BANYUWANGI, KOMPAS.com - Dalam dinamika hidup yang serba cepat, banyak aktivitas kita berjalan secara mekanis.
Bangun pagi, bekerja, hingga berinteraksi kerap terjebak dalam rutinitas.
Namun dalam Islam, ada satu kemudi tak terlihat yang menentukan nilai dari setiap jengkal aktivitas tersebut yaitu niat.
Begitu fundamentalnya perkara ini, hingga hadis populer riwayat Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu menempatkan niat sebagai poros segalanya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
"Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia capai atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya adalah kepada apa yang ia tuju." (HR.Bukhari dan Muslim).
Baca juga: Surah Al Ikhlas Hanya 4 Ayat, Mengapa Setara Sepertiga Al-Quran?
Para ulama menyebut hadis ini sebagai sepertiga ilmu Islam.
Niat yang secara bahasa berarti al-qashdu (kehendak/tujuan) adalah timbangan batin yang menentukan apakah sebuah perbuatan sah, bernilai pahala, atau justru menguap tanpa makna.
Berdasarkan kesepakatan ulama, letak niat ada di dalam hati.
Di sinilah niat bekerja dalam dua dimensi penting, yaitu membedakan Kebiasaan (Adat) dan Ibadah.
Membasuh tubuh di pagi hari bisa jadi hanya mandi biasa untuk kesegaran.
Namun dengan niat mandi wajib, aktivitas biologis tersebut seketika berubah menjadi pahala.
Begitu pula dengan menahan lapar tanpa niat, ia hanyalah diet, namun dengan niat yang benar, ia menjelma menjadi ibadah puasa.
Baca juga: 3 Tingkatan Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani, Mengharap Ridha Allah Jadi yang Utama
yaitu menguji ketulusan (ikhlas). Niat berfungsi memisahkan antara orang yang beramal murni karena Allah dengan mereka yang sekadar mengejar pujian (riya) atau materi duniawi.
Mengenai fenomena batin ini, Da'i Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi menjelaskan, "Niat itu porosnya di dalam hati, wilayah rahasia antara hamba dan Pencipta. Dua orang bisa berdiri di shaf shalat yang sama dan melakukan gerakan yang persis serupa. Namun, nilai pahala keduanya bisa sejauh langit dan bumi. Yang satu meraih derajat mulia karena mengharap rida Allah, sementara yang lain hanya mendapat lelah karena hatinya sibuk mencari apresiasi manusia."
Untuk memberikan gambaran konkret, Rasulullah ﷺ memberi perumpamaan lewat peristiwa hijrah.
Ada yang berhijrah murni karena panggilan iman, maka balasan mulia menantinya.
Baca juga: Mengapa Doa Bisa Membuat Hati Lebih Tenang? Ini 5 Doa Sabar dan Ikhlas yang Dianjurkan
Sebaliknya, sejarah mencatat kisah seorang pria yang ikut berpindah dari Mekkah ke Madinah hanya demi menikahi wanita idamannya, Ummu Qais.
Pria tersebut akhirnya dijuluki Muhajir Ummu Qais. Secara fisik, ia menempuh perjalanan berat membelah gurun yang sama dengan kaum muslimin.
Namun secara spiritual, ia kehilangan pahala hijrah dan hanya mendapatkan apa yang ia tuju: wanita dan dunianya.
Hadits ini adalah pengingat keras agar kita selalu melakukan muhasabah (evaluasi diri) sebelum melangkah.
Kualitas ganjaran dari Allah sangat bergantung pada kadar keikhlasan di dalam dada.
Hebatnya kemurahan Allah, saat seseorang berniat tulus melakukan kebaikan namun terhalang uzur, pahalanya tetap dicatat utuh.
Sebaliknya, amalan sebesar gunung pun akan runtuh menjadi debu jika fondasi niatnya keropos oleh ambisi semu.
Menata niat adalah perjuangan seumur hidup agar setiap peluh, waktu, dan harta yang kita korbankan tidak berujung pada kesia-siaan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang