Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menag Ajak Umat Islam Maknai Tahun Baru Hijriah 1448 H dengan Semangat Kasih Sayang

Kompas.com, 10 Juni 2026, 22:05 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Tahun Baru Islam 1448 Hijriah menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk melakukan refleksi diri sekaligus memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengajak umat Islam menjadikan pergantian tahun Hijriah sebagai sarana mempererat persaudaraan, memperluas kasih sayang, dan membangun harmoni dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, makna hijrah tidak hanya berkaitan dengan perpindahan fisik sebagaimana yang terjadi dalam sejarah Islam, tetapi juga perubahan menuju pribadi yang lebih baik.

Baca juga: Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, Pemko Langsa Gelar Pasar Murah dari 9-12 Juni 2026

Karena itu, semangat hijrah perlu diwujudkan melalui sikap saling peduli, saling menghormati, dan memperkuat rasa cinta kepada sesama manusia.

Hijrah Tidak Hanya Bermakna Perpindahan Fisik

Nasaruddin menegaskan bahwa ukuran keberagamaan seseorang dapat tercermin dari sikap dan kepeduliannya terhadap orang lain.

Baca juga: Siap-siap Long Weekend, Ini Jadwal Libur Tahun Baru Islam 1448 H

"Kalau kita mau mengukur apakah kita beragama atau tidak, lihatlah seberapa besar rasa cinta kita terhadap sesama," ujarnya.

Menurut dia, semangat hijrah yang sesungguhnya adalah proses perubahan menuju kualitas hidup yang lebih baik, baik dalam hubungan dengan Allah SWT maupun dalam interaksi sosial.

Karena itu, momentum Tahun Baru Hijriah dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki diri sekaligus meningkatkan kontribusi positif kepada lingkungan sekitar.

Esensi Ajaran Agama Adalah Kasih Sayang

Nasaruddin menjelaskan bahwa inti ajaran agama pada dasarnya adalah kasih sayang.

Dalam Islam, nilai tersebut tercermin melalui sifat Allah SWT, Ar-Rahman dan Ar-Rahim, yang menjadi fondasi hubungan manusia dengan Tuhan serta sesama manusia.

Menurutnya, nilai kasih sayang harus menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat agar agama mampu menghadirkan ketenteraman, kedamaian, dan kebahagiaan bersama.

Agama Tidak Boleh Menjadi Sumber Perpecahan

Menag juga mengingatkan agar agama tidak digunakan sebagai alat untuk menyebarkan kebencian maupun menciptakan perpecahan di tengah masyarakat.

Sebaliknya, agama harus menjadi sumber energi positif yang memperkuat persatuan dan membangun kehidupan yang harmonis.

"Kalau ada orang berbicara tentang agama tetapi mengumbar kebencian, maka sesungguhnya ia sedang menjauh dari substansi ajaran agama itu sendiri," katanya.

Menurut Nasaruddin, semangat Tahun Baru Hijriah 1448 H seharusnya menjadi pengingat bagi umat Islam untuk terus menebarkan kasih sayang, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.

Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul “Menag Nasaruddin Umar Ajak Umat Islam Tebarkan Kasih Sayang di Momen Tahun Baru Hijriah 1448 H”. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
 Menag Ajak Umat Islam Maknai Tahun Baru Hijriah 1448 H dengan Semangat Kasih Sayang
Menag Ajak Umat Islam Maknai Tahun Baru Hijriah 1448 H dengan Semangat Kasih Sayang
Aktual
Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, Pemko Langsa Gelar Pasar Murah dari 9-12 Juni 2026
Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, Pemko Langsa Gelar Pasar Murah dari 9-12 Juni 2026
Aktual
 Siap-siap Long Weekend, Ini Jadwal Libur Tahun Baru Islam 1448 H
Siap-siap Long Weekend, Ini Jadwal Libur Tahun Baru Islam 1448 H
Aktual
Macam-Macam Masa Iddah Wanita dalam Islam dan Hukum Melamarnya
Macam-Macam Masa Iddah Wanita dalam Islam dan Hukum Melamarnya
Aktual
Kemenhaj Ungkap Ciri Badal Haji Fiktif, Tarif Rp 10 Juta Dinilai Tak Masuk Akal dan Mencurigakan
Kemenhaj Ungkap Ciri Badal Haji Fiktif, Tarif Rp 10 Juta Dinilai Tak Masuk Akal dan Mencurigakan
Aktual
Kapan Tahun Baru Islam 2026? Catat Jadwal Puasa Tasua dan Asyura 1448 Hijriah
Kapan Tahun Baru Islam 2026? Catat Jadwal Puasa Tasua dan Asyura 1448 Hijriah
Aktual
Sejarah 1 Muharram Jadi Tahun Baru Islam, Ternyata Bukan Ditetapkan pada Masa Nabi
Sejarah 1 Muharram Jadi Tahun Baru Islam, Ternyata Bukan Ditetapkan pada Masa Nabi
Aktual
Doa Kafaratul Majelis Lengkap Arab, Latin, dan Arti serta Keutamaannya
Doa Kafaratul Majelis Lengkap Arab, Latin, dan Arti serta Keutamaannya
Doa dan Niat
Sejarah 1 Muharram sebagai Awal Kalender Hijriah dan Keistimewaannya
Sejarah 1 Muharram sebagai Awal Kalender Hijriah dan Keistimewaannya
Aktual
Agar Rumah Menjadi Sumber Kebahagiaan, Ini Rahasia yang Sering Terlupakan
Agar Rumah Menjadi Sumber Kebahagiaan, Ini Rahasia yang Sering Terlupakan
Aktual
Sederet Amalan dan Larangan di Bulan Muharram, Umat Islam Wajib Tahu
Sederet Amalan dan Larangan di Bulan Muharram, Umat Islam Wajib Tahu
Aktual
12 Amalan di Bulan Muharram, dari Puasa Asyura hingga Sedekah Anak Yatim
12 Amalan di Bulan Muharram, dari Puasa Asyura hingga Sedekah Anak Yatim
Aktual
Niat Puasa Tasua dan Asyura 2026, Lengkap Arab, Latin serta Artinya
Niat Puasa Tasua dan Asyura 2026, Lengkap Arab, Latin serta Artinya
Doa dan Niat
Cara Menyusun Resolusi Islami di Tahun Baru Hijriah agar Istiqamah
Cara Menyusun Resolusi Islami di Tahun Baru Hijriah agar Istiqamah
Aktual
Rutin Dibaca Rasulullah, Ini 10 Surat Pendek untuk Shalat
Rutin Dibaca Rasulullah, Ini 10 Surat Pendek untuk Shalat
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com