KOMPAS.com – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya akhirnya buka suara terkait berbagai tuduhan yang mengaitkan dirinya dan PBNU dengan Zionisme.
Ia menegaskan bahwa sikap PBNU terhadap Palestina tidak pernah berubah dan tetap konsisten mendukung kemerdekaan serta kedaulatan rakyat Palestina.
"Saya tegaskan: sikap saya dan PBNU terhadap Palestina tidak berubah. NU tetap mendukung hak rakyat Palestina untuk merdeka, berdaulat, dan hidup bermartabat. NU menolak penjajahan, kekerasan brutal, genosida, dan penindasan terhadap rakyat Palestina," kata Gus Yahya dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).
Baca juga: PBNU Bantah Tuduhan Penyimpangan Rekening, Siap Audit Terbuka
Ia menegaskan bahwa PBNU secara konsisten menyuarakan hak Palestina untuk memiliki negara yang merdeka dan berdaulat.
Menurut dia, organisasi yang dipimpinnya juga mengutuk tindakan brutal pemerintah Israel di Gaza yang telah menimbulkan korban kemanusiaan dalam jumlah besar.
"NU konsisten menyuarakan hak Palestina untuk memiliki negara merdeka dan berdaulat, serta mengutuk tindakan brutal pemerintah Israel di Gaza sebagai tindakan genocidal yang harus dihentikan komunitas internasional," ujarnya.
Baca juga: Dari Papua hingga Palestina, NU Care-LAZISNU Perluas Distribusi Kurban
Gus Yahya juga membantah tudingan yang menyebut langkah diplomasi dan dialog yang dilakukan PBNU dengan berbagai pihak internasional sebagai bentuk dukungan terhadap Israel atau agenda Zionisme.
Menurut dia, tuduhan tersebut muncul karena adanya kesalahpahaman terhadap pendekatan diplomasi yang selama ini ditempuh Nahdlatul Ulama dalam berbagai forum internasional.
"PBNU percaya bahwa perjuangan Palestina membutuhkan banyak jalur, doa, bantuan kemanusiaan, advokasi politik, diplomasi internasional, dan engagement dengan berbagai pihak," jelas Gus Yahya.
Ia menegaskan bahwa dialog dengan pihak yang memiliki pandangan berbeda tidak dapat diartikan sebagai bentuk dukungan terhadap pandangan atau kebijakan mereka.
"Engagement bukan endorsement. Dialog bukan pembenaran. Bertemu pihak-pihak yang berbeda bukan berarti tunduk pada agenda mereka," tegasnya.
Menurut Gus Yahya, tradisi keilmuan dan kebijaksanaan yang selama ini dipegang Nahdlatul Ulama justru mengajarkan pentingnya berbicara dengan berbagai pihak demi mencegah kerusakan yang lebih besar dan membuka jalan bagi kemaslahatan.
"Dalam tradisi NU, hikmah menuntut keberanian berbicara kepada siapa pun demi mencegah mafsadah yang lebih besar dan membuka jalan kemaslahatan," ucapnya.
Selain soal diplomasi, Gus Yahya juga menanggapi tuduhan yang mengaitkan forum Religion of Twenty (R20) dengan agenda Zionisme internasional. Menurut dia, tuduhan tersebut sama sekali tidak memiliki dasar.
Ia menjelaskan bahwa R20 merupakan forum tokoh agama dunia yang digagas PBNU untuk menghadirkan nilai-nilai agama dalam percakapan global terkait perdamaian, kemanusiaan, dan masa depan peradaban dunia.
"R20 bukan forum Zionisme. R20 adalah ikhtiar NU membawa nilai agama ke meja percakapan global: perdamaian, martabat manusia, penghormatan antarbangsa, dan pencegahan politisasi identitas keagamaan," ungkap Gus Yahya.
Baca juga: 195.326 Jemaah Haji Indonesia Bayar Dam, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Ia mengingatkan bahwa forum tersebut lahir pada masa Presidensi G20 Indonesia dan diselenggarakan sebagai wadah dialog lintas agama serta lintas bangsa untuk memperkuat komitmen bersama terhadap perdamaian dunia.
"NU mendirikan R20 untuk menyediakan platform global bagi para pemimpin agama lintas iman dan bangsa agar menyuarakan nilai-nilai peradaban bersama," ujarnya.
Gus Yahya juga menolak anggapan bahwa PBNU bersikap lunak terhadap Israel. Menurut dia, rekam jejak organisasi selama ini menunjukkan keberpihakan yang jelas kepada rakyat Palestina, baik melalui pernyataan politik maupun aksi kemanusiaan.
Ia menyebut NU Care-LAZISNU bersama sejumlah badan otonom Nahdlatul Ulama telah menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina yang terdampak konflik.
"Komitmen NU untuk Palestina bukan hanya pernyataan. NU Care-LAZISNU dan badan otonom NU telah menyalurkan bantuan kemanusiaan," katanya.
Karena itu, Gus Yahya menilai tuduhan bahwa PBNU berpihak kepada Zionisme atau mendukung penindasan terhadap rakyat Palestina bertentangan dengan fakta dan aktivitas kemanusiaan yang selama ini dilakukan organisasi tersebut.
"Maka tuduhan bahwa PBNU lunak terhadap penindasan Israel atau berpihak kepada Zionisme jelas bertentangan dengan sikap, pernyataan, dan kerja kemanusiaan yang telah dilakukan," tegasnya.
Dalam klarifikasinya, Gus Yahya juga memaparkan garis sikap resmi PBNU terkait konflik Palestina-Israel.
Ia menegaskan bahwa organisasi tersebut mendukung kemerdekaan dan kedaulatan Palestina, mengutuk kekerasan brutal di Gaza, menolak kolonialisme dan apartheid, serta mendukung perdamaian yang adil berdasarkan hukum internasional.
"PBNU harus menyatakan garis sikap dengan terang, mendukung kemerdekaan dan kedaulatan Palestina, mengutuk kekerasan brutal dan tindakan genocidal di Gaza, menolak kolonialisme, apartheid, dan penindasan," ungkapnya.
Baca juga: Gus Yahya: Pemimpin Baru NU Masa Depan Harus Paham Isu Global
Di sisi lain, PBNU juga menolak segala bentuk kebencian berbasis identitas, termasuk antisemitisme dan Islamofobia.
"PBNU menolak antisemitisme sebagai kebencian rasial-keagamaan. PBNU juga menolak Islamofobia dan semua bentuk kebencian berbasis identitas," kata Gus Yahya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa PBNU akan tetap membuka ruang dialog dan engagement strategis dengan berbagai pihak selama hal itu ditujukan untuk kemaslahatan serta tidak mengorbankan prinsip-prinsip yang selama ini dipegang organisasi.
"Kami mendukung diplomasi, hukum internasional, dan perdamaian yang adil. Kami juga tetap membuka engagement strategis sepanjang diarahkan untuk kemaslahatan dan tidak mengorbankan prinsip," ujar Gus Yahya.
Ia berharap warga Nahdlatul Ulama dapat melihat persoalan tersebut secara jernih dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang berupaya mengaitkan PBNU dengan agenda Zionisme tanpa dasar yang jelas.
Menurutnya, sikap Nahdlatul Ulama terhadap Palestina selama ini sudah sangat terang, yakni mendukung kemerdekaan rakyat Palestina, menolak penjajahan, serta memperjuangkan perdamaian yang adil bagi seluruh pihak.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang