Editor
KOMPAS.com - Setelah musim haji 2026 berakhir dan jutaan jamaah mulai meninggalkan Makkah, Mina, Arafah, dan Muzdalifah, pemerintah Arab Saudi langsung bergerak melakukan operasi besar-besaran untuk membongkar fasilitas sementara dan menyiapkan kembali kawasan suci untuk musim haji tahun depan.
Berdasarkan data resmi, jumlah jamaah haji tahun ini mencapai 1.707.301 orang atau meningkat sekitar 2,04 persen dibandingkan tahun 2025. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.546.655 jamaah berasal dari luar Arab Saudi dan mayoritas tiba melalui jalur udara.
Di Mina, berbagai fasilitas sementara mulai diperiksa, diperbaiki, dibongkar, hingga disimpan kembali untuk digunakan pada musim haji berikutnya. Jalan-jalan dibersihkan, sistem pendingin diperiksa, dan peralatan darurat dikembalikan ke pusat fasilitas regional setelah menjalani inspeksi teknis.
Baca juga: Ketua Timwas Haji DPR: KBIHU Bukan Kompetitor Kementerian Haji
Perwakilan Otoritas Bulan Sabit Merah Arab Saudi, TJ, mengatakan proses penutupan operasional dimulai segera setelah musim haji selesai.
“Setelah musim haji berakhir, Otoritas Bulan Sabit Merah Arab Saudi mulai melakukan penutupan operasional fasilitas darurat musiman dan mempersiapkannya untuk musim berikutnya, sesuai rencana terorganisasi yang menjamin kesiapan tetap terjaga dan sumber daya dimanfaatkan secara optimal,” ujar TJ dilansir dari Arab News.
Menurutnya, otoritas mengoperasikan dua jenis pusat darurat selama musim haji, yakni fasilitas permanen berbahan baja dan unit sementara berupa tenda serta kabin portabel.
Fasilitas permanen akan diamankan dan ditutup setelah musim haji, sementara fasilitas sementara dibongkar dan dipindahkan ke gudang penyimpanan untuk digunakan kembali.
“Terkait peralatan medis dan perangkat darurat, seluruh sumber daya yang terlibat selama musim haji didata dan ditarik kembali dari berbagai wilayah setelah menjalani inspeksi teknis yang diperlukan,” lanjutnya.
Seluruh peralatan medis dan tanggap darurat juga diperiksa ulang saat tiba di Makkah guna memastikan kesiapan operasional serta ketersediaan suku cadang dan perlengkapan medis.
Selain itu, pemerintah Arab Saudi melakukan pemeriksaan besar terhadap jalan, terowongan, jaringan air, listrik, hingga infrastruktur pendingin yang mengalami tekanan tinggi selama musim haji berlangsung.
Kidana Development Co, badan pelaksana Komisi Kerajaan untuk Kota Makkah dan Tempat Suci, juga memasuki fase operasional baru setelah haji dengan fokus pada inspeksi, rehabilitasi, dan pengembangan infrastruktur.
Pemeriksaan dilakukan dalam dua tahap, yakni untuk infrastruktur permanen seperti jaringan listrik dan air, serta fasilitas sementara yang dipilah berdasarkan tingkat kerusakannya.
Sebagian fasilitas diperbaiki untuk digunakan kembali, sebagian disimpan, sementara aset yang rusak berat diganti dengan teknologi yang lebih baru dan efisien.
Pemerintah juga melakukan evaluasi terhadap data operasional selama haji, mulai dari pergerakan jamaah, efisiensi transportasi, respons darurat, hingga upaya mitigasi cuaca panas.
Hasil evaluasi itu akan digunakan untuk meningkatkan kualitas layanan dan kapasitas haji di masa mendatang sejalan dengan target Saudi Vision 2030.
Sistem transportasi turut menjalani pemeliharaan. Bus-bus pengangkut jamaah diperiksa sebelum dikembalikan ke operator, sementara Metro Al-Mashaaer Al-Mugaddassah menjalani inspeksi teknis sebelum memasuki masa siaga hingga musim haji berikutnya.
Di sisi lain, pengelolaan sampah menjadi salah satu tantangan terbesar pasca-haji.
Juru bicara National Center for Waste Management, Sultan Al-Harthi, mengatakan musim haji menghasilkan berbagai jenis limbah mulai dari sampah rumah tangga, limbah medis, limbah rumah potong hewan, hingga limbah dari proyek Adahi.
“Musim haji menghasilkan berbagai jenis limbah karena besarnya jumlah jamaah dan luasnya layanan yang diberikan di kawasan suci,” kata Al-Harthi.
Menurutnya, setiap jenis limbah ditangani melalui jalur khusus untuk memastikan pengolahan dan pembuangan berjalan aman serta ramah lingkungan.
Ia mengakui lonjakan volume sampah dalam waktu singkat menjadi tantangan utama, ditambah masih adanya ketidakpatuhan sebagian penyedia layanan dan terbatasnya perusahaan pengelola limbah khusus.
Baca juga: Kopernya Tidak Cukup, Jemaah Haji Ini Nekat Kalungkan Boneka Unta demi Cucu
“Tantangan-tantangan ini membutuhkan koordinasi tingkat tinggi antarinstansi terkait, peningkatan kepatuhan, serta pemberdayaan lebih besar kepada perusahaan swasta khusus agar dapat menghadirkan solusi yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.
Pemerintah Arab Saudi menegaskan fase pasca-haji kini menjadi tahap penting dalam memastikan kesiapan penuh kawasan suci demi menyambut jutaan jamaah pada musim haji berikutnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang