KOMPAS.com - Bagi jutaan umat Islam, berakhirnya ibadah haji menandai selesainya salah satu perjalanan spiritual terbesar dalam hidup.
Namun bagi Pemerintah Arab Saudi, berakhirnya musim haji justru menjadi awal dari pekerjaan besar yang jarang diketahui publik.
Saat para jemaah mulai meninggalkan Makkah dan kembali ke negara masing-masing, ribuan petugas langsung bergerak memasuki kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Mereka tidak sedang mempersiapkan musim umrah, melainkan menjalankan operasi raksasa untuk membersihkan, membongkar, memeriksa, dan menyimpan berbagai fasilitas yang digunakan selama puncak haji.
Pertanyaan yang sering muncul adalah ke mana perginya jutaan ton sampah, ribuan kasur, serta hamparan tenda yang memenuhi Mina dan Arafah setelah musim haji selesai?
Jawabannya ternyata melibatkan sistem logistik, pengelolaan limbah, dan pemelih
araan infrastruktur yang sangat kompleks.
Selama musim haji, kawasan Mina berubah menjadi salah satu "kota tenda" terbesar di dunia. Jutaan jemaah menempati kawasan tersebut hanya dalam hitungan hari.
Menurut data resmi Arab Saudi yang dikutip dari Arab News, sebanyak 1.707.301 jemaah melaksanakan ibadah haji tahun 2026. Jumlah ini meningkat sekitar 2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Bayangkan sebuah kota berpenduduk lebih dari 1,7 juta orang yang beroperasi selama beberapa hari dengan kebutuhan listrik, air, makanan, transportasi, pendingin udara, layanan kesehatan, hingga pengelolaan sampah yang harus berjalan tanpa henti.
Ketika musim haji berakhir, seluruh fasilitas tersebut tidak dibiarkan begitu saja.
Baca juga: Daging Dam Jamaah Haji Indonesia Disalurkan ke Palestina untuk Warga Gaza, Dikirim via Mesir
Berbagai instansi Saudi langsung memasuki fase pascahaji yang fokus pada pembersihan dan evaluasi.
Di Mina, fasilitas sementara mulai diperiksa satu per satu. Jalan dibersihkan, sistem pendingin udara diperiksa ulang, jaringan listrik diuji kembali, dan berbagai perlengkapan darurat dikembalikan ke pusat operasional.
"Setelah berakhirnya musim haji, Otoritas Bulan Sabit Merah Saudi mulai melakukan penutupan operasional fasilitas darurat musiman dan mempersiapkannya untuk musim mendatang, sesuai dengan rencana terorganisir yang memastikan kesiapan dan pemanfaatan sumber daya sebaik mungkin." ujar Perwakilan Otoritas Bulan Sabit Merah Saudi dikutip dari Arab News.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa proses pascahaji bukan sekadar bersih-bersih biasa, melainkan bagian dari siklus tahunan yang telah dirancang jauh hari.
Banyak orang mengira seluruh tenda di Mina dibongkar setelah musim haji selesai. Faktanya tidak demikian.
Sejak tragedi kebakaran besar Mina pada 1997, Arab Saudi mengganti tenda-tenda konvensional dengan tenda permanen berbahan tahan api.
Dalam buku Hajj and the Muslim Pilgrimage karya Eric Tagliacozzo dan Shawkat Toorawa dijelaskan bahwa kawasan Mina modern dibangun sebagai kompleks permanen yang dirancang khusus untuk menampung jutaan jemaah dengan standar keselamatan tinggi.
Oleh karena itu, sebagian besar tenda utama di Mina tetap berdiri sepanjang tahun.
Yang dibongkar justru berbagai fasilitas pendukung sementara seperti sekat tambahan, perlengkapan logistik, peralatan operasional, kabin portabel, pusat layanan sementara, dan perlengkapan teknis yang hanya digunakan selama musim haji.
Setelah diperiksa, fasilitas tersebut disimpan di gudang khusus untuk digunakan kembali pada musim berikutnya.
Baca juga: Sejumlah Penerbangan Jemaah Haji Indonesia Delay di Jeddah, PPIH Minta Maskapai Penuhi Hak Jamaah
Selama musim haji, jutaan alas tidur, kasur lipat, selimut, bantal, dan perlengkapan penginapan digunakan di kawasan Mina dan Arafah.
Setelah haji selesai, seluruh perlengkapan tersebut tidak langsung dibuang. Petugas akan melakukan proses sortir berdasarkan tingkat kelayakan.
Perlengkapan yang masih memenuhi standar akan dibersihkan, disterilkan, dan disimpan kembali.
Sementara perlengkapan yang mengalami kerusakan berat akan diganti dengan unit baru untuk musim haji berikutnya.
Proses ini menjadi bagian dari sistem efisiensi yang terus dikembangkan Arab Saudi dalam mendukung target pelayanan jutaan jemaah setiap tahun.
Salah satu tantangan terbesar pascahaji adalah pengelolaan sampah. Kedatangan lebih dari 1,7 juta jemaah dalam waktu bersamaan menghasilkan volume limbah yang sangat besar dalam periode singkat.
Juru Bicara National Center for Waste Management, Sultan Al-Harthi, mengatakan musim haji menghasilkan berbagai jenis limbah.
Mulai dari sampah rumah tangga, limbah medis, limbah rumah potong hewan, hingga limbah yang berasal dari program Adahi atau penyembelihan hewan kurban.
Menurut Al-Harthi, setiap jenis limbah diproses melalui jalur penanganan yang berbeda.
Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh limbah dapat dikelola secara aman sekaligus meminimalkan dampak terhadap lingkungan.
"Tantangan-tantangan ini membutuhkan koordinasi tingkat tinggi antarinstansi terkait, peningkatan kepatuhan, serta pemberdayaan lebih besar kepada perusahaan swasta khusus agar dapat menghadirkan solusi yang lebih berkelanjutan." ujar Sultan Al-Harthi.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa pengelolaan sampah haji kini tidak lagi sekadar persoalan kebersihan, tetapi juga bagian dari agenda keberlanjutan lingkungan Arab Saudi.
Baca juga: Mengintip Fasilitas Arafah 2 Hari Sebelum Puncak Haji
Selama musim haji, ratusan pos kesehatan dan fasilitas tanggap darurat beroperasi di berbagai titik.
Ketika musim berakhir, seluruh peralatan medis menjalani proses inventarisasi dan pemeriksaan teknis.
Seluruh perangkat kesehatan dan perlengkapan darurat diperiksa ulang ketika tiba kembali di Makkah.
Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kesiapan operasional, ketersediaan suku cadang, dan kelengkapan peralatan medis sebelum disimpan atau digunakan kembali.
Langkah ini penting karena peralatan tersebut akan kembali menjadi tulang punggung layanan kesehatan pada musim haji berikutnya.
Tidak hanya tenda dan fasilitas kesehatan yang diperiksa. Pemerintah Saudi juga melakukan audit besar-besaran terhadap infrastruktur utama yang menopang operasional haji.
Jaringan listrik, distribusi air, sistem pendingin udara, jalan raya, terowongan, hingga jalur transportasi diperiksa satu per satu.
Perusahaan pengembang kawasan suci, Kidana Development Company, memasuki fase rehabilitasi dan peningkatan infrastruktur setelah haji selesai.
Fasilitas yang mengalami kerusakan ringan diperbaiki. Sementara infrastruktur yang sudah tidak efisien diganti dengan teknologi yang lebih modern untuk menghadapi musim haji mendatang.
Yang menarik, tidak semua pekerjaan pascahaji bersifat fisik. Arab Saudi juga mengolah jutaan data yang terkumpul selama musim haji.
Data tersebut mencakup pergerakan jemaah, kepadatan lokasi, performa transportasi, respons darurat, hingga efektivitas mitigasi cuaca panas.
Dalam buku Managing the Hajj and Umrah karya Muhammad B. Badri dijelaskan bahwa penggunaan data menjadi salah satu fondasi utama pengelolaan haji modern.
Analisis data memungkinkan pemerintah meningkatkan kapasitas layanan, memperbaiki alur pergerakan jemaah, dan mengurangi risiko kecelakaan.
Hasil evaluasi tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan strategi penyelenggaraan haji tahun berikutnya.
Bagi jemaah, haji mungkin berakhir ketika pesawat meninggalkan Jeddah menuju tanah air. Namun bagi Arab Saudi, musim haji sebenarnya tidak pernah benar-benar selesai.
Saat jutaan tamu Allah pulang membawa kenangan spiritual dari Arafah dan Mina, ribuan petugas mulai menjalankan tugas baru, membersihkan kawasan suci, memperbaiki fasilitas, mengelola sampah, menyimpan perlengkapan, serta mengevaluasi seluruh operasi haji.
Semua dilakukan agar ketika jutaan jemaah kembali datang pada tahun berikutnya, Makkah, Mina, Muzdalifah, dan Arafah sudah siap menyambut mereka dalam kondisi terbaik.
Di balik kemegahan ibadah haji yang disaksikan dunia setiap tahun, terdapat kerja panjang yang nyaris tak terlihat.
Mulai dari pengelolaan sampah, perawatan tenda, penyimpanan kasur, hingga evaluasi jutaan data operasional, semuanya menjadi bagian penting dari upaya menjaga kelancaran salah satu pertemuan manusia terbesar di muka bumi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang