Editor
KOMPAS.com - Musim haji 1447 Hijriah mulai berakhir, namun aktivitas spiritual para jemaah di Tanah Suci masih terus berlangsung.
Menjelang kepulangan ke Indonesia, banyak jemaah memanfaatkan waktu untuk mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah yang berkaitan dengan perjalanan dakwah Islam.
Salah satu destinasi yang paling banyak didatangi adalah Kota Taif, yang menyimpan kisah penting dalam kehidupan Rasulullah SAW.
Baca juga: Mengenal Masjid Tanim atau Masjid Aisyah, Tempat Miqat di Makkah
Di kota berhawa sejuk yang berada di kawasan pegunungan tersebut, Masjid Abdullah bin Abbas menjadi tujuan utama para peziarah dari berbagai negara.
Perjalanan menuju Taif dari Makkah harus ditempuh melalui jalur pegunungan berbatu. Namun, kondisi tersebut tidak mengurangi minat para jemaah untuk berkunjung ke kota yang dikenal memiliki sejarah penting dalam dakwah Islam tersebut.
Baca juga: Masjid Nabawi Distribusikan 235 Ton Air Zamzam Setiap Hari untuk Jemaah
Setiap hari, kawasan Masjid Abdullah bin Abbas dipadati pengunjung dari berbagai penjuru dunia. Suasana di sekitar masjid juga terasa hidup dengan kehadiran para pedagang yang berasal dari berbagai negara, seperti Bangladesh dan Pakistan.
Masjid Abdullah bin Abbas berdiri sejak tahun 592 Hijriah dan mampu menampung sekitar 3.000 jemaah. Selain dikenal karena arsitekturnya yang ditopang ratusan tiang, masjid ini memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi umat Islam.
Masjid Abdullah bin Abbas berdiri di kawasan yang menjadi pengingat salah satu fase berat dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW.
Sejarah mencatat, Rasulullah mendatangi Taif ketika tekanan dan embargo ekonomi dari kaum Quraisy di Makkah semakin berat. Saat itu, beliau berharap masyarakat Taif dapat menerima dakwah Islam sekaligus memberikan perlindungan.
Namun harapan tersebut tidak terwujud. Penduduk Taif menolak dakwah Rasulullah, mencemooh, bahkan memperlakukan beliau dengan sangat buruk.
Di tengah kesedihan dan sebelum kembali ke Makkah, Rasulullah sempat beristirahat di sebuah lokasi yang kini menjadi kawasan berdirinya Masjid Abdullah bin Abbas.
Tempat tersebut kemudian menjadi simbol keteguhan dan kesabaran Rasulullah dalam menghadapi berbagai ujian dakwah.
Selain berkaitan dengan perjalanan Rasulullah SAW, masjid ini juga mengabadikan nama Abdullah bin Abbas, sahabat sekaligus sepupu Nabi Muhammad SAW yang dimakamkan tidak jauh dari lokasi tersebut.
Abdullah bin Abbas wafat pada tahun 68 Hijriah dan dikenal sebagai salah satu ulama besar dalam sejarah Islam. Ia dikenang karena keahliannya dalam menafsirkan Al Quran, kekuatan hafalan, kecerdasan, serta kedekatannya dengan Rasulullah SAW.
Hingga kini, Masjid Abdullah bin Abbas tidak hanya digunakan untuk pelaksanaan salat lima waktu, salat Jumat, dan salat Id. Masjid tersebut juga menjadi pusat kegiatan keagamaan berupa kajian, seminar, hingga perkuliahan agama bagi masyarakat setempat.
Bagi jemaah Indonesia, kunjungan ke Taif bukan sekadar wisata religi. Ziarah tersebut menjadi kesempatan untuk memahami kembali beratnya perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan ajaran Islam.
Salah satu rombongan yang mengunjungi Taif dipimpin oleh Suleman, ketua rombongan jemaah asal Sukabumi, Jawa Barat.
"Ziarah ke Taif dilakukan karena ini merupakan kota harapan Rasulullah. Di masa beliau mendapat intimidasi dan embargo, beliau berharap pertolongan dari kaum Taif, meski ternyata Allah belum memberikan izin," ujarnya.
Menurut Suleman, kunjungan ke Masjid Abdullah bin Abbas juga menjadi sarana untuk meneladani semangat menuntut ilmu yang dimiliki sahabat Nabi tersebut.
"Kita berkunjung ke mari karena Abdullah bin Abbas adalah sepupu Rasul yang sudah mendapatkan doa langsung dari Rasulullah. Semoga kita juga terinspirasi menjadi orang-orang yang terus memperdalam ilmu agama. Aamiin," kata Suleman.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang