KOMPAS.com – Hari Raya Idul Adha identik dengan penyembelihan hewan kurban seperti kambing, sapi, hingga unta.
Di berbagai daerah, momen ini bahkan sering menjadi simbol kemampuan ekonomi seseorang melalui besar kecilnya hewan yang dikurbankan.
Namun di balik tradisi tersebut, ada kisah menarik dari dua sahabat Rasulullah SAW yang kerap dibahas para ulama dan pendakwah. Keduanya adalah Bilal bin Rabah dan Abdullah bin Abbas.
Dalam sejumlah riwayat yang dikutip dari ceramah Gus Baha yang diunggah kanal YouTube Santri Online serta ceramah Ustadz Adi Hidayat di kanal YouTube Adi Hidayat Official, diceritakan bahwa keduanya pernah memilih menyembelih ayam dan membagikannya kepada fakir miskin pada momentum Idul Adha.
Kisah ini sering memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat, apakah ayam bisa dijadikan hewan kurban?
Jawabannya, tidak. Dalam syariat Islam, ayam bukan hewan sah untuk ibadah kurban. Namun di balik kisah tersebut, tersimpan pesan besar tentang makna berbagi, kemampuan, dan ketakwaan yang justru sangat relevan hingga hari ini.
Hari Raya Idul Adha merupakan salah satu syiar terbesar dalam Islam yang berkaitan erat dengan kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail.
Peristiwa itu menjadi simbol ketaatan total seorang hamba kepada Allah SWT. Dalam Al Quran Surah Al-Hajj ayat 37, Allah SWT berfirman:
“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa inti ibadah kurban bukan sekadar ukuran hewan atau banyaknya daging yang dibagikan, melainkan keikhlasan dan ketakwaan orang yang berkurban.
Dalam Tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab menjelaskan bahwa kurban sejatinya adalah latihan spiritual untuk menundukkan ego dan menumbuhkan kepedulian sosial.
Karena itu, semangat Idul Adha tidak boleh berhenti pada simbol kemewahan semata.
Baca juga: Hukum Kurban Ayam saat Idul Adha, Sah atau Tidak? Ini Penjelasan Ulama
Nama Bilal bin Rabah sangat dikenal dalam sejarah Islam sebagai muazin pertama Rasulullah SAW.
Sahabat Nabi yang berasal dari kalangan budak itu dikenal sederhana, zuhud, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Dalam ceramah Gus Baha yang diunggah kanal YouTube Santri Online, disebutkan bahwa Bilal bin Rabah pernah memilih menyembelih ayam pada momentum Idul Adha lalu membagikannya kepada anak yatim dan orang miskin.
Bilal disebut pernah berkata:
“Aku tidak peduli dengan apa yang orang-orang sajikan. Aku bisa menyembelih ayam lalu bersedekah dengannya kepada anak-anak yatim dan orang-orang miskin.”
Ucapan tersebut bukan berarti Bilal menolak syariat kurban.
Para ulama menjelaskan bahwa Bilal sedang menunjukkan pesan bahwa berbagi tidak harus menunggu kaya atau mampu membeli hewan besar.
Ketika tidak mampu menyembelih kambing atau sapi, seseorang tetap bisa memuliakan hari raya dengan memberi makan orang lain sesuai kemampuan yang dimiliki.
Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa sedekah yang paling bernilai adalah yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai kemampuan, bukan demi gengsi atau pujian manusia.
Kisah serupa juga dinisbatkan kepada Abdullah bin Abbas RA, sepupu Rasulullah SAW yang dikenal sebagai ahli tafsir Al Quran.
Dalam sejumlah penjelasan ulama, Ibnu Abbas disebut memiliki kebiasaan membeli daging lalu membagikannya kepada masyarakat pada Hari Raya Idul Adha.
Bahkan dalam beberapa riwayat, beliau juga pernah menyembelih ayam untuk dibagikan kepada orang lain.
Ibnu Abbas dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan sejak muda.
Dalam Siyar A'lam an-Nubala dijelaskan bahwa Abdullah bin Abbas memiliki perhatian besar terhadap fakir miskin dan sangat mencintai ilmu serta sedekah.
Oleh karena itu, momentum hari raya tidak ia biarkan berlalu tanpa menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat sekitar.
Baca juga: Jelang Idul Adha 2026, Ini Daftar Harga Hewan Kurban Terbaru & Tips Memilihnya
Meski kisah Bilal dan Ibnu Abbas sering dibahas, para ulama menegaskan bahwa ayam tidak sah dijadikan hewan kurban dalam syariat Islam.
Hewan kurban yang diperbolehkan hanyalah hewan ternak tertentu seperti kambing, domba, sapi, dan unta.
Hal tersebut berdasarkan banyak hadis Rasulullah SAW dan kesepakatan para ulama fikih.
Dalam Fiqih Sunnah dijelaskan bahwa syariat kurban memiliki ketentuan khusus terkait jenis hewan, usia, dan kondisi fisik hewan.
Karena itu, kisah Bilal dan Ibnu Abbas tidak boleh dipahami sebagai perubahan aturan kurban.
Yang ingin ditunjukkan keduanya adalah semangat berbagi dan memuliakan hari raya meski dalam keterbatasan.
Di era media sosial saat ini, Idul Adha kadang berubah menjadi ajang memperlihatkan ukuran sapi terbesar atau jumlah hewan kurban terbanyak.
Padahal para ulama mengingatkan bahwa nilai utama kurban terletak pada ketakwaan dan keikhlasan.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah.”
Hadis tersebut menunjukkan bahwa Idul Adha juga merupakan momentum mempererat solidaritas sosial dan menghadirkan kebahagiaan bersama.
Oleh karena itu, memberi makan orang lain, bersedekah, atau menyuguhkan hidangan terbaik kepada keluarga juga termasuk bagian dari memuliakan hari raya.
Baca juga: Kurban Kambing untuk Satu Keluarga, Ini Ketentuan dan Hukumnya dalam Islam
Kisah Bilal dan Ibnu Abbas juga sering dikaitkan dengan kaidah fikih:
“Maa laa yudraku kulluhu, laa yutraku kulluhu.”
Artinya: “Sesuatu yang tidak dapat dilakukan secara sempurna, jangan ditinggalkan seluruhnya.”
Pesan ini mengajarkan bahwa seseorang yang belum mampu berkurban tetap dapat mengambil bagian dalam semangat Idul Adha melalui sedekah, berbagi makanan, atau membantu sesama.
Dalam Islam, kemampuan ekonomi memang menjadi salah satu syarat penting dalam ibadah kurban.
Karena itu, orang yang belum mampu tidak dibebani kewajiban menyembelih hewan kurban.
Namun semangat berbagi dan kepedulian sosial tetap bisa dilakukan dalam bentuk lain yang sesuai kemampuan.
Kisah Bilal bin Rabah dan Abdullah bin Abbas memperlihatkan bahwa Idul Adha bukan sekadar tentang besar kecilnya hewan yang disembelih.
Lebih dari itu, hari raya kurban adalah momentum menumbuhkan ketakwaan, kepedulian sosial, dan rasa syukur kepada Allah SWT.
Ketika sebagian orang mampu berkurban dengan sapi atau unta, orang lain tetap dapat menghadirkan kebahagiaan melalui makanan sederhana yang dibagikan dengan tulus.
Sebab pada akhirnya, yang paling bernilai di sisi Allah bukanlah kemewahan hewan kurban, melainkan hati yang ikhlas dan kepedulian yang lahir dari dalam diri manusia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang