
LIMA hari ini, kepala saya dipenuhi banyak hal. Sejak tanggal 13 Mei lalu, sampai hari ini, 17 Mei 2026, saya duduk di ruang pertemuan Hotel Aston Cirebon. Menjadi santri lagi. Menjadi peserta Pelatihan Pendidikan Menengah Kader Nahdlatul Ulama (PMKNU).
Gaya pelatihannya asyik. Cair. Khas gaya tim instruktur PBNU zaman now. Jauh dari kesan kaku, tapi isinya daging semua. Analisisnya tajam. Saya merenung di sela-sela sesi. Materi yang disuguhkan panitia sangat komprehensif. Mulai dari yang sifatnya langit—soal ideologi—sampai yang sangat membumi dan teknis.
Kami diajak melihat potret masalah lapangan yang riil. Dari level kepengurusan paling bawah di Ranting, sampai dinamika di tingkat PCNU, PWNU dan PBNU. Bagaimana mengatasi dinamika organisasi? Bagaimana mengurai dualisme kepemimpinan di daerah? Semua dikupas. Tidak ada yang ditutup-tutupi.
Baca juga: 3 Tokoh Muda NU Kumpul di Cirebon, Sinyal Regenerasi Kepemimpinan PBNU Menguat
Kami diajari cara menerjemahkan visi-misi besar menjadi program prioritas yang bisa dieksekusi. Jujur, bukan cuman asyik di atas kertas, tapi juga penting dan memberi wawasan baru. Ditambah lagi menu wajib zaman sekarang: digitalisasi. Ini mutlak untuk menyiapkan cetak biru abad kedua Nahdlatul Ulama.
Ada satu lompatan cara berpikir yang luar biasa. Saya jadi teringat memori tahun 2013. Waktu itu, saya mengikuti Pendidikan Kader Penggerak NU (PKPNU). Ingatan saya masih segar. Dulu, doktrinnya kuat: melihat kelompok lain di luar kita sebagai lawan. Garisnya tegas. Hitam-putih.
Di PMKNU 2026 ini, sudut pandang itu dibongkar total. Berubah drastis. Sekarang, kelompok lain tidak lagi dipandang sebagai lawan yang harus dimusuhi, tetapi mereka adalah kompetitor. Bahkan, dalam banyak ruang, mereka adalah mitra yang mengharuskan kita untuk berkolaborasi. Ini cara pandang yang matang. Dewasa.
Menatap abad kedua, NU tidak boleh lagi menguras energi untuk sekadar "berkelahi", tapi harus fokus pada akselerasi dan distribusi kader di semua lini. Dari sini saya sadar, program kaderisasi berjenjang seperti PMKNU ini bukan cuma butuh, tapi wajib bagi calon pemimpin NU, Ini cara terbaik menyiapkan cetak biru kepemimpinan masa depan jam'iyah.
Di titik inilah saya merasa PMKNU bukan sekadar forum pelatihan, melainkan ruang “membongkar diri”. Kita dipaksa jujur melihat kelemahan organisasi sendiri, sekaligus ditantang mencari jalan keluarnya. Tidak cukup lagi hanya bangga dengan sejarah besar NU.
Kebanggaan tanpa kerja strategis hanya akan menjadi romantisme. Abad kedua membutuhkan kader yang tidak hanya loyal, tetapi juga adaptif, profesional, dan mampu membaca perubahan zaman dengan kepala dingin.
Saya juga melihat satu hal yang sangat penting: NU hari ini sedang bergerak menuju kultur organisasi yang lebih terbuka terhadap pengetahuan dan teknologi. Dulu, banyak yang menganggap digitalisasi hanya urusan anak muda atau sekadar pelengkap. Sekarang tidak lagi.
Media sosial, tata kelola data, penguatan jaringan digital, sampai penguasaan narasi publik menjadi bagian dari medan juang baru jam’iyah. Kalau NU ingin tetap menjadi rumah besar umat, maka penguasaan ruang digital adalah keniscayaan, bukan pilihan.
Di sela-sela pelatihan, saya semakin yakin bahwa kekuatan terbesar NU sebenarnya bukan hanya pada jumlah jamaahnya, tetapi pada kultur persaudaraannya. Di forum ini, saya bertemu peserta dari latar belakang yang berbeda-beda: ada akademisi, aktivis, birokrat, pengusaha, kiai kampung, dan anak-anak muda yang penuh energi.
Anehnya, semuanya bisa duduk bersama tanpa sekat. Mungkin inilah salah satu rahasia NU bisa bertahan satu abad lebih: kemampuan merawat perbedaan tanpa kehilangan arah perjuangan.
Maka sepulang dari PMKNU ini, yang paling penting bukan siapa paling aktif bicara di forum, tetapi siapa yang benar-benar bergerak setelah forum selesai. Sebab tantangan NU ke depan tidak makin ringan. Persaingan gagasan semakin keras, perubahan sosial semakin cepat, dan kebutuhan umat semakin kompleks.
Baca juga: Merawat Akar Jam’iyyah: Mengapa PBNU Butuh Representasi Ulama Luar Jawa?
Di sinilah kader-kader NU diuji: apakah hanya menjadi penonton perubahan, atau menjadi penggerak yang ikut menentukan arah masa depan bangsa dan jam’iyah.
Apresiasi setinggi-tingginya untuk seluruh instruktur, panitia, dan pemateri yang luar biasa inspiratif. Anda semua telah menyalakan lilin-lilin baru di kepala kami. Terima kasih atas ilmunya. Terimakasih atas forum dan persaudarannya yang cair dan penuh kekeluargaan.
Pesan saya untuk rekan-rekan alumni PMKNU angkatan ini: tugas berat menanti di rumah masing-masing. Mari terjemahkan ilmu dari Aston ini menjadi gerakan nyata di lapangan. Saatnya berkolaborasi, bukan lagi sibuk mencari lawan. Wallahu'alam bissowab
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang