubarakfuri dijelaskan bahwa fase ini merupakan bagian dari periode sulit dalam dakwah Rasulullah.
Penolakan dari manusia tidak menghentikan penyebaran Islam, bahkan justru membuka jalan bagi makhluk lain untuk menerima risalah tersebut.
Baca juga: Jejak Rasulullah di Muzdalifah, Kisah Masjid al-Mash’ar al-Haram
Masjid Al-Jin terletak di kawasan Ma’la, sekitar 1–1,5 kilometer dari Masjidil Haram dan berdekatan dengan Jannatul Mualla, kompleks pemakaman bersejarah di Makkah.
Posisi ini menjadikannya mudah diakses oleh jamaah yang ingin melakukan ziarah sejarah. Banyak peziarah menyempatkan diri datang, bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk merasakan suasana tempat yang diyakini menjadi saksi interaksi antara Nabi dan makhluk gaib.
Dari sisi fisik, Masjid Al-Jin tidak menonjol seperti masjid besar lainnya di Makkah. Bangunannya relatif sederhana dengan desain modern minimalis.
Masjid ini memiliki dua lantai, lantai dasar untuk jamaah pria dan lantai atas untuk wanita. Terdapat satu menara setinggi sekitar 28 meter, serta interior yang dilapisi marmer dan dilengkapi fasilitas modern seperti pendingin udara.
Namun, ciri khas yang paling mencolok adalah kubah kecil berwarna kuning keemasan. Di bagian dalam kubah tersebut, terukir kaligrafi ayat-ayat dari Surah Al-Jin, yang menjadi simbol langsung dari peristiwa bersejarah tersebut.
Dalam buku Islamic Architecture: Form, Function and Meaning karya Robert Hillenbrand dijelaskan bahwa arsitektur masjid sering kali tidak hanya berfungsi sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai media narasi sejarah dan simbol spiritual. Hal ini tampak jelas pada Masjid Al-Jin.
Baca juga: Siapa Sahabat di Samping Makam Rasulullah? Ini Kisah Abu Bakar & Umar
Seiring waktu, Masjid Al-Jin mengalami beberapa kali renovasi untuk menjaga kelayakan dan kenyamanan jamaah.
Renovasi besar terakhir dilakukan pada masa pemerintahan Raja Fahd bin Abdulaziz Al Saud sekitar tahun 2000.
Perbaikan tersebut mencakup penguatan struktur bangunan serta penambahan elemen arsitektur modern tanpa menghilangkan nilai historisnya.
Upaya ini menunjukkan komitmen pemerintah Arab Saudi dalam melestarikan situs-situs bersejarah Islam.
Kisah Masjid Al-Jin memberikan perspektif menarik tentang luasnya jangkauan dakwah Islam. Dalam teologi Islam, jin merupakan makhluk yang juga memiliki tanggung jawab beribadah kepada Allah.
Dalam buku Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab dijelaskan bahwa interaksi Rasulullah dengan jin menunjukkan universalitas risalah Islam.
Dakwah tidak terbatas pada manusia, tetapi juga menjangkau makhluk lain yang memiliki kesadaran dan tanggung jawab spiritual.
Hal ini sekaligus menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi seluruh alam, bukan hanya bagi satu kelompok makhluk saja.
Baca juga: Awal Mula Wukuf di Arafah, Kisah Pertemuan Nabi Adam dan Hawa
Meski tidak termasuk dalam rangkaian ibadah wajib haji atau umrah, Masjid Al-Jin tetap menjadi destinasi ziarah yang diminati. Banyak jamaah datang untuk merasakan atmosfer spiritual yang berbeda.
Di tempat ini, sejarah tidak hanya diceritakan, tetapi seolah “hadir” dalam bentuk ruang dan suasana.
Ada dimensi reflektif yang membuat pengunjung merenungkan kembali makna dakwah, keteguhan, dan keluasan rahmat Islam.
Masjid Al-Jin bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah simbol bahwa dakwah Rasulullah melampaui batas-batas yang terlihat oleh manusia.
Di tengah dunia modern yang serba rasional, kisah ini mengingatkan bahwa realitas spiritual dalam Islam memiliki dimensi yang luas.
Bahwa di balik setiap ayat yang dibacakan, ada kemungkinan hati, baik manusia maupun jin yang tersentuh oleh kebenaran.
Bagi umat Islam, keberadaan Masjid Al-Jin menjadi pengingat bahwa risalah Islam bersifat universal. Ia hadir untuk semua, melampaui ruang, waktu, bahkan jenis makhluk yang menerimanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang