KOMPAS.com – Setelah jutaan Muslim menyelesaikan rangkaian ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi, Arab Saudi kini memasuki fase baru yang tak kalah penting, yaitu proses pemulangan jemaah ke negara asal masing-masing.
Di balik berakhirnya wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, lontar jumrah di Mina, hingga tawaf ifadah di Masjidil Haram, terdapat operasi logistik berskala raksasa yang melibatkan berbagai instansi pemerintah Saudi untuk memastikan jutaan jemaah dapat kembali ke tanah air dengan aman dan tertib.
Dilansir dari Saudi Press Agency (SPA), pemerintah Arab Saudi telah mengerahkan petugas di berbagai bandara, pelabuhan laut, serta pintu perbatasan darat guna mempercepat proses keberangkatan para tamu Allah yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji.
Langkah tersebut menjadi bagian dari sistem pelayanan haji terpadu yang selama bertahun-tahun terus dikembangkan Arab Saudi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada jemaah internasional.
Baca juga: Usai Haji 2026, Ke Mana Tenda Mina dan Jutaan Ton Sampah Dibawa?
Pemulangan jemaah haji merupakan tahap akhir dari penyelenggaraan ibadah haji yang berlangsung selama berbulan-bulan.
Setelah menyelesaikan rangkaian ibadah utama di Makkah dan kawasan suci lainnya, para jemaah mulai bergerak menuju Madinah untuk melaksanakan ziarah ke Masjid Nabawi dan sejumlah lokasi bersejarah Islam.
Dari kota inilah gelombang pertama kepulangan jemaah mulai diberangkatkan. Menurut laporan SPA, penerbangan perdana yang membawa jemaah haji pulang telah lepas landas dari Bandara Internasional Pangeran Mohammed bin Abdulaziz di Madinah.
Para jemaah tersebut sebelumnya telah menyelesaikan seluruh prosesi ibadah haji serta menjalani kunjungan ke berbagai tempat yang memiliki nilai sejarah penting dalam perjalanan dakwah Islam.
Baca juga: Musim Haji Berakhir, Arab Saudi Resmi Buka Pengajuan Visa Umrah
Bagi sebagian besar jemaah internasional, Madinah menjadi kota terakhir yang dikunjungi sebelum kembali ke negara asal.
Di kota yang menjadi tempat hijrah Rasulullah SAW itu, jemaah biasanya menghabiskan beberapa hari untuk beribadah di Masjid Nabawi dan berziarah ke Raudhah, area yang disebut Rasulullah sebagai taman dari taman-taman surga.
Dalam buku Fiqh Haji dan Umrah karya Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas dijelaskan bahwa ziarah ke Madinah memang bukan bagian dari rukun maupun wajib haji.
Namun, kunjungan tersebut memiliki nilai spiritual yang besar karena memberikan kesempatan bagi umat Islam untuk mengenang perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan Islam.
Karena itu, banyak jemaah memanfaatkan waktu di Madinah untuk memperdalam pengalaman spiritual sebelum kembali ke kehidupan sehari-hari.
Menariknya, sebagian jemaah yang mengikuti program khusus yang diselenggarakan Kementerian Urusan Islam, Dakwah, dan Bimbingan Arab Saudi tidak langsung kembali setelah ibadah selesai.
Para peserta terlebih dahulu mengikuti berbagai kegiatan edukatif yang dirancang untuk memperluas wawasan keislaman mereka.
Program tersebut mencakup kunjungan ke sejumlah situs bersejarah Islam, kegiatan dakwah, hingga pengenalan berbagai layanan yang disediakan Kerajaan Arab Saudi bagi jemaah haji dan umrah.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta memperoleh gambaran lebih luas mengenai sejarah Islam sekaligus perkembangan pelayanan modern yang diterapkan Arab Saudi dalam pengelolaan dua kota suci, Makkah dan Madinah.
Beberapa jemaah bahkan menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan program tersebut karena dianggap menambah pemahaman mereka tentang sejarah Islam dan tata kelola pelayanan haji masa kini.
Baca juga: Usai Haji 2026, Arab Saudi Bongkar Tenda Mina dan Mulai Persiapan Besar untuk Musim Haji Berikutnya
Besarnya jumlah jemaah haji membuat proses pemulangan tidak dapat bergantung pada satu jalur transportasi saja.
Pemerintah Saudi mengoperasikan sistem pemulangan melalui tiga jalur utama, yakni udara, laut, dan darat.
Bandara-bandara internasional menjadi titik keberangkatan terbesar karena mayoritas jemaah berasal dari luar negeri.
Selain Bandara Madinah, sejumlah bandara utama lain seperti Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah dan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh juga melayani keberangkatan jemaah.
Sementara itu, sebagian jemaah dari negara-negara tetangga memanfaatkan jalur darat dan pelabuhan laut untuk kembali ke negaranya masing-masing.
Untuk mengantisipasi lonjakan pergerakan manusia dalam waktu yang relatif singkat, Direktorat Jenderal Paspor Arab Saudi memperkuat layanan keimigrasian di seluruh titik keberangkatan.
Otoritas paspor telah menyelesaikan prosedur keberangkatan kelompok pertama jemaah yang pulang melalui Pelabuhan Islam Jeddah dan Bandara Internasional King Khalid.
Petugas tambahan ditempatkan di berbagai pos pemeriksaan guna mempercepat verifikasi dokumen perjalanan dan mengurangi waktu tunggu jemaah.
Langkah tersebut dilakukan agar proses kepulangan berjalan lebih efisien tanpa mengurangi standar keamanan yang diterapkan.
Baca juga: Haji 2026 Bebas Wabah, Arab Saudi Berikan 2,5 Juta Layanan Kesehatan
Besarnya operasi pemulangan tidak lepas dari jumlah peserta haji yang sangat besar. Berdasarkan data resmi Otoritas Umum Statistik Arab Saudi, jumlah jemaah haji tahun 2026 mencapai lebih dari 1,7 juta orang.
Sebanyak sekitar 1,5 juta di antaranya berasal dari luar Arab Saudi, sedangkan lebih dari 160 ribu lainnya merupakan warga negara dan penduduk yang berada di dalam negeri.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa haji tetap menjadi salah satu pertemuan manusia terbesar di dunia yang berlangsung setiap tahun.
Dalam buku Managing the Hajj and Umrah karya Muhammad B. Badri dijelaskan bahwa pengelolaan jutaan jemaah dalam waktu bersamaan memerlukan koordinasi lintas sektor yang sangat kompleks, mulai dari transportasi, kesehatan, keamanan, hingga pengelolaan data.
Karena itulah, fase pemulangan menjadi bagian penting yang menentukan keberhasilan keseluruhan penyelenggaraan haji.
Meski jutaan jemaah mulai meninggalkan Arab Saudi, pekerjaan pemerintah setempat belum berakhir.
Setelah fase pemulangan berlangsung, berbagai lembaga akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan haji 2026.
Data mengenai pergerakan jemaah, pelayanan kesehatan, sistem transportasi, hingga manajemen keramaian akan dianalisis untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan haji tahun berikutnya.
Langkah tersebut sejalan dengan target Vision Saudi 2030 yang menempatkan pelayanan kepada jemaah haji dan umrah sebagai salah satu prioritas utama pembangunan nasional.
Bagi para jemaah, perjalanan pulang menandai berakhirnya rangkaian ibadah yang telah lama diimpikan.
Namun bagi Arab Saudi, berakhirnya musim haji justru menjadi awal dari persiapan baru untuk menyambut jutaan tamu Allah pada musim haji berikutnya.
Di balik keberangkatan satu per satu pesawat yang membawa jemaah kembali ke tanah air, tersimpan kerja besar yang memastikan ibadah terbesar umat Islam itu dapat berlangsung aman, tertib, dan semakin baik dari tahun ke tahun.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang