MADINAH, KOMPAS.com - Di tengah lautan peziarah yang memadati kemegahan Masjid Nabawi, terselip sebuah bangunan bersahaja yang menyimpan rekam jejak panjang peradaban Islam.
Berjarak hanya sekitar satu kilometer dari pusat ibadah tersebut, berdirilah Masjid Al-Anbariyah, sebuah permata arsitektur warisan Kekaisaran Turki Utsmani.
Masjid ini dibangun pada tahun 1908 oleh Sultan Abdul Hamid II, pada masa ketika kekaisaran tersebut masih memegang kendali atas kawasan Hijaz.
Lebih dari sekadar tempat bersujud, masjid ini adalah saksi bisu dari era ketika Kota Madinah pertama kali terhubung dengan dunia luar melalui teknologi transportasi modern.
Baca juga: Ziarah ke Taif, Menelusuri Jejak Dakwah Rasulullah di Masjid Abdullah bin Abbas
Menengok kembali ke awal abad ke-20, pembangunan Masjid Al-Anbariyah dieksekusi beriringan dengan proyek raksasa jalur Kereta Api Hijaz.
Posisinya sangat strategis, hanya berjarak 40 langkah dari pintu masuk bekas Stasiun Kereta Api Hijaz Madinah.
Pada masanya, masjid ini sengaja didirikan untuk menyambut para musafir dan pengguna kereta api.
Begitu tiba di Madinah, hal pertama yang bisa mereka temukan adalah fasilitas ibadah ini, menjadikannya oase penyejuk dahaga spiritual setelah perjalanan jauh.
Hal ini menjadi cerminan visi pemerintahan Turki Utsmani pada masa kejayaannya. Bagi mereka, pembangunan infrastruktur publik bukan semata-mata soal perputaran ekonomi, melainkan juga bentuk pelayanan untuk memudahkan umat Islam menjalankan ibadahnya.
Baca juga: Mengenal Masjid Tanim atau Masjid Aisyah, Tempat Miqat di Makkah
Secara fisik, Masjid Al-Anbariyah adalah representasi otentik dari gaya arsitektur Turki Utsmani yang sangat kental.
Meski ukurannya tidak semegah masjid-masjid utama di Madinah, keindahannya terletak pada material dan detail bangunannya, sekaligus menjadi penanda periode historis ketika arsitektur Utsmaniyah banyak menyerap pengaruh gaya dekoratif Eropa.
Dari sisi eksterior, dinding masjid tersusun dari batu padas hitam alami khas Madinah, material yang sama persis dengan bangunan stasiun di seberangnya. Pemilihan batu ini memancarkan aura maskulin, elegan, dan sangat kokoh.
Melengkapi eksteriornya, bagian serambi pintu masuk memiliki atap yang bertumpu pada kolom-kolom kokoh dengan lengkungan runcing dan kepala tiang bergaya muqarnas.
Sedangkan interiornya sangat kontras dengan bagian luarnya. Bagian dalam masjid dilapisi oleh marmer putih bersih. Desain ini dirancang khusus untuk menciptakan atmosfer yang sejuk dan menenangkan bagi siapa pun yang beribadah di dalamnya.
Baca juga: 180.000 Karpet Masjid Nabawi Dicuci Setiap Tahun, Begini Prosesnya
Daya tarik utamanya ada pada mihrab khas Ottoman yang membentuk ceruk menjorok ke dalam, berhiaskan ornamen muqarnas menyerupai sarang lebah atau stalaktit di bagian atasnya.
Area imam ini diapit secara simetris oleh dua pilar pualam putih, sementara sebuah lampu gantung tradisional bergaya Utsmaniyah tampak megah menghiasi langit-langit.
Ketangguhan struktur yang dibangun lebih dari seabad lalu ini turut mengundang decak kagum dari para pelancong masa kini. Salah satunya adalah Nizam, seorang pengunjung asal Indonesia yang menyempatkan singgah.
“Bangunannya tetap kokoh. Tidak terlihat seperti bangunan yang sudah berusia lebih dari seratus tahun. Ini bukti kualitas pembangunan masa itu,” ujarnya.
Kini, kawasan Al-Anbariyah berkembang menjadi salah satu urat nadi yang sangat strategis di Kota Madinah. Masjid ini dikelilingi oleh berbagai fasilitas pelayanan publik, gedung administrasi pemerintahan, serta dilintasi rute utama yang membelah pusat kota.
Di zaman modern ini, Masjid Al-Anbariyah tetap berdiri tegak. Ia merawat memori kolektif kita tentang bagaimana sebuah kekuatan besar dunia Islam pernah mengerahkan segala daya untuk mendekatkan umatnya ke Tanah Suci.
Dari susunan batu hitamnya yang menolak hancur digerus waktu, Masjid Al-Anbariyah akan terus bercerita tentang perpaduan indah antara teknologi, dedikasi, dan kejayaan masa lalu
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang