KOMPAS.com — Pergantian tahun dalam kalender Hijriah sering kali datang tanpa gegap gempita.
Tidak ada pesta kembang api, hitung mundur di pusat kota, atau perayaan besar yang menyita perhatian publik.
Namun bagi umat Islam, Tahun Baru Hijriah justru menyimpan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar pergantian angka.
Tahun baru dalam Islam mengingatkan umat pada salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah, yaitu hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Madinah.
Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan simbol perubahan, pengorbanan, keberanian, dan awal peradaban Islam yang lebih kuat.
Karena itulah, datangnya 1 Muharram sering dipandang sebagai momentum untuk berhijrah secara spiritual.
Bukan berpindah tempat, melainkan berpindah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan yang lebih baik, dari kelalaian menuju ketaatan, serta dari kehidupan yang biasa-biasa saja menuju hidup yang lebih bermakna di hadapan Allah SWT.
Lalu, resolusi seperti apa yang sebaiknya disusun seorang Muslim saat memasuki tahun Hijriah yang baru?
Banyak orang memahami hijrah hanya sebagai peristiwa sejarah. Padahal para ulama menjelaskan bahwa semangat hijrah tetap relevan hingga hari ini.
Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:
"Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah."
Hadis tersebut menunjukkan bahwa hijrah tidak selalu berarti meninggalkan kampung halaman.
Hijrah dapat berupa meninggalkan maksiat, memperbaiki akhlak, memperbanyak ibadah, atau memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Dalam buku Fiqh As-Sirah karya Muhammad Al-Ghazali dijelaskan bahwa hijrah merupakan transformasi total menuju keadaan yang lebih baik. Spirit inilah yang seharusnya menjadi inspirasi ketika memasuki tahun baru Hijriah.
Jika selama setahun terakhir seseorang masih sering menunda shalat, lalai membaca Al-Qur'an, mudah marah, atau kurang peduli kepada orang lain, maka tahun baru adalah kesempatan untuk memulai lembaran yang lebih baik.
Baca juga: Kenapa Muharram Identik dengan Anak Yatim? Ini Sejarah dan Asalnya
Sebelum menentukan target baru, Islam mengajarkan pentingnya melakukan muhasabah atau evaluasi diri.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hasyr ayat 18:
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok."
Ayat ini sering dijadikan landasan penting oleh para ulama dalam melakukan introspeksi.
Menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, seorang Muslim yang tidak pernah mengevaluasi dirinya akan sulit mengetahui kekurangan dan kesalahan yang perlu diperbaiki.
Muhasabah dapat dimulai dengan pertanyaan sederhana:
Jawaban jujur atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membantu menentukan arah perubahan yang lebih realistis.
Banyak resolusi gagal bukan karena targetnya terlalu tinggi, melainkan karena niatnya tidak kuat.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya." (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa niat merupakan fondasi seluruh amal.
Ketika tujuan perubahan semata-mata karena Allah SWT, seseorang akan lebih mudah bertahan saat menghadapi kesulitan.
Karena itu, sebelum menuliskan daftar target tahunan, seorang Muslim perlu bertanya kepada dirinya sendiri:
"Apakah saya ingin berubah demi penilaian manusia, atau karena ingin menjadi hamba yang lebih baik di hadapan Allah?"
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menentukan kualitas seluruh perjalanan selama setahun ke depan.
Jika harus memilih satu resolusi paling penting, banyak ulama menyarankan agar seorang Muslim memulai dari perbaikan shalat.
Shalat merupakan tiang agama dan amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat.
Dalam buku Mukhtashar Minhajul Qashidin karya Ibnu Qudamah dijelaskan bahwa kualitas ibadah lain sering kali mengikuti kualitas shalat seseorang.
Resolusi yang bisa dibuat antara lain:
Perubahan besar dalam kehidupan spiritual biasanya dimulai dari perbaikan shalat.
Baca juga: Doa dan Dzikir 1 Muharram 2026, Amalan Awal Tahun Memohon Ampunan
Banyak orang memiliki target mengkhatamkan Al-Qur'an, tetapi kesulitan menjaga konsistensi.
Padahal para ulama menekankan bahwa amalan kecil yang dilakukan terus-menerus lebih dicintai Allah dibandingkan amalan besar yang hanya sesekali dilakukan.
Dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah SAW menyukai amalan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Karena itu, target sederhana seperti membaca dua halaman setiap hari sering kali lebih efektif dibandingkan target besar yang sulit dipertahankan.
Menurut Prof. Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur'an, interaksi rutin dengan Al-Qur'an bukan hanya memperkaya pengetahuan agama, tetapi juga membentuk karakter dan cara berpikir seorang Muslim.
Resolusi Islami tidak hanya berhubungan dengan ibadah pribadi.
Islam juga mengajarkan pentingnya hubungan sosial yang baik.
Dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad, Imam Bukhari banyak meriwayatkan hadis tentang pentingnya membantu sesama dan mempererat hubungan sosial.
Tahun baru bisa menjadi momentum untuk:
Perubahan kecil dalam kepedulian sosial sering kali memberikan dampak besar bagi kehidupan orang lain.
Banyak orang rajin beribadah, tetapi masih mudah menyakiti orang lain melalui perkataan.
Padahal Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau diam."
Dalam kitab Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa menjaga lisan termasuk salah satu bentuk ibadah yang paling berat sekaligus paling penting.
Resolusi yang dapat dibuat misalnya:
Akhlak yang baik sering kali menjadi ukuran nyata kualitas keimanan seseorang.
Baca juga: Kalender Islam Juni 2026: Catat Tanggal 1 Muharram 1448 H dan Tahun Baru Islam
Salah satu resolusi terbaik yang sering dianjurkan para ulama adalah memperdalam ilmu agama.
Imam Syafi'i pernah mengatakan bahwa menuntut ilmu lebih utama daripada sebagian ibadah sunnah karena ilmu menjadi petunjuk dalam menjalankan seluruh amal.
Target yang dapat dibuat antara lain:
Dalam buku Ta'lim Al-Muta'allim karya Az-Zarnuji dijelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat akan menjadi cahaya yang membimbing seseorang sepanjang hidupnya.
Kesalahan yang sering terjadi saat membuat resolusi adalah menetapkan terlalu banyak target sekaligus.
Akibatnya, semangat hanya bertahan beberapa minggu.
Para ahli psikologi maupun para ulama sama-sama menekankan pentingnya perubahan bertahap.
Dalam kitab Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa proses perbaikan diri berlangsung sedikit demi sedikit hingga menjadi karakter yang menetap.
Karena itu, lebih baik memiliki tiga target yang konsisten dijalankan daripada sepuluh target yang hanya menjadi daftar tulisan.
Setelah berusaha menyusun rencana terbaik, seorang Muslim tetap harus menyadari bahwa keberhasilan sejati berasal dari pertolongan Allah SWT.
Salah satu doa yang dianjurkan untuk diamalkan adalah:
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Rabbi zidnii 'ilmaa
Artinya: "Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku." (QS Taha: 114)
Selain itu, doa agar diberi istiqamah juga penting untuk dibaca sepanjang tahun.
Dalam Al-Wabil Ash-Shayyib, Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa doa merupakan senjata orang beriman dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Tawakal bukan berarti menyerah tanpa usaha. Tawakal adalah menyerahkan hasil kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik yang mampu dilakukan.
Pada akhirnya, resolusi Islami bukan tentang membuat daftar panjang yang mengesankan. Esensinya adalah membangun komitmen untuk menjadi pribadi yang sedikit lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Tahun baru Hijriah mengingatkan bahwa setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.
Tidak ada kata terlambat untuk memulai hijrah menuju kehidupan yang lebih dekat kepada Allah SWT.
Jika hijrah Rasulullah SAW melahirkan peradaban besar dalam sejarah Islam, maka hijrah kecil yang dilakukan setiap Muslim hari ini dapat melahirkan perubahan besar dalam kehidupan pribadinya.
Dan bisa jadi, perubahan sederhana seperti menjaga shalat tepat waktu, membaca Al-Qur'an setiap hari, memperbaiki akhlak, atau memperbanyak sedekah menjadi langkah awal menuju kehidupan yang lebih tenang, lebih berkah, dan lebih bermakna pada tahun Hijriah yang baru.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang