Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jejak Turki Utsmani dan Kereta Hijaz di Balik Dinding Masjid Al-Anbariyah di Madinah

Kompas.com, 19 Juni 2026, 20:53 WIB
Pythag Kurniati,
Khairina

Tim Redaksi


MADINAH, KOMPAS.com - Di tengah lautan peziarah yang memadati kemegahan Masjid Nabawi, terselip sebuah bangunan bersahaja yang menyimpan rekam jejak panjang peradaban Islam.

Berjarak hanya sekitar satu kilometer dari pusat ibadah tersebut, berdirilah Masjid Al-Anbariyah, sebuah permata arsitektur warisan Kekaisaran Turki Utsmani.

Masjid ini dibangun pada tahun 1908 oleh Sultan Abdul Hamid II, pada masa ketika kekaisaran tersebut masih memegang kendali atas kawasan Hijaz.

Lebih dari sekadar tempat bersujud, masjid ini adalah saksi bisu dari era ketika Kota Madinah pertama kali terhubung dengan dunia luar melalui teknologi transportasi modern.

Baca juga: Ziarah ke Taif, Menelusuri Jejak Dakwah Rasulullah di Masjid Abdullah bin Abbas

Menengok kembali ke awal abad ke-20, pembangunan Masjid Al-Anbariyah dieksekusi beriringan dengan proyek raksasa jalur Kereta Api Hijaz.

Posisinya sangat strategis, hanya berjarak 40 langkah dari pintu masuk bekas Stasiun Kereta Api Hijaz Madinah.

Pada masanya, masjid ini sengaja didirikan untuk menyambut para musafir dan pengguna kereta api.

Begitu tiba di Madinah, hal pertama yang bisa mereka temukan adalah fasilitas ibadah ini, menjadikannya oase penyejuk dahaga spiritual setelah perjalanan jauh.

Hal ini menjadi cerminan visi pemerintahan Turki Utsmani pada masa kejayaannya. Bagi mereka, pembangunan infrastruktur publik bukan semata-mata soal perputaran ekonomi, melainkan juga bentuk pelayanan untuk memudahkan umat Islam menjalankan ibadahnya.

Baca juga: Mengenal Masjid Tanim atau Masjid Aisyah, Tempat Miqat di Makkah

Pesona Batu Hitam dan Pualam Putih

Secara fisik, Masjid Al-Anbariyah adalah representasi otentik dari gaya arsitektur Turki Utsmani yang sangat kental.

Meski ukurannya tidak semegah masjid-masjid utama di Madinah, keindahannya terletak pada material dan detail bangunannya, sekaligus menjadi penanda periode historis ketika arsitektur Utsmaniyah banyak menyerap pengaruh gaya dekoratif Eropa.

Dari sisi eksterior, dinding masjid tersusun dari batu padas hitam alami khas Madinah, material yang sama persis dengan bangunan stasiun di seberangnya. Pemilihan batu ini memancarkan aura maskulin, elegan, dan sangat kokoh.

Melengkapi eksteriornya, bagian serambi pintu masuk memiliki atap yang bertumpu pada kolom-kolom kokoh dengan lengkungan runcing dan kepala tiang bergaya muqarnas.

Sedangkan interiornya sangat kontras dengan bagian luarnya. Bagian dalam masjid dilapisi oleh marmer putih bersih. Desain ini dirancang khusus untuk menciptakan atmosfer yang sejuk dan menenangkan bagi siapa pun yang beribadah di dalamnya.

Baca juga: 180.000 Karpet Masjid Nabawi Dicuci Setiap Tahun, Begini Prosesnya

Daya tarik utamanya ada pada mihrab khas Ottoman yang membentuk ceruk menjorok ke dalam, berhiaskan ornamen muqarnas menyerupai sarang lebah atau stalaktit di bagian atasnya.

Area imam ini diapit secara simetris oleh dua pilar pualam putih, sementara sebuah lampu gantung tradisional bergaya Utsmaniyah tampak megah menghiasi langit-langit.

Ketangguhan struktur yang dibangun lebih dari seabad lalu ini turut mengundang decak kagum dari para pelancong masa kini. Salah satunya adalah Nizam, seorang pengunjung asal Indonesia yang menyempatkan singgah.

“Bangunannya tetap kokoh. Tidak terlihat seperti bangunan yang sudah berusia lebih dari seratus tahun. Ini bukti kualitas pembangunan masa itu,” ujarnya.

Menolak Tua di Era Modern

Kini, kawasan Al-Anbariyah berkembang menjadi salah satu urat nadi yang sangat strategis di Kota Madinah. Masjid ini dikelilingi oleh berbagai fasilitas pelayanan publik, gedung administrasi pemerintahan, serta dilintasi rute utama yang membelah pusat kota.

Di zaman modern ini, Masjid Al-Anbariyah tetap berdiri tegak. Ia merawat memori kolektif kita tentang bagaimana sebuah kekuatan besar dunia Islam pernah mengerahkan segala daya untuk mendekatkan umatnya ke Tanah Suci.

Dari susunan batu hitamnya yang menolak hancur digerus waktu, Masjid Al-Anbariyah akan terus bercerita tentang perpaduan indah antara teknologi, dedikasi, dan kejayaan masa lalu

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Jejak Turki Utsmani dan Kereta Hijaz di Balik Dinding Masjid Al-Anbariyah di Madinah
Jejak Turki Utsmani dan Kereta Hijaz di Balik Dinding Masjid Al-Anbariyah di Madinah
Aktual
4 Perkara yang Akan Dimintai Pertanggungjawaban di Hari Kiamat, Ketahui untuk Siapkan Bekal di Akhirat
4 Perkara yang Akan Dimintai Pertanggungjawaban di Hari Kiamat, Ketahui untuk Siapkan Bekal di Akhirat
Aktual
AHY: Program Renovasi 1.397 Madrasah Jadi Prioritas Presiden Prabowo
AHY: Program Renovasi 1.397 Madrasah Jadi Prioritas Presiden Prabowo
Aktual
Puasa Muharram, Ini Hukum, Niat, Tata Cara, dan Keutamaannya
Puasa Muharram, Ini Hukum, Niat, Tata Cara, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
Sholat Tapi Pikiran Melayang, Diterima atau Tidak? Ini Jawaban Rasulullah tentang Sikap Khusyuk
Sholat Tapi Pikiran Melayang, Diterima atau Tidak? Ini Jawaban Rasulullah tentang Sikap Khusyuk
Aktual
Ketika Nabi Muhammad SAW Mengagumi Iman Umat Muslim yang Hidup Setelah Masanya
Ketika Nabi Muhammad SAW Mengagumi Iman Umat Muslim yang Hidup Setelah Masanya
Aktual
BPJPH Percepat Pengembangan Ekosistem Halal Nasional Lewat Kolaborasi dengan Kampus dan Industri
BPJPH Percepat Pengembangan Ekosistem Halal Nasional Lewat Kolaborasi dengan Kampus dan Industri
Aktual
Indonesia Segera Miliki Mushaf Tulis Tangan Al-Munawwir, Menag Sebut Prestasi Luar Biasa
Indonesia Segera Miliki Mushaf Tulis Tangan Al-Munawwir, Menag Sebut Prestasi Luar Biasa
Aktual
Kabar Gembira, Insentif Guru PAI Non-ASN dan Non-Sertifikasi Tahap II Tahun 2026 Sudah Cair
Kabar Gembira, Insentif Guru PAI Non-ASN dan Non-Sertifikasi Tahap II Tahun 2026 Sudah Cair
Aktual
Delapan Negara Islam Kecam Serangan Pemukim Israel terhadap Warga Palestina di Tepi Barat
Delapan Negara Islam Kecam Serangan Pemukim Israel terhadap Warga Palestina di Tepi Barat
Aktual
Khutbah Jumat 19 Juni 2026: Spirit Hijrah di Tahun Hijriah
Khutbah Jumat 19 Juni 2026: Spirit Hijrah di Tahun Hijriah
Aktual
Khutbah Jumat 19 Juni 2026: Rahasia Kemuliaan Hari Asyura 10 Muharram
Khutbah Jumat 19 Juni 2026: Rahasia Kemuliaan Hari Asyura 10 Muharram
Aktual
72 Aduan Travel Umrah Masuk Kemenhaj, Ini Kasus yang Berhasil Dimediasi
72 Aduan Travel Umrah Masuk Kemenhaj, Ini Kasus yang Berhasil Dimediasi
Aktual
Jamaah Haji Pamekasan Wafat di Tanah Suci, Kemenag Dampingi Ahli Waris Urus Santunan
Jamaah Haji Pamekasan Wafat di Tanah Suci, Kemenag Dampingi Ahli Waris Urus Santunan
Aktual
Kebun Kurma Abdurrahman Bin Auf,  Wisata Kurma Sambil Menapaki Jejak Sahabat Rasul di Madinah
Kebun Kurma Abdurrahman Bin Auf, Wisata Kurma Sambil Menapaki Jejak Sahabat Rasul di Madinah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com