Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kapan Waktu Terbaik Menyentuh Hajar Aswad? Ini Penjelasannya

Kompas.com, 12 Mei 2026, 12:30 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menyentuh Hajar Aswad menjadi salah satu momen paling diimpikan banyak jamaah saat menunaikan ibadah haji maupun umrah di Tanah Suci.

Di tengah jutaan manusia yang memadati Masjidil Haram, kesempatan berada dekat dengan batu suci di sudut Ka’bah itu sering dianggap sebagai pengalaman spiritual yang sulit dilupakan.

Tidak sedikit jamaah rela menunggu berjam-jam demi bisa menyentuh, mencium, atau sekadar berisyarat ke arah Hajar Aswad ketika tawaf.

Namun di balik besarnya keinginan tersebut, masih banyak jamaah yang belum memahami bahwa menyentuh Hajar Aswad bukanlah kewajiban dalam ibadah haji maupun umrah.

Bahkan para ulama mengingatkan, jangan sampai keinginan mencium Hajar Aswad justru membuat seseorang menyakiti jamaah lain atau membahayakan diri sendiri.

Karena itu, diperlukan pemahaman tentang adab, waktu terbaik, hingga strategi yang aman agar ibadah tetap khusyuk dan sesuai sunnah Rasulullah SAW.

Apa Itu Hajar Aswad?

Hajar Aswad adalah batu mulia yang terletak di sudut timur Ka’bah, tepat di area awal dan akhir putaran tawaf.

Batu berwarna hitam tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian ibadah haji dan umrah karena Rasulullah SAW pernah menyentuh dan menciumnya saat tawaf.

Dalam buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa mencium Hajar Aswad termasuk sunnah muakkadah atau amalan yang sangat dianjurkan bagi orang yang mampu melakukannya tanpa menimbulkan mudarat.

Meski demikian, umat Islam juga diajarkan untuk memahami hakikat Hajar Aswad secara benar.

Dalam riwayat yang sangat terkenal, Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata di depan Hajar Aswad:

“Aku tahu engkau hanyalah batu. Engkau tidak bisa memberi manfaat maupun mudarat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah menciummu, aku tidak akan menciummu.”

Riwayat tersebut menunjukkan bahwa penghormatan terhadap Hajar Aswad dilakukan sebagai bentuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW, bukan karena batu itu dianggap memiliki kekuatan gaib.

Baca juga: Doa Melihat Ka’bah dan Menyentuh Hajar Aswad di Masjidil Haram, Ini Bacaan Lengkapnya

Mengapa Menyentuh Hajar Aswad Sangat Sulit?

Area Hajar Aswad hampir selalu dipadati jamaah dari berbagai negara.
Saat musim haji, jutaan orang melakukan tawaf di waktu yang hampir bersamaan sehingga kepadatan di sekitar Ka’bah sangat tinggi.

Tidak sedikit jamaah yang harus berdesakan, terhimpit arus manusia, bahkan kehilangan keseimbangan ketika mencoba mendekati sudut Hajar Aswad.

Oleh karena itu, pemerintah Arab Saudi biasanya menempatkan petugas keamanan atau asykar untuk mengatur alur jamaah agar tidak terjadi dorong-dorongan berbahaya.

Dalam buku Ensiklopedi Haji dan Umrah karya Muhammad Iqbal disebutkan bahwa keselamatan jiwa dalam ibadah tetap menjadi prioritas utama dalam syariat Islam.

Artinya, sunnah mencium Hajar Aswad tidak boleh dilakukan dengan cara menyakiti orang lain.

Waktu Terbaik untuk Menyentuh Hajar Aswad

Memilih waktu yang tepat menjadi salah satu strategi paling penting agar peluang menyentuh Hajar Aswad lebih besar.

Beberapa jamaah berpengalaman biasanya memilih waktu dini hari atau menjelang Subuh ketika jumlah jamaah relatif lebih sedikit.

Waktu setelah tengah malam hingga sebelum azan Subuh sering dianggap lebih longgar dibanding siang atau selepas shalat fardhu.

Selain itu, setelah shalat Subuh banyak jamaah kembali ke hotel untuk sarapan atau beristirahat sehingga arus tawaf sedikit berkurang.

Bagi jamaah umrah di luar musim puncak, peluang mendekati Hajar Aswad juga biasanya lebih besar dibanding musim haji.

Meski begitu, kondisi Masjidil Haram tetap dapat berubah sewaktu-waktu tergantung jumlah jamaah yang hadir.

Baca juga: Doa antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, Lengkap dengan Arti dan Keutamaannya

Cara Mendekati Hajar Aswad dengan Aman

Banyak jamaah gagal mendekati Hajar Aswad karena terlalu memaksakan diri melawan arus tawaf.

Padahal, cara paling aman adalah mengikuti aliran jamaah secara perlahan sambil bergerak mendekati sisi Ka’bah sedikit demi sedikit.

Beberapa pembimbing haji menyarankan jamaah memulai pendekatan dari arah Rukun Yamani, yakni sudut Ka’bah sebelum Hajar Aswad.

Dari titik tersebut, jamaah dapat bergerak perlahan mengikuti dinding Ka’bah hingga tiba di area Hajar Aswad.

Saat kondisi sangat padat, menjaga posisi tubuh menjadi hal penting.

Usahakan tangan berada di depan dada agar ruang bernapas tetap aman dan tubuh tidak mudah terhimpit.

Hindari membawa barang berlebihan seperti tas besar, sandal, atau benda yang mengganggu pergerakan.

Jangan Menyakiti Jamaah Lain demi Sunnah

Dalam Islam, menjaga keselamatan dan kenyamanan sesama Muslim memiliki kedudukan yang sangat penting.

Karena itu, ulama mengingatkan bahwa mencium Hajar Aswad tidak boleh dilakukan dengan mendorong, menarik, atau melukai orang lain.

Dalam buku Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab karya Imam Nawawi dijelaskan bahwa apabila mencium Hajar Aswad berpotensi menimbulkan mudarat, maka cukup melakukan istilam atau memberi isyarat dari jauh.

Bahkan, memaksakan diri hingga menyebabkan jamaah lain celaka bisa berubah hukumnya menjadi makruh atau terlarang.

Karena itu, penggunaan jasa “joki” atau bodyguard untuk membuka jalan di kerumunan juga banyak dikritik para ulama karena berpotensi menyakiti jamaah lain.

Baca juga: Doa Menyentuh Hajar Aswad: Bacaan Lengkap dan Maknanya Saat Thawaf

Alternatif Jika Tidak Bisa Menyentuh Langsung

Tidak semua jamaah memiliki kesempatan menyentuh Hajar Aswad secara langsung.
Namun Islam tetap memberikan kemudahan agar jamaah tetap bisa menjalankan sunnah.

Cara paling umum adalah melakukan istilam, yakni mengangkat tangan ke arah Hajar Aswad sambil mengucapkan “Allahu Akbar”.

Rasulullah SAW juga pernah memberi isyarat ke arah Hajar Aswad ketika kondisi tidak memungkinkan untuk mendekat.

Selain itu, sebagian ulama menjelaskan bahwa menyentuh Hajar Aswad menggunakan tongkat atau benda tertentu lalu mencium benda tersebut juga diperbolehkan.

Karena itu, jamaah tidak perlu kecewa apabila tidak berhasil mencium langsung Hajar Aswad.

Adab Wanita Saat Ingin Menyentuh Hajar Aswad

Bagi jamaah perempuan, keselamatan dan kehormatan diri harus lebih diutamakan.
Dalam kondisi sangat padat dan bercampur dengan jamaah laki-laki, para ulama umumnya menganjurkan wanita cukup berisyarat dari jauh.

Pendapat ini dijelaskan dalam sejumlah kitab fiqih untuk menghindari ikhtilat berlebihan maupun risiko terjatuh di tengah kerumunan.

Karena itu, memilih waktu sepi menjadi sangat penting bagi jamaah perempuan yang ingin mencoba mendekati Hajar Aswad.

Persiapan Fisik dan Mental Sebelum Mencoba

Mendekati Hajar Aswad membutuhkan stamina yang cukup baik.
Jamaah lansia, memiliki penyakit tertentu, atau kondisi tubuh kurang fit sebaiknya tidak memaksakan diri.

Dalam kondisi padat, tekanan arus manusia di sekitar Ka’bah bisa sangat kuat dan berisiko membahayakan kesehatan.

Selain kesiapan fisik, persiapan mental juga penting.

Perbanyak dzikir, doa, dan niatkan seluruh usaha semata-mata untuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

Sebab pada akhirnya, nilai utama dari ibadah bukan terletak pada berhasil atau tidaknya menyentuh Hajar Aswad, melainkan keikhlasan dan adab dalam beribadah di hadapan Allah SWT.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Jemaah Haji Palestina dari Tepi Barat Mulai Berangkat ke Arab Saudi, Warga Gaza Masih Terhalang
Jemaah Haji Palestina dari Tepi Barat Mulai Berangkat ke Arab Saudi, Warga Gaza Masih Terhalang
Aktual
Saudi Terapkan Kontrak Digital Umrah 1448 H, Visa Dibuka 31 Mei
Saudi Terapkan Kontrak Digital Umrah 1448 H, Visa Dibuka 31 Mei
Aktual
Apa Itu Rafats, Fusuk, dan Jidal? Ini Larangan Penting saat Haji
Apa Itu Rafats, Fusuk, dan Jidal? Ini Larangan Penting saat Haji
Aktual
Sidang Isbat Idul Adha 2026 Digelar 17 Mei, Ini 88 Titik Hilal
Sidang Isbat Idul Adha 2026 Digelar 17 Mei, Ini 88 Titik Hilal
Aktual
Jemaah Haji Indonesia Ditangkap di Madinah karena Rekam Perempuan, Ini Aturan di Arab Saudi
Jemaah Haji Indonesia Ditangkap di Madinah karena Rekam Perempuan, Ini Aturan di Arab Saudi
Aktual
Selain Mahal, Plastik Juga Mengandung Karsinogen! Ini 6 Alternatif Pengganti Wadah Daging Kurban
Selain Mahal, Plastik Juga Mengandung Karsinogen! Ini 6 Alternatif Pengganti Wadah Daging Kurban
Aktual
Kapan Waktu Terbaik Menyentuh Hajar Aswad? Ini Penjelasannya
Kapan Waktu Terbaik Menyentuh Hajar Aswad? Ini Penjelasannya
Aktual
Bagaimana Pembagian Daging Kurban Sapi 7 Orang, Berapa Kg per Bagian?
Bagaimana Pembagian Daging Kurban Sapi 7 Orang, Berapa Kg per Bagian?
Aktual
Idul Adha 2026 Tanggal Berapa? Ini Jadwal Libur dan Hitung Mundurnya
Idul Adha 2026 Tanggal Berapa? Ini Jadwal Libur dan Hitung Mundurnya
Aktual
Bacaan Doa agar Lancar Menjawab saat Sidang Skripsi dan Ujian Lisan
Bacaan Doa agar Lancar Menjawab saat Sidang Skripsi dan Ujian Lisan
Doa dan Niat
PBNU Sahkan Panitia Muktamar ke-35 NU, Gus Ipul Ditunjuk Jadi Ketuanya
PBNU Sahkan Panitia Muktamar ke-35 NU, Gus Ipul Ditunjuk Jadi Ketuanya
Aktual
Lirboyo dan Kekuatan Sunyi yang Menggerakkan Nahdlatul Ulama
Lirboyo dan Kekuatan Sunyi yang Menggerakkan Nahdlatul Ulama
Aktual
Doa Melempar Jumrah saat Haji, Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya
Doa Melempar Jumrah saat Haji, Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Baznas: Dam Haji di Indonesia Bantu Gizi dan Ekonomi Desa
Baznas: Dam Haji di Indonesia Bantu Gizi dan Ekonomi Desa
Aktual
Saudi Perketat Dam Haji, Jemaah RI Mulai Beralih Bayar di Tanah Air
Saudi Perketat Dam Haji, Jemaah RI Mulai Beralih Bayar di Tanah Air
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com