Editor
KOMPAS.com - Organisasi masyarakat bernama Yakuza Maneges resmi dideklarasikan di Kediri, Jawa Timur.
Kemunculan ormas tersebut langsung menjadi perhatian publik karena para anggotanya tampil mengenakan pakaian dan topi serba hitam yang disebut menyerupai gaya kelompok yakuza Jepang.
Kehadiran Yakuza Maneges pun memunculkan beragam respons masyarakat dan ramai diperbincangkan di media sosial.
Baca juga: Muhammadiyah Jadi Ormas Islam dengan 23 Fakultas Kedokteran Terbanyak di Dunia, Ini Faktanya
Dikutip dari Tribun-Video.com (12/7/2026), Yakuza Maneges merupakan organisasi masyarakat yang berada di bawah naungan Majelis Sema’at Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin.
Menurut Gus Thuba, nama “Yakuza” yang digunakan bukan merujuk pada kelompok kriminal Jepang, melainkan memiliki arti khusus sebagai singkatan dari “Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi”.
Organisasi tersebut disebut dibentuk sebagai wadah bagi orang-orang yang pernah menjalani kehidupan kelam namun ingin memperbaiki diri dan kembali ke jalan yang lebih baik.
Baca juga: MUI dan Ormas Islam Deklarasikan 9 Poin Dukungan untuk Palestina
Yakuza Maneges didirikan oleh Gus Thuba, ulama muda asal Kediri yang juga dikenal sebagai cucu KH Hamim Djazuli atau Gus Miek.
Deklarasi organisasi tersebut digelar Gus Miek di Bukit Daun Hotel, Kediri, Jawa Timur, dan dihadiri para anggota yang mengenakan atribut serba hitam.
Penampilan para anggota itulah yang kemudian menarik perhatian publik dan menjadi perbincangan luas di media sosial.
Deklarasi Yakuza Maneges dilaksanakan pada Sabtu, 9 Mei 2026, di Bukit Daun Hotel, Kediri, Jawa Timur.
Acara tersebut langsung viral di media sosial setelah video dan dokumentasi kegiatan beredar di jagat maya.
Banyak warganet menyoroti konsep organisasi dan penampilan para anggotanya yang dinilai berbeda dari organisasi masyarakat pada umumnya.
Menurut Gus Thuba, Yakuza Maneges hadir dengan semangat spiritual dan kemanusiaan.
Organisasi tersebut disebut menjadi tempat bagi mereka yang sering disebut sebagai santri “jalur kiri”, yakni orang-orang yang pernah tersesat, berada di jalan yang keliru, atau terjatuh dalam dosa, tetapi masih memiliki niat untuk berubah menjadi lebih baik.
”Ini bukan organisasi kriminal, tetapi simbol transformasi para ’petarung’. Kami menegaskan, Yakuza bukan organisasi yang berdiri berseberangan dengan negara, melainkan hadir untuk mendukung dan berjalan bersama aparat penegak hukum,” ujar Gus Thuba, saat memberikan sambutan dalam deklarasi, sebagaimana videonya beredar di jagat maya.
Menurutnya, setiap orang tetap memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan kembali menjalani kehidupan yang lebih baik serta bermanfaat bagi keluarga maupun masyarakat.
Kemunculan Yakuza Maneges menuai respons beragam dari masyarakat. Sebagian warganet mengaku penasaran dengan konsep yang diusung organisasi tersebut.
Namun, ada juga yang menyoroti gaya berpakaian para anggota yang dinilai nyentrik dan berbeda dibanding ormas lainnya di Indonesia.
Dikutip dari Kompas, id (13/7/2026), terlepas dari pro dan kontra yang muncul, kehadiran organisasi masyarakat baru sebenarnya bukan hal baru di Indonesia.
Mengutip laman Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, hingga 12 November 2025 terdapat lebih dari 636.000 organisasi masyarakat di Indonesia. Dalam enam bulan terakhir, jumlah ormas disebut bertambah sekitar 40.000 organisasi baru.
Sementara itu, Satuan Tugas Penanganan Ormas juga telah terbentuk di 25 provinsi dan lebih dari 150 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Wali Kota Vinanda Prameswati yang turut hadir dalam deklarasi Yakuza Maneges menyebut jalan dakwah yang dijalankan Gus Thuba merupakan bagian dari warisan perjuangan KH Hamim Djazuli atau Gus Miek.
”Warisan dakwah yang lahir dari keyakinan bahwa siapa pun, termasuk mereka yang dianggap paling jauh dari kebaikan, tetap berhak dirangkul, bukan ditinggalkan,” katanya melalui rilis tertulis.
Menurut Vinanda, visi Pemerintah Kota Kediri adalah mewujudkan kota yang Mapan, yakni Maju, Agamis, Produktif, Aman, dan Ngangeni.
Ia menjelaskan, makna “Ngangeni” bukan hanya soal pembangunan fisik daerah, tetapi juga bagaimana masyarakat merasa diperhatikan, dipedulikan, dan tidak merasa berjalan sendiri di kotanya.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Vinanda menilai diperlukan kolaborasi dari berbagai elemen masyarakat. Karena itu, keberadaan Yakuza Maneges disebut dapat berjalan beriringan dengan pemerintah dalam membangun Kota Kediri.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang