BANYUWANGI, KOMPAS.com - Gelombang kepulangan jemaah haji ke tanah air selalu membawa kebahagiaan sekaligus refleksi spiritual yang mendalam.
Di antara doa-doa yang dipanjatkan, predikat "Haji Mabrur" menjadi cita-cita tertinggi yang paling digantungkan.
Wajar saja, karena taruhannya tidak main-main—yaitu surga.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
«وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ»
“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari & Muslim)
Namun, mabrur bukan sekadar label sosial sepulang dari Baitullah.
Baca juga: Kisah 42 Petani Dieng Sekeluarga Besar Berangkat Haji Bersama Tanpa Direncanakan
Ia adalah sebuah pencapaian yang menuntut kesempurnaan ibadah, baik dari sisi vertikal (kepada Allah) maupun horizontal (kepada sesama manusia).
Secara bahasa, mabrur berasal dari kata al-birr yang berarti ketaatan atau kebaikan.
Imam An-Nawawi rahimahullah merumuskan definisinya dengan ringkas dan padat:
«الْأَصَحُّ الْأَشْهَرُ أَنَّ الْمَبْرُورُ هُوَ الَّذِي لَا يُخَالِطُهُ إِثْمٌ، مَأْخُوذٌ مِنَ الْبِرِّ وَهُوَ الطَّاعَةُ»
“Pendapat yang paling shahih dan paling masyhur bahwa al-mabrur adalah haji yang tidak dicampuri dosa, diambil dari kata al-birr yaitu ketaatan.”
Para ulama lain menambahkan bahwa haji mabrur adalah ibadah yang bersih dari penyakit riya' (ingin dipuji) dan rafats (perkataan/perbuatan porno), tidak dicampuri kefasikan, serta dibiayai sepenuhnya dari harta yang halal.
Secara garis besar, ada 10 sifat utama yang menjadi pilar kemabruran haji, di antaranya: keikhlasan niat, mengikuti sunah Nabi ﷺ (لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ), memperbanyak zikir, menjaga lisan dari perdebatan (jidal), hingga kerelaan untuk berbuat baik dan memuliakan sesama jemaah sebagai sesama tamu Allah (Wafdullah).
Satu hal yang kerap luput dari perhatian adalah bahwa esensi haji mabrur justru baru dimulai ketika jemaah melangkahkan kaki kembali ke rumah masing-masing.
Haji mabrur bukanlah sertifikat statis, melainkan sebuah transformasi perilaku.
Ulama besar tabi'in, Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah memberikan indikator yang sangat jelas:
«الْحَجُّ الْمَبْرُورُ أَنْ يَرْجِعَ زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا رَاغِبًا فِي الْآخِرَةِ»
“Haji mabrur adalah ia kembali dalam keadaan zuhud terhadap dunia dan cinta kepada akhirat.”
Senada dengan hal itu, Al-Hafizh Ibnu Hajar menegaskan bahwa jika seseorang kembali dengan kondisi kepribadian yang lebih baik daripada sebelum ia berangkat, maka itulah tanda nyata hajinya mabrur.
Sungguh ironis jika seseorang yang telah dibersihkan dosanya hingga suci bak bayi baru lahir, justru kembali merajut kemaksiatan lama setibanya di tanah air.
Menyikapi momentum ini, Da'i Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi memberikan catatan dan pengingat penting bagi jemaah:
"Jangan pernah kita merasa jemawa atau memastikan bahwa haji kita pasti diterima. Orang-orang beriman yang sesungguhnya justru selalu cemas dan takut jika amal ibadahnya ditolak oleh Allah," katanya.
Baca juga: Timwas Haji DPR: Presiden Minta Antrean Haji Dipangkas Lagi Jadi 26 Tahun
Tugas terberat jemaah sekarang menurutnya adalah merawat lentera iman yang sudah dinyalakan di tanah suci agar tidak padam oleh rutinitas duniawi di rumah.
Ia berpesan agar menjaga konsistensi ibadah, hiasi diri dengan akhlak mulia, dan basahi lidah dengan doa yang sering dipanjatkan para sahabat Nabi:
«اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا»
(Ya Allah jadikanlah ini haji mabrur dan dosa yang diampuni).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang